Depresi

OlehWilliam Coryell, MD, University of Iowa Carver College of Medicine
Ditinjau OlehMark Zimmerman, MD, South County Psychiatry
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Jan 2026
v747716_id

Depresi adalah perasaan sedih, hampa, atau mudah tersinggung yang menjadi suatu gangguan ketika cukup berat hingga mengganggu fungsi sehari-hari.

  • Keturunan, efek samping obat, peristiwa yang menimbulkan tekanan emosional, perubahan kadar hormon atau zat lain dalam tubuh, dan faktor lainnya dapat berkontribusi terhadap depresi.

  • Depresi dapat membuat orang sedih dan lesu dan/atau kehilangan minat dan kesenangan dalam aktivitas yang biasanya mereka nikmati.

  • Dokter mendasarkan diagnosis pada tanda dan gejala.

  • Medikasi antidepresan, psikoterapi, dan terkadang terapi elektrokonvulsif dapat membantu.

(Lihat juga Gambaran Umum Gangguan Suasana Hati.)

Depresi adalah gangguan kesehatan mental kedua yang paling umum (kecemasan adalah yang paling umum). Sekitar 13% orang yang mengunjungi dokter layanan primer memenuhi kriteria diagnosis depresi berat.

Depresi biasanya berkembang pada masa remaja akhir, usia 20-an, atau 30-an, meskipun dapat dimulai pada hampir semua usia, termasuk masa kanak-kanak (lihat juga Gangguan Depresi dan Disregulasi Suasana Hati pada Anak dan Remaja).

Episode depresi, jika tidak diobati, biasanya berlangsung sekitar 6 bulan tetapi terkadang berlangsung selama 2 tahun atau lebih. Episode cenderung berulang beberapa kali seumur hidup.

Orang-orang sering menggunakan istilah “depresi” untuk menggambarkan suasana hati yang sedih atau putus asa yang diakibatkan oleh peristiwa yang menyedihkan secara emosional, seperti bencana alam, penyakit serius, atau kematian orang yang dicintai. Orang mungkin juga mengatakan bahwa mereka merasa “tertekan” pada waktu-waktu tertentu, seperti saat liburan (holiday blues) atau pada hari ulang tahun kematian orang yang dicintai. Namun, perasaan tersebut biasanya tidak menunjukkan adanya gangguan. Biasanya, perasaan duka, keputusasaan, dan kekecewaan ini bersifat sementara, berlangsung beberapa hari, bukan berminggu-minggu atau berbulan-bulan, dan muncul dalam gelombang yang sering kali terkait dengan pikiran atau pengingat akan peristiwa yang menyedihkan tersebut. Selain itu, perasaan-perasaan ini tidak secara substansial mengganggu fungsi dalam waktu lama.

Depresi memengaruhi banyak orang lanjut usia. Beberapa lansia mengalami depresi di awal kehidupan mereka. Sebagian lainnya mengalaminya untuk pertama kali pada usia lanjut.

Penyebab Depresi pada Lansia

Beberapa penyebab depresi mungkin lebih sering terjadi pada lansia. Misalnya, lansia mungkin lebih besar kemungkinannya untuk mengalami peristiwa yang menyedihkan secara emosional yang melibatkan kehilangan, seperti kematian orang yang dicintai atau kehilangan lingkungan yang akrab, seperti ketika pindah dari lingkungan yang akrab. Sumber stres lainnya, seperti berkurangnya pendapatan, memburuknya penyakit kronis, hilangnya kemandirian secara bertahap, atau isolasi sosial, juga dapat berkontribusi.

Gangguan yang dapat menyebabkan depresi adalah hal yang umum terjadi pada lansia. Gangguan tersebut meliputi kanker, serangan jantung, gagal jantung, gangguan tiroid, stroke, demensia, dan penyakit Parkinson.

Depresi Versus Demensia

Pada lansia, depresi dapat menyebabkan gejala yang menyerupai demensia: berpikir lebih lambat, konsentrasi menurun, kebingungan, dan kesulitan mengingat, alih-alih rasa sedih yang cenderung dikaitkan dengan depresi. Meskipun demikian, dokter dapat membedakan depresi dari demensia karena jika depresi diobati, orang yang mengalami depresi akan mendapatkan kembali fungsi mentalnya. Sedangkan orang yang menderita demensia tidak mendapatkan kembali fungsi mentalnya. Selain itu, penderita depresi mungkin mengeluh tentang hilangnya memori mereka dan jarang melupakan kejadian penting saat ini atau masalah pribadi. Sebaliknya, orang dengan demensia sering menyangkal kehilangan memori.

Diagnosis Depresi pada Lansia

Depresi sering kali sulit untuk didiagnosis pada lansia karena beberapa alasan:

  • Gejalanya mungkin kurang terlihat karena orang dewasa yang lebih tua mungkin tidak bekerja atau mungkin memiliki interaksi sosial yang lebih sedikit.

  • Sebagian orang percaya bahwa depresi adalah kelemahan dan enggan memberi tahu siapa pun bahwa mereka mengalami kesedihan atau gejala lainnya.

  • Tidak adanya emosi dapat ditafsirkan sebagai ketidakpedulian dan bukan depresi.

  • Anggota keluarga dan teman mungkin menganggap gejala-gejala orang yang mengalami depresi sebagai sesuatu yang wajar seiring bertambahnya usia.

  • Gejalanya dapat dikaitkan dengan gangguan lain, seperti demensia.

Depresi dapat sulit dikenali, oleh karena itu banyak dokter yang secara rutin mengajukan pertanyaan kepada lansia tentang suasana hati mereka. Anggota keluarga harus waspada terhadap perubahan kecil dalam kepribadian, terutama kurangnya antusiasme dan spontanitas, kehilangan rasa humor, dan menjadi pelupa.

Penyebab dan Faktor Risiko untuk Depresi

Penyebab pasti depresi tidak jelas, tetapi sejumlah faktor dapat membuat depresi lebih mungkin terjadi. Faktor risiko meliputi

  • Kecenderungan keluarga (keturunan)

  • Peristiwa yang menimbulkan tekanan emosional, terutama yang melibatkan kehilangan

  • Berjenis kelamin perempuan

  • Gangguan medis umum tertentu

  • Efek samping obat-obatan tertentu

Depresi tidak mencerminkan kelemahan karakter atau kurangnya upaya untuk merasa lebih baik. Kelas sosial, ras, dan budaya tampaknya tidak memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami depresi selama hidupnya.

Faktor genetik berkontribusi terhadap depresi pada sekitar sepertiga hingga setengah dari orang yang mengalaminya. Sebagai contoh, depresi lebih umum terjadi di antara saudara kandung, orang tua, dan anak-anak (terutama pada anak kembar identik) dari orang yang mengalami depresi. Faktor genetik dapat memengaruhi fungsi zat yang membantu sel saraf berkomunikasi (neurotransmiter). Serotonin, dopamin, norepinefrin, glutamat, dan asetilkolin adalah neurotransmiter yang mungkin terlibat dalam depresi.

Faktor lain mencakup sistem hormon yang mengatur kelenjar tiroid, adrenal, dan hipofisis; pengaruh lingkungan yang dapat mengaktifkan atau menonaktifkan gen tertentu, seperti paparan trauma masa kanak-kanak yang berulang; serta stres kehidupan yang signifikan, seperti kehilangan orang yang dicintai.

Wanita lebih cenderung mengalami depresi daripada pria, meskipun alasannya tidak sepenuhnya jelas. Dari faktor fisik, hormon adalah yang paling terlibat. Perubahan kadar hormon dapat menyebabkan perubahan suasana hati sesaat sebelum menstruasi (sebagai bagian dari sindrom pramenstruasi), selama kehamilan, setelah persalinan, dan selama menopause. Beberapa wanita mengalami depresi selama kehamilan atau selama 4 minggu pertama setelah melahirkan (disebut baby blues atau, jika depresi lebih serius, depresi pascapartum). Fungsi tiroid abnormal, yang cukup umum terjadi pada wanita, juga dapat menjadi faktor penyebabnya.

Orang-orang transgender dan nonbiner tampaknya memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang cisgender.

Gangguan suasana hati juga dapat berhubungan dengan perubahan musim. Sebagai contoh, banyak orang yang merasa lebih sedih di akhir musim gugur dan musim dingin dan menyalahkan kecenderungan ini pada pemendekan waktu siang hari dan suhu yang lebih dingin. Namun demikian, pada sebagian orang, kesedihan tersebut cukup parah untuk dianggap sebagai jenis depresi (disebut gangguan afektif musiman).

Depresi dapat terjadi dengan atau disebabkan oleh sejumlah gangguan dan faktor medis umum. Gangguan ini dapat menyebabkan depresi secara langsung (seperti ketika gangguan tiroid memengaruhi kadar hormon) atau tidak langsung (seperti ketika artritis reumatoid menyebabkan nyeri dan disabilitas). Sering kali, gangguan baik secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan depresi. Sebagai contoh, infeksi human immunodeficiency virus (HIV) stadium lanjut dapat merusak otak dan secara langsung menyebabkan depresi. Bentuk infeksi HIV yang kurang parah juga dapat menyebabkan depresi secara tidak langsung dengan memberikan dampak negatif secara keseluruhan terhadap kehidupan seseorang, sejak diagnosis hingga infeksi berkembang lanjut.

Penggunaan beberapa obat resep, seperti beberapa penyekat beta (digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi), dapat menyebabkan depresi. Untuk alasan yang belum diketahui, steroid (juga disebut kortikosteroid atau glukokortikoid) sering menyebabkan depresi ketika tubuh memproduksinya dalam jumlah besar sebagai bagian dari suatu gangguan (seperti pada sindrom Cushing), tetapi bila diberikan sebagai obat, steroid cenderung menyebabkan hipomania (bentuk mania yang lebih ringan) ataumania meskipun jarang terjadi. Terkadang menghentikan obat dapat menyebabkan depresi sementara.

Sejumlah gangguan kesehatan mental dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi. Gangguan ini meliputi gangguan kecemasan tertentu, gangguan penggunaan alkohol, gangguan penggunaan zat lain, dan skizofrenia. Orang yang pernah mengalami depresi lebih mungkin untuk mengalaminya lagi.

Peristiwa emosional yang menyedihkan, seperti kehilangan orang tercinta, serta kesulitan kronis, seperti yang disebabkan oleh perundungan, tekanan sosial-ekonomi, dan pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan, terkadang dapat memicu depresi. Namun, depresi biasanya hanya terlihat pada orang yang memang memiliki kerentanan terhadap kondisi tersebut, misalnya mereka yang memiliki anggota keluarga dengan depresi. Depresi dapat muncul atau memburuk tanpa adanya tekanan hidup yang jelas atau signifikan.

Tabel
Tabel

Gejala Depresi

Gejala depresi biasanya berkembang secara bertahap selama berhari-hari atau berminggu-minggu dan dapat sangat bervariasi. Misalnya, seseorang yang mengalami depresi dapat terlihat lamban dan sedih atau mudah marah dan cemas.

Banyak orang yang depresi tidak dapat mengalami emosi—termasuk berduka, kegembiraan, dan kesenangan—secara normal. Dunia mungkin tampak tidak berwarna dan tidak bernyawa. Mereka kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang biasanya mereka nikmati.

Orang dengan depresi mungkin disibukkan dengan perasaan bersalah dan rendah diri yang intens dan mungkin tidak dapat berkonsentrasi. Mereka mungkin mengalami perasaan putus asa, kesepian, dan tidak berharga. Mereka sering ragu-ragu dan menarik diri, merasa tidak berdaya dan putus asa, dan memikirkan tentang kematian dan bunuh diri.

Kebanyakan orang dengan depresi mengalami kesulitan tidur dan terbangun berulang kali, terutama di pagi hari. Sebagian orang yang mengalami depresi tidur lebih banyak dari biasanya.

Nafsu makan yang buruk dan penurunan berat badan dapat menyebabkan badan menjadi kurus, dan pada wanita, periode menstruasi dapat terhenti. Meskipun demikian, makan berlebihan dan penambahan berat badan banyak terjadi pada orang-orang yang mengalami depresi ringan.

Sebagian orang dengan depresi mengabaikan kebersihan pribadi atau bahkan anak-anak mereka, orang-orang yang mereka cintai, atau hewan peliharaan. Beberapa mengeluhkan menderita penyakit fisik, dengan berbagai rasa sakit dan nyeri.

Gangguan depresi berat

Orang dengan gangguan depresi berat (secara resmi disebut gangguan depresi unipolar) mengalami depresi hampir setiap hari selama setidaknya 2 minggu. Gejala spesifik meliputi suasana hati tertekan, penurunan atau peningkatan berat badan, kelelahan, gangguan tidur, gerakan gelisah atau melambat, perasaan tidak berharga atau rasa bersalah, kesulitan berpikir, serta ide atau perilaku bunuh diri. Mata mereka mungkin penuh dengan air mata, alis mereka mungkin berkerut, dan sudut mulut mereka terlihat sedih. Mereka mungkin akan menunduk dan menghindari kontak mata. Mereka mungkin hampir tidak bergerak, menunjukkan sedikit ekspresi wajah, dan berbicara dengan nada monoton.

Tahukah Anda...

  • Depresi melibatkan lebih dari sekadar perasaan sedih sepanjang waktu: Orang mungkin merasa tidak berharga dan bersalah, kehilangan minat pada kesenangan normal mereka, mengalami masalah tidur, atau menurunkan atau menambah berat badan.

Gangguan depresi persisten

Orang dengan gangguan depresi persisten telah mengalami depresi hampir sepanjang waktu selama 2 tahun atau lebih.

Gejalanya dimulai secara bertahap, sering kali selama masa remaja, dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau beberapa dekade. Gejala-gejala ini meliputi suasana hati tertekan, kelelahan, perubahan nafsu makan, gangguan tidur, gerakan gelisah atau melambat, harga diri rendah, perasaan putus asa, serta kesulitan berpikir. Berapa banyak gejala yang ada pada satu waktu bervariasi, dan terkadang gejalanya kurang parah dibandingkan dengan yang mengalami depresi berat.

Orang dengan gangguan ini mungkin murung, pesimis, skeptis, tidak humoris, dan sangat kritis. Beberapa orang pasif, tidak memiliki energi, dan menyendiri. Beberapa orang terus mengeluh dan cepat mengkritik orang lain dan mencela diri mereka sendiri. Mereka mungkin disibukkan dengan ketidakmampuan, kegagalan, dan peristiwa negatif, terkadang sampai menikmati kegagalan mereka sendiri.

Gangguan disforik pramenstruasi

Gejala yang parah terjadi sebelum sebagian besar periode menstruasi dan menghilang setelah periode menstruasi berakhir. Gejala-gejala tersebut menyebabkan tekanan yang substansial dan/atau sangat mengganggu fungsi. Gejalanya mirip dengan sindrom pramenstruasi, tetapi lebih parah, menyebabkan tekanan yang besar dan mengganggu fungsi di tempat kerja dan interaksi sosial.

Gangguan disforia pramenstruasi dapat muncul pertama kali kapan saja setelah periode menstruasi pertama. Ini dapat memburuk saat wanita mendekati menopause tetapi berakhir setelah menopause. Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 hingga 6% wanita yang sedang menstruasi.

Wanita dengan gangguan disforik pramenstruasi mengalami perubahan suasana hati, tiba-tiba menjadi sedih dan menangis. Mereka mudah tersinggung dan mudah marah. Mereka merasa sangat depresi, putus asa, cemas, dan gelisah. Mereka mungkin merasa kewalahan atau di luar kendali.

Seperti jenis depresi lainnya, wanita dengan gangguan ini dapat kehilangan minat dalam aktivitas biasa mereka, mengalami kesulitan berkonsentrasi, dan merasa lelah dan tanpa energi. Mereka mungkin makan terlalu banyak dan menginginkan makanan tertentu. Mereka mungkin tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak.

Gejala fisik seperti nyeri sendi, perasaan kembung, nyeri payudara, atau penambahan berat badan juga dapat terjadi.

Gangguan berduka yang berkepanjangan

Berduka yang berkepanjangan adalah kesedihan terus-menerus setelah kehilangan orang yang dicintai. Hal ini berbeda dengan depresi karena kesedihan secara khusus berkaitan dengan kehilangan, bukan perasaan kesedihan dan kegagalan yang lebih umum terkait dengan depresi.

Duka yang berkepanjangan dianggap ada ketika kesedihan (seperti yang ditunjukkan oleh kerinduan atau keinginan yang terus-menerus dan/atau terobsesi dengan almarhum) berlangsung lama (setidaknya 12 bulan), dialami dalam waktu yang lama, dan lebih dalam daripada apa yang dianggap biasa oleh budaya seseorang. Hal ini juga harus disertai dengan 3 atau lebih dari yang berikut ini selama setidaknya 1 bulan hingga tingkat yang menyebabkan kesulitan atau kecacatan:

  • Perasaan kebingungan identitas (misalnya, merasa bahwa sebagian dari diri sendiri telah meninggal)

  • Tidak percaya tentang kematian

  • Menghindari pengingat akan kehilangan

  • Rasa sakit emosional yang hebat (misalnya, rasa sakit yang berhubungan dengan kematian)

  • Kesulitan untuk terlibat dalam kehidupan yang berkelanjutan

  • Perasaan mati rasa

  • Perasaan tidak berarti

  • Kesepian yang intens

Gangguan dan kondisi lain yang dikaitkan dengan gangguan depresi meliputi penggunaan zat dan peningkatan kerentanan terhadap kanker dan gangguan kardiovaskular.

Penggunaan zat

Orang dengan depresi cenderung menggunakan alkohol atau obat-obatan terlarang untuk membantu mereka tidur atau mengurangi rasa cemas. Meskipun demikian, depresi menyebabkan gangguan penggunaan alkohol atau gangguan penggunaan zat lain yang lebih jarang dari yang pernah diperkirakan sebelumnya.

Orang-orang juga cenderung banyak merokok dan mengabaikan kesehatan mereka. Dengan demikian, risiko berkembangnya atau memburuknya gangguan lain, seperti penyakit paru obstruktif kronis, meningkat.

Efek depresi lainnya

Depresi dapat mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk merespons penyusup asing atau berbahaya, seperti mikroorganisme atau sel kanker. Akibatnya, orang dengan depresi mungkin lebih mungkin terkena infeksi.

Depresi meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah (seperti serangan jantung) dan stroke. Alasannya mungkin karena depresi menyebabkan perubahan fisik tertentu yang meningkatkan risiko ini. Sebagai contoh, tubuh memproduksi lebih banyak zat yang membantu pembekuan darah (faktor pembekuan), dan jantung kurang mampu mengubah seberapa cepat jantung berdetak sebagai respons terhadap situasi yang berbeda.

Skrining untuk Depresi

Seorang dokter dapat meminta seseorang untuk mengisi kuesioner standar guna membantu mengidentifikasi depresi dan menentukan seberapa parahnya, tetapi kuesioner tersebut tidak dapat digunakan sendiri untuk mendiagnosis depresi. Dua kuesioner tersebut adalah Kuesioner Kesehatan Pasien-9 (PHQ-9) dan Inventaris Depresi Beck. Untuk lansia, terdapat kuesioner Skala Depresi Geriatrik. Dokter juga bertanya kepada mereka apakah mereka memiliki pikiran atau rencana untuk melukai diri sendiri. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa depresi itu parah.

Diagnosis Depresi

  • Evaluasi dokter, berdasarkan kriteria diagnostik psikiatri standar

  • Tes untuk mengidentifikasi gangguan yang dapat menyebabkan depresi

Dokter biasanya dapat mendiagnosis depresi berdasarkan gejala. Dokter menggunakan daftar gejala (kriteria) spesifik untuk mendiagnosis berbagai jenis gangguan depresi. Untuk membantu membedakan depresi dari perubahan suasana hati yang biasa, dokter menentukan apakah gejalanya menyebabkan tekanan yang signifikan atau mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi. Riwayat depresi sebelumnya atau riwayat depresi keluarga membantu mendukung diagnosis.

Kekhawatiran yang berlebihan, serangan panik, dan obsesi adalah hal yang umum terjadi pada depresi dan dapat membuat dokter salah mengira bahwa orang tersebut memiliki gangguan kecemasan.

Pada lansia, depresi mungkin sulit diketahui, terutama jika mereka tidak bekerja atau memiliki sedikit interaksi sosial (lihat ). Selain itu, depresi dapat disalahartikan sebagai demensia karena dapat menyebabkan gejala serupa, seperti kebingungan dan kesulitan berkonsentrasi dan berpikir dengan jelas. Meskipun demikian, jika gejala tersebut disebabkan oleh depresi, gejala tersebut akan hilang jika depresi diobati. Jika demensia menjadi penyebabnya, demensia tidak dapat diatasi.

Pengujian

Tidak ada tes yang dapat mengonfirmasi depresi. Namun demikian, tes laboratorium dapat membantu dokter menentukan apakah depresi disebabkan oleh gangguan hormonal atau gangguan fisik lainnya. Misalnya, tes darah biasanya dilakukan untuk mendeteksi gangguan tiroid atau defisiensi vitamin. Tes dapat dilakukan untuk mendeteksi penggunaan obat terlarang.

Pemeriksaan neurologis menyeluruh dilakukan untuk memeriksa adanya penyakit Parkinson, yang menyebabkan beberapa gejala yang sama.

Orang yang mengalami gangguan tidur yang parah mungkin perlu menjalani tes tidur (polisomnografi) untuk membedakan gangguan tidur dari depresi.

Pengobatan Depresi

  • Dukungan

  • Psikoterapi

  • Obat-obatan, terutama antidepresan

  • Kadang-kadang terapi elektrokonvulsif atau stimulasi magnetik transkranial

Sebagian besar orang yang mengalami depresi tidak memerlukan rawat inap. Namun demikian, sebagian orang harus dirawat di rumah sakit, terutama jika mereka mempertimbangkan untuk bunuh diri atau telah mencobanya, masih lemah karena penurunan berat badan, atau berisiko mengalami gangguan jantung karena agitasi yang parah.

Pengobatan bergantung pada tingkat keparahan dan jenis depresi:

  • Depresi ringan: Dukungan (termasuk kunjungan dokter dan pendidikan yang sering) dan psikoterapi

  • Depresi sedang hingga berat: Obat-obatan, psikoterapi, atau keduanya dan terkadang terapi elektrokonvulsif

  • Depresi musiman: Fototerapi

  • Gangguan berduka yang berkepanjangan: Psikoterapi yang disesuaikan dengan gangguan ini

Depresi biasanya dapat berhasil diobati. Jika penyebabnya (seperti obat atau gangguan lain) dapat diidentifikasi, maka akan dikoreksi terlebih dahulu, tetapi obat untuk mengatasi depresi mungkin juga diperlukan.

Dukungan

Dokter menjelaskan kepada penderita depresi dan anggota keluarga mereka bahwa depresi memiliki penyebab fisik dan memerlukan perawatan khusus, yang biasanya efektif. Dokter meyakinkan mereka bahwa depresi tidak mencerminkan cacat karakter, seperti kelemahan. Penting bagi anggota keluarga untuk memahami gangguan tersebut, terlibat dalam pengobatan, dan memberikan dukungan.

Mempelajari tentang depresi dapat membantu seseorang memahami dan menangani gangguan ini. Sebagai contoh, orang belajar bahwa jalan menuju pemulihan sering kali tidak mulus dan episode kesedihan serta pikiran gelap dapat berulang tetapi akan berhenti. Dengan demikian, orang dapat memandang setiap kemunduran secara lebih proporsional dan lebih mungkin untuk melanjutkan pengobatan serta tidak menyerah.

eMenjadi lebih aktif—berjalan-jalan dan berolahraga secara teratur—dapat membantu, begitu juga berinteraksi lebih banyak dengan orang lain.

Kelompok-kelompok pendukung (seperti Depression and Bipolar Support Alliance—DBSA) dapat membantu menyediakan forum untuk berbagi pengalaman dan perasaan yang sama.

Psikoterapi

Psikoterapi saja dapat sama efektifnya dengan obat-obatan untuk depresi ringan. Jika digunakan bersama obat-obatan, psikoterapi dapat berguna untuk depresi berat.

Psikoterapi individu atau kelompok dapat membantu penderita depresi secara bertahap melanjutkan tanggung jawab sebelumnya dan beradaptasi dengan tekanan kehidupan normal. Terapi antarpribadi berfokus pada peran sosial orang tersebut di masa lalu dan saat ini, mengidentifikasi masalah dengan cara orang tersebut berinteraksi dengan orang lain, dan memberikan panduan saat orang tersebut menyesuaikan diri dengan perubahan dalam peran kehidupan. Terapi perilaku kognitif dapat membantu mengubah keputusasaan dan pikiran negatif. Terapi berbasis mindfulness, yang mengintegrasikan kesadaran diri ke dalam terapi perilaku kognitif, serta terapi psikodinamik, yang berfokus pada konflik bawah sadar dan pengalaman masa kanak-kanak awal, merupakan jenis psikoterapi lain yang digunakan untuk orang dengan depresi.

Obat-obatan untuk depresi

Beberapa jenis antidepresan tersedia (lihat tabel ). Obat-obat tersebut antara lain:

Terapi elektrokonvulsif

Terapi elektrokonvulsif (di masa lalu kadang disebut terapi kejut) terkadang digunakan untuk mengobati orang dengan depresi berat, termasuk mereka yang mengalami psikosis, serta mereka yang mengancam bunuh diri atau menolak makan. Terapi ini juga digunakan untuk mengobati depresi selama kehamilan ketika obat-obatan tidak efektif.

Jenis terapi ini biasanya sangat efektif dan dapat meredakan depresi dengan cepat, tidak seperti kebanyakan antidepresan, yang dapat memakan waktu hingga beberapa minggu. Kecepatannya dalam memberikan efek dapat menyelamatkan nyawa. Setelah terapi elektrokonvulsif dihentikan, episode depresi dapat kambuh. Untuk membantu mencegahnya, dokter sering meresepkan antidepresan.

Untuk terapi elektrokonvulsif, elektroda dipasang di kepala, dan arus listrik dialirkan untuk menyebabkan kejang di otak. Untuk alasan yang tidak dipahami, kejang meredakan depresi. Biasanya diberikan minimal 6 sampai 10 pengobatan (1 pengobatan setiap dua hari sekali).

Arus listrik dapat menyebabkan kontraksi otot dan nyeri, oleh karena itu anestesi umum singkat diperlukan selama pengobatan. Terapi elektrokonvulsif dapat menyebabkan kehilangan memori sementara dan, jarang, kehilangan memori permanen.

Fototerapi (terapi cahaya)

Fototerapi menggunakan kotak terapi cahaya adalah pengobatan yang paling efektif untuk depresi musiman, tetapi dapat membantu untuk jenis gangguan depresi lainnya.

Fototerapi melibatkan duduk pada jarak tertentu dari kotak cahaya yang memberikan cahaya dengan intensitas yang diperlukan. Seseorang diperintahkan untuk tidak melihat langsung ke cahaya dan tetap berada di depan cahaya selama 30 hingga 60 menit sehari. Fototerapi dapat dilakukan di rumah.

Jika orang tidur larut dan bangun siang, fototerapi paling efektif dilakukan pada pagi hari dan terkadang dilengkapi dengan paparan tambahan selama 5 hingga 10 menit antara pukul 15.00 dan 19.00. Jika orang tidur lebih awal dan bangun lebih awal, fototerapi paling efektif dilakukan antara sore hari hingga awal malam.

Terapi lainnya

Psikostimulan, seperti dekstromfetamin dan metilfenidat, serta obat-obatan lain, kadang-kadang digunakan, sering kali dengan antidepresan. Psikostimulan digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran mental.

Suplemen herbal St. John’s wort terkadang digunakan untuk meredakan depresi ringan hingga sedang, meskipun penelitian belum membuktikan efektivitasnya untuk mengobati depresi berat. Mengingat interaksi yang berpotensi berbahaya antara St John's wort dan banyak obat resep, orang yang tertarik untuk mengonsumsi suplemen herbal ini perlu mendiskusikan kemungkinan interaksi obat dengan dokter mereka.

Terapi lain yang menstimulasi otak dapat dicoba jika pengobatan awal tidak efektif. Ini meliputi

  • Stimulasi magnetik transkranial berulang

  • Stimulasi saraf vagus

  • Stimulasi otak dalam

Sel-sel yang terstimulasi diperkirakan melepaskan pembawa pesan kimiawi (neurotransmiter), yang membantu mengatur suasana hati dan dengan demikian dapat meringankan gejala depresi. Terapi ini dapat membantu orang-orang dengan depresi berat yang tidak merespons obat-obatan atau psikoterapi.

Untuk stimulasi magnetik transkranial berulang, kumparan elektromagnetik ditempatkan di dahi dekat area otak yang diduga terlibat dalam mengatur suasana hati. Elektromagnet menghasilkan pulsa magnetik tanpa rasa sakit yang menurut para dokter dapat menstimulasi sel-sel saraf di area otak yang ditargetkan. Efek samping yang paling umum adalah sakit kepala dan ketidaknyamanan kulit kepala di dekat tempat kumparan dipasang.

Untuk stimulasi saraf vagus, alat yang terlihat seperti alat pacu jantung (stimulator saraf vagus) ditanamkan di bawah tulang selangka kiri dan dihubungkan ke saraf vagus di leher dengan kabel yang membentang di bawah kulit. (Sepasang saraf vagus berjalan dari batang otak, yang terletak di dekat dasar tengkorak, melalui leher dan turun ke setiap sisi dada dan perut ke organ-organ tubuh, seperti jantung dan paru-paru.) Alat diprogram untuk menstimulasi secara berkala saraf vagus dengan sinyal listrik tanpa rasa sakit. Terapi ini mungkin berguna untuk depresi ketika pengobatan lain tidak efektif, tetapi biasanya memerlukan waktu 3 hingga 6 bulan untuk mulai bekerja. Efek samping dari stimulasi saraf vagus termasuk suara serak, batuk, dan suara yang semakin dalam ketika saraf distimulasi.

Stimulasi otak dalam, yang menggunakan elektrode implan untuk menargetkan area otak tertentu yang berperan dalam pengaturan emosional dan respons biologis otomatis yang terkait dengan emosi, memberikan hasil yang menjanjikan.

Informasi Lebih Lanjut

Sumber daya berbahasa Inggris berikut ini mungkin berguna. Harap diperhatikan bahwa Manual ini tidak bertanggung jawab atas konten sumber daya ini.

  1. Depression and Bipolar Support Alliance (DBSA), Depression

  2. Mental Health America (MHA), Depression

  3. National Alliance on Mental Illness (NAMI), Depression

  4. National Institutes of Mental Health (NIMH), Depression

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!