Gambaran Umum Infeksi Virus

OlehLaura D Kramer, PhD, Wadsworth Center, New York State Department of Health
Ditinjau OlehBrenda L. Tesini, MD, University of Rochester School of Medicine and Dentistry
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Jan 2025
v38421434_id

Suatu virus tersusun atas materi genetik yang disebut asam nukleat, baik DNA atau RNA, yang dikelilingi oleh suatu lapisan protein. Virus membutuhkan sel hidup untuk memperbanyak diri. Infeksi virus dapat menyebabkan spektrum gejala, mulai dari asimtomatik (tanpa gejala yang jelas) hingga penyakit yang parah.

  • Orang dapat terjangkit virus dengan cara menelan atau menghirupnya, digigit serangga, melalui kontak seksual, atau secara kongenital (ditularkan oleh perempuan hamil kepada janin).

  • Umumnya, infeksi virus melibatkan hidung, tenggorokan, dan jalan napas atas, atau sistem seperti sistem saraf, gastrointestinal, dan reproduksi.

  • Diagnosis dapat dibuat oleh dokter berdasarkan gejala, hasil tes darah dan kultur, atau pemeriksaan jaringan yang terinfeksi.

  • Obat antivirus dapat mengganggu reproduksi virus atau memperkuat respons imun terhadap infeksi virus.

Virus adalah organisme menular berukuran kecil—jauh lebih kecil dari jamur atau bakteri—yang harus menyerang sel hidup untuk memperbanyak diri (bereplikasi). Virus menempel pada sel (disebut sel inang), memasuki sel, dan melepaskan DNA atau RNA di dalam sel. DNA atau RNA virus adalah materi genetik yang mengandung informasi yang diperlukan untuk mereplikasi virus. Materi genetik virus mengendalikan sel inang dan memaksanya untuk mereplikasi virus. Sel yang terinfeksi biasanya mati karena virus menghalangi sel tersebut untuk melakukan fungsi normalnya. Ketika sel inang yang terinfeksi mati, sel inang melepaskan virus baru, yang kemudian menginfeksi sel lain.

Virus diklasifikasikan sebagai virus DNA atau virus RNA, bergantung pada penggunaan DNA atau RNA oleh virus tersebut untuk bereplikasi. Virus DNA mencakup virus herpes. Virus RNA termasuk SARS-CoV2, yang menyebabkan COVID-19. Virus RNA juga termasuk retrovirus, seperti HIV (virus imunodefisiensi manusia). Virus RNA, terutama retrovirus, rentan bermutasi, yang berarti serangkaian instruksi genetik yang berisi semua informasi yang diperlukan virus untuk berfungsi dapat berubah saat virus menyebar.

Beberapa virus tidak mematikan sel yang menginfeksinya tetapi mengubah fungsi sel. Terkadang sel yang terinfeksi kehilangan kontrol atas pembelahan sel normal dan menjadi bersifat kanker.

Beberapa virus, seperti virus hepatitis B dan virus hepatitis C, dapat menyebabkan infeksi kronis. Hepatitis kronis dapat berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Pada banyak orang, hepatitis kronis cukup ringan dan menyebabkan sedikit kerusakan hati. Namun demikian, pada beberapa orang, penyakit ini pada akhirnya menyebabkan sirosis (jaringan parut yang parah pada hati), gagal hati, dan terkadang kanker hati.

Beberapa virus, seperti virus herpes dan virus imunodefisiensi manusia (HIV), meninggalkan materi genetiknya di sel inang, dan materi tersebut akan tetap dorman untuk waktu yang lama (disebut infeksi laten). Ketika sel terganggu, virus dapat mulai bereplikasi lagi dan menyebabkan penyakit.

Tahukah Anda...

  • Virus mengambil alih sel yang diinfeksinya dan menyebabkannya menghasilkan lebih banyak virus.

Virus biasanya menginfeksi satu jenis sel tertentu. Misalnya, virus selesma menginfeksi hanya sel-sel saluran pernapasan atas. Selain itu, sebagian besar virus hanya menginfeksi beberapa spesies tanaman atau hewan. Sebagian virus hanya menginfeksi orang.

Banyak virus yang umumnya menyebabkan infeksi pada bayi dan anak-anak serta lansia.

Jenis infeksi virus

Infeksi saluran pernapasan atas (infeksi hidung, tenggorok, jalan napas atas, dan paru-paru) kemungkinan merupakan infeksi virus yang paling umum.

Infeksi saluran pernapasan atas meliputi nyeri tenggorokan, sinusitis, dan selesma. Infeksi pernapasan virus lainnya meliputi influenza, pneumonia, dan virus corona, termasuk SARS-CoV-2 (virus penyebab COVID-19).

Pada anak-anak kecil, virus juga sering menyebabkan croup (yaitu peradangan jalan napas atas dan bawah, yang disebut laringotrakeobronkitis) atau jalan napas bawah (bronkiolitis).

Infeksi pernapasan lebih cenderung menyebabkan gejala berat pada bayi, lansia, dan orang-orang dengan gangguan paru atau jantung. Virus pernapasan biasanya menyebar dari satu orang kepada orang lain melalui kontak dengan droplet pernapasan yang terinfeksi.

Virus lain menginfeksi bagian tubuh lain yang spesifik:

  • Saluran gastrointestinal: Infeksi saluran gastrointestinal, seperti gastroenteritis, umumnya disebabkan oleh virus, seperti norovirus dan rotavirus.

  • Hati: Infeksi ini menyebabkan hepatitis.

  • Sistem saraf: Beberapa virus, seperti virus rabies dan virus Nil Barat, menginfeksi otak sehingga menyebabkan ensefalitis. Virus lainnya menginfeksi lapisan jaringan yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang (meninges), sehingga menyebabkan meningitis.

  • Kulit: Infeksi virus yang hanya memengaruhi kulit terkadang mengakibatkan kutil atau noda lainnya. Banyak virus yang memengaruhi bagian tubuh lainnya, seperti cacar air, juga menyebabkan ruam.

  • Plasenta dan janin: Beberapa virus, seperti virus Zika, virus rubella, dan sitomegalovirus, dapat menginfeksi plasenta dan janin pada perempuan hamil.

Beberapa virus biasanya memengaruhi banyak sistem tubuh. Virus tersebut mencakup enterovirus (seperti coxsackievirus dan echovirus) dan sitomegalovirus.

Penyebaran virus

Virus disebarkan (ditularkan) dengan berbagai cara. Antara lain dengan cara

  • Tertelan

  • Terhirup

  • Menyebar karena menyentuh benda yang terkontaminasi

  • Menyebar melalui kontak dengan darah yang terinfeksi (seperti selama transfusi darah yang terkontaminasi) atau jaringan yang terinfeksi (misalnya selama transplantasi organ)

  • Disebarkan saat terjadi kontak seksual (pada infeksi menular seksual)

  • Disebarkan oleh gigitan serangga, seperti nyamuk, lalat penggigit tertentu, atau caplak

  • Menyebar dari ibu hamil ke janin

Virus manusia baru terkadang muncul dari virus yang biasanya menginfeksi hewan (misalnya, SARS-CoV, yang menyebabkan sindrom pernapasan akut parah (SARS), dan SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19. Infeksi ini terjadi ketika inang hewan yang terinfeksi mengalami kontak erat dengan manusia yang rentan.

Banyak virus yang dulunya hanya ada di beberapa belahan dunia sekarang menyebar. Virus-virus ini meliputi virus chikungunya, virus demam hemoragik Krimea-Kongo, virus ensefalitis Jepang, virus demam Lembah Rift, virus Nil Barat, virus Sungai Ross, virus Zika, dan virus penyakit louping. Virus-virus ini menyebar sebagian karena perubahan iklim telah mengakibatkan makin banyak area yang ideal untuk kehidupan nyamuk atau caplak penyebar virus tersebut. Selain itu, pelaku perjalanan juga dapat terinfeksi, kemudian kembali ke rumah dan digigit oleh nyamuk, yang menyebarkan virus ini kepada orang lain.

Pertahanan terhadap virus

Tubuh memiliki sejumlah pertahanan terhadap virus:

  • Penghalang fisik, seperti kulit, yang mencegah masuk dengan mudah

  • Pertahanan sistem imun, yang menyerang virus

Ketika virus memasuki tubuh, virus akan memicu pertahanan imun tubuh. Pertahanan ini dimulai dengan sel darah putih, seperti limfosit dan monosit, yang belajar menyerang dan menghancurkan virus atau sel yang telah diinfeksi oleh virus. Jika tubuh bertahan dari serangan virus, beberapa sel darah putih mengingat penyerang tersebut dan mampu merespons lebih cepat dan efektif terhadap infeksi berikutnya oleh virus yang sama. Respons ini disebut imunitas. Imunitas juga dapat diproduksi dengan pemberian vaksin.

Virus dan kanker

Beberapa virus mengubah DNA sel inangnya sehingga membantu perkembangan kanker sementara virus lain mengubah sistem imun sehingga kanker lebih mungkin berkembang. Contoh virus yang terkait dengan kanker adalah Human papillomavirus (menyebabkan kanker serviks, vagina, vulva, anal, serta kanker mulut dan tenggorokan) dan HIV (dapat melemahkan sistem imun, meningkatkan risiko kanker seperti kanker serviks atau Kaposi sarkoma).

Hanya beberapa virus yang diketahui menyebabkan kanker, tetapi bisa saja masih ada virus lainnya.

Tabel
Tabel

Diagnosis Infeksi Virus

  • Evaluasi dokter

  • Untuk beberapa infeksi, diperlukan tes darah dan kultur

  • Tes cairan tubuh lainnya (seperti dahak)

Infeksi virus umum (seperti campak, rubella, atau cacar air) dapat didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik.

Untuk infeksi yang terjadi dalam epidemi (seperti influenza), adanya kasus serupa lainnya dapat membantu dokter mengidentifikasi infeksi tertentu. Diagnosis laboratorium penting untuk membedakan antara virus berbeda yang menyebabkan gejala serupa, seperti COVID-19 (SARS-CoV2) dan influenza.

Untuk infeksi lain, tes darah dapat dilakukan terhadap virus itu sendiri dengan teknik reaksi berantai polimerase (PCR), yang membuat banyak salinan materi genetik virus, sehingga memungkinkan untuk dideteksi. Teknik PCR memudahkan dokter untuk mengidentifikasi virus dengan cepat dan akurat. Darah dapat diuji untuk mengetahui adanya antigen, yang merupakan protein pada atau dalam virus yang memicu pertahanan tubuh. Darah juga dapat diuji untuk mengetahui adanya antibodi terhadap virus. (Antibodi adalah protein yang dihasilkan oleh sistem imun untuk membantu melindungi tubuh dari serangan tertentu.) Jenis pengujian ini biasanya dilakukan dengan cepat, terutama jika infeksi merupakan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat atau jika gejalanya parah.

Terkadang dilakukan kultur virus (membiakkan mikroorganisme di laboratorium dari sampel darah, cairan tubuh, atau bahan lain yang diambil dari area yang terinfeksi).

Sampel darah atau jaringan lain terkadang diperiksa dengan mikroskop elektron, yang memberikan pembesaran tinggi untuk membantu mengidentifikasi virus.

Pengobatan Infeksi Virus

  • Penanganan gejalanya

  • Terkadang diberikan obat antivirus

Penanganan gejalanya

Tidak ada pengobatan spesifik untuk banyak virus. Meskipun demikian, banyak hal yang dapat membantu meredakan gejala tertentu, termasuk yang berikut ini:

  • Dehidrasi: Banyak cairan, terkadang diberikan melalui pembuluh vena (secara intravena)

  • Diare: Terkadang diberikan obat antidiare, seperti loperamid

  • Demam dan pegal: Asetaminofen atau obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS)

  • Mual dan muntah: Diet cairan bening dan terkadang obat antiemetik (antimual), seperti ondansetron

  • Beberapa ruam: Krim yang menenangkan atau melembapkan dan terkadang antihistamin yang diberikan secara oral untuk gatal-gatal

  • Pilek: Kadang-kadang dekongestan hidung, seperti fenilefrin atau fenilpropanolamin

  • Nyeri tenggorokan: Terkadang diberikan tablet isap yang mengebaskan tenggorokan yang mengandung benzokain atau diklonin

Tidak semua orang yang mengalami gejala ini membutuhkan pengobatan. Jika gejalanya ringan, mungkin lebih baik menunggu gejala tersebut hilang dengan sendirinya. Beberapa pengobatan mungkin tidak sesuai untuk bayi dan anak kecil.

Obat antivirus

Obat-obatan yang memerangi infeksi virus disebut obat-obatan antivirus. Banyak infeksi virus tidak memiliki obat antivirus yang efektif untuk mengobatinya. Meskipun demikian, terdapat beberapa obat untuk influenza, banyak obat untuk infeksi satu atau lebih virus herpes (lihat tabel ), dan banyak obat antivirus untuk pengobatan HIV, hepatitis C, hepatitis B, dan COVID-19, yang disebabkan oleh SAR-CoV-2.

Banyak obat antivirus bekerja dengan mengganggu replikasi virus. Sebagian besar obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV bekerja dengan cara ini. Karena virus berukuran sangat kecil dan bereplikasi di dalam sel menggunakan fungsi metabolik sel itu sendiri, hanya sejumlah fungsi metabolik yang dapat ditargetkan oleh obat antivirus. Sebaliknya, bakteri adalah organisme yang relatif besar, umumnya berkembang biak sendiri di luar sel, dan memiliki banyak fungsi metabolik yang dapat ditargetkan oleh obat antibakteri (antibiotik). Oleh karena itu, obat-obatan antivirus jauh lebih sulit untuk dikembangkan daripada antibiotik. Selain itu, tidak seperti antibiotik, yang biasanya efektif terhadap berbagai spesies bakteri, sebagian besar obat antivirus biasanya efektif terhadap hanya satu (atau sedikit) virus.

Obat antivirus dapat beracun bagi sel manusia. Selain itu, virus dapat mengalami resistansi terhadap obat antivirus.

Sebagian besar obat antivirus dapat diberikan secara oral. Beberapa juga dapat diberikan melalui injeksi ke dalam pembuluh vena (secara intravena) atau otot (secara intramuskuler). Beberapa obat diaplikasikan sebagai salep, krim, atau obat tetes mata atau dihirup sebagai serbuk.

Antibiotik tidak efektif melawan infeksi virus, tetapi jika seseorang mengalami infeksi bakteri selain infeksi virus, antibiotik sering kali diperlukan.

Interferon adalah replika dari zat alami yang memperlambat atau menghentikan replikasi virus. Obat-obatan ini digunakan untuk mengobati infeksi virus tertentu, seperti

Interferon dapat menimbulkan efek samping, seperti demam, menggigil, lemah, dan nyeri otot. Efek ini biasanya dimulai 7 hingga 12 jam setelah injeksi pertama dan bertahan hingga 12 jam.

Antibodi dari darah orang yang telah pulih dari infeksi virus (serum kovalesens) dan antibodi yang diproduksi di laboratorium dari sel hidup yang telah diubah untuk menghasilkan antibodi yang diinginkan (antibodi monoklonal) digunakan untuk mengobati beberapa infeksi virus, termasuk misalnya, infeksi virus sinsitial pernapasan [RSV] dan rabies.

Pencegahan Infeksi Virus

Pencegahan infeksi virus dapat mencakup

Vaksin dan globulin imun membantu tubuh melindungi diri dari penyakit yang disebabkan oleh virus (atau bakteri) tertentu. Proses penguatan mekanisme pertahanan tubuh disebut imunisasi.

Tindakan umum

Orang dapat membantu mencegah banyak infeksi virus dengan tindakan rutin untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain (tindakan perlindungan pribadi). Langkah-langkah ini bervariasi bergantung pada cara penyebaran virus. Langkah-langkah tersebut meliputi hal berikut:

  • Sering mencuci tangan secara menyeluruh dengan sabun

  • Hanya mengonsumsi makanan dan cairan yang telah dimasak (atau jenis pengolahan makanan tertentu lainnya) atau diolah dengan benar

  • Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi dan permukaan yang terkontaminasi

  • Menutupi bersin dan batuk dengan tisu (yang harus dibuang) atau mengarahkan ke lengan atas, dengan menutupi mulut dan hidung sepenuhnya lalu mencuci tangan sesudahnya

  • Melakukan praktik seks yang lebih aman

  • Mencegah gigitan caplak, nyamuk, dan artropoda lainnya

  • Memakai masker

  • Pembatasan jarak fisik, jika sesuai (misalnya, untuk pencegahan COVID-19)

Vaksin

Vaksin bekerja dengan merangsang mekanisme pertahanan alami tubuh (disebut imunisasi aktif). Vaksin diberikan sebelum terpapar virus untuk mencegah infeksi.

Vaksin virus yang umum digunakan yang berikut ini:

Vaksin Adenovirus, Ebola, cacar variola, dan mpox tersedia, tetapi hanya digunakan pada orang yang berisiko tinggi terinfeksi, seperti personel militer tertentu atau saat terjadi wabah.

Vaksin dengue disetujui untuk digunakan pada anak-anak tertentu yang sebelumnya pernah terinfeksi dengue dan tinggal di daerah endemik dengue.

Penyakit virus dapat diberantas dengan vaksin yang efektif. Cacar variola telah diberantas pada tahun 1978. Vaksinasi yang ekstensif hampir memberantas polio di seluruh dunia, tetapi kasus masih terjadi di wilayah dengan imunisasi yang tidak lengkap, seperti Afrika sub-Sahara dan Asia selatan. Campak hampir diberantas dari beberapa belahan dunia, seperti Amerika. Namun demikian, karena campak sangat menular dan cakupan vaksinasi masih belum lengkap sekalipun di wilayah yang dianggap telah diberantas, maka kemungkinan campak tidak akan dihilangkan sepenuhnya dalam waktu dekat.

Imunisasi pasif

Globulin imun adalah larutan antibodi steril (juga disebut imunoglobulin) yang dikumpulkan dari darah sekelompok individu. Globulin imun diberikan secara langsung kepada seseorang (disebut imunisasi pasif).

Imunoglobulin dapat dikumpulkan dari darah orang-orang berikut ini:

  • Orang-orang yang umumnya sehat (imunoglobulin ini disebut imunoglobulin manusia gabungan)

  • Orang yang memiliki banyak antibodi yang melindungi dari organisme menular spesifik, sering kali karena mereka telah terinfeksi organisme tersebut (imunoglobulin ini disebut globulin hiperimun)

Globulin hiperimun hanya tersedia untuk beberapa penyakit menular, seperti hepatitis B, rabies, tetanus, dan cacar air. Obat ini biasanya diberikan setelah seseorang terpapar mikroorganisme tetapi sebelum mereka jatuh sakit. Misalnya, orang yang telah digigit oleh hewan yang mungkin menderita rabies akan segera diberi globulin hiperimun rabies.

Globulin imun diberikan melalui injeksi ke dalam otot atau pembuluh vena. Imunitas yang diberikan oleh globulin imun hanya berlangsung selama beberapa hari atau minggu, sampai tubuh menghilangkan antibodi yang disuntikkan.

Kadang-kadang, seperti ketika orang terpapar rabies atau hepatitis B, mereka diberi globulin imun dan vaksin untuk membantu mencegah perkembangan infeksi atau mengurangi keparahan infeksi.

Globulin imun juga dapat membantu mengobati beberapa infeksi. Misalnya, globulin imun dapat diberikan kepada orang-orang yang sistem imunnya tidak merespons secara memadai terhadap infeksi (lihat Mengganti bagian sistem imun yang hilang).

Antibodi yang diproduksi di laboratorium dari sel hidup yang telah diubah untuk menghasilkan antibodi yang diinginkan (antibodi monoklonal) juga digunakan untuk mengobati beberapa infeksi virus.

Antibodi monoklonal terhadap RSV harus digunakan untuk mencegah infeksi pada semua bayi yang ibunya tidak menerima vaksin RSV maternal selama kehamilan dan juga direkomendasikan untuk sekelompok kecil anak berusia 8 hingga 19 bulan yang berisiko lebih tinggi mengalami RSV yang parah.

Antibodi monoklonal digunakan untuk mengobati penyakit virus Ebola yang disebabkan oleh ortoebolavirus Zaire.

Antibodi monoklonal terhadap SARS-C0V-2, virus penyebab COVID-19, tersedia bagi orang-orang yang mengalami penurunan imunitas sedang hingga berat dan cenderung tidak memberikan respons imun yang memadai terhadap vaksin COVID-19.

Informasi Lebih Lanjut

Referensi berbahasa Inggris berikut ini mungkin akan berguna. Harap diperhatikan bahwa Manual ini tidak bertanggung jawab atas konten sumber daya ini.

CDC: Virus Sinsitial Pernapasan: Imunisasi untuk Melindungi Bayi

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!