Sirosis Hati

Ditinjau/Direvisi: Mar 2026 OlehTae Hoon Lee, MD, Icahn School of Medicine at Mount Sinai | Ditinjau OlehMinhhuyen Nguyen, MD, Fox Chase Cancer Center, Temple University
Last updated: Mar 2026
v759160_id

Sirosis adalah distorsi struktur internal hati yang meluas, yang terjadi ketika sejumlah besar jaringan hati normal digantikan secara permanen dengan jaringan parut yang tidak berfungsi. Jaringan parut berkembang ketika hati mengalami kerusakan berulang atau terus-menerus. Sirosis dapat pulih dalam beberapa kasus, tetapi kerusakan akibat sirosis biasanya bersifat permanen.

  • Penggunaan alkohol berlebihan secara terus-menerus, hepatitis C virus kronis, dan steatohepatitis terkait disfungsi metabolik (MASH, sebelumnya disebut steatohepatitis nonalkohol atau NASH, perlemakan hati bukan karena penggunaan alkohol) adalah penyebab sirosis yang paling umum.

  • Gejalanya, jika ada, meliputi nafsu makan yang buruk, penurunan berat badan, kelelahan, dan rasa tidak enak badan secara umum.

  • Banyak komplikasi serius, seperti akumulasi cairan di dalam abdomen (asites), perdarahan pada saluran pencernaan, dan penurunan fungsi otak, dapat terjadi.

  • Diagnosis didasarkan pada gejala, hasil pemeriksaan fisik, tes darah, studi pencitraan, dan terkadang biopsi hati.

  • Dokter mengobati komplikasi. Sirosis dapat dipulihkan dalam beberapa kasus, tetapi kerusakan akibat sirosis biasanya bersifat permanen.

  • Orang yang menderita sirosis berisiko terkena kanker hati, sehingga ultrasound dan, jika diperlukan, pencitraan resonansi magnetik (MRI) atau tomografi terkomputasi (CT), dan tes darah dilakukan secara berkala untuk memeriksa kanker.

Sirosis adalah penyebab umum kematian di seluruh dunia dan merupakan penyebab kematian nomor 12 di seluruh dunia pada tahun 2021.

Hati memproses banyak obat-obatan, toksin, dan produk limbah tubuh. Hati memecahnya menjadi zat yang kurang berbahaya dan/atau lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. Hati membuang zat dengan mengeluarkannya dalam bentuk cairan empedu, cairan pencernaan kuning kehijauan yang dihasilkan oleh sel-sel di hati. Ketika hati kurang mampu memprosesnya, zat-zat ini akan terakumulasi dalam aliran darah. Akibatnya, efek dari banyak medikasi dan toksin, termasuk terkadang efek samping yang serius, meningkat. Efek samping tersebut dapat terjadi bahkan ketika orang meminum dosis yang sebelumnya dapat mereka minum tanpa efek buruk. Penggunaan bat-obatan mungkin perlu dihentikan atau digunakan pada dosis yang lebih rendah dan lebih berhati-hati. Beberapa contoh di antaranya adalah opioid dan beberapa obat yang digunakan untuk mengobati kecemasan atau insomnia.

Bilirubin adalah produk limbah tubuh penting yang diproses dan dibuang oleh hati. Jika hati tidak dapat memproses bilirubin dengan cukup cepat, maka bilirubin akan menumpuk di dalam darah dan disimpan di dalam kulit. Hasilnya adalah penyakit kuning (warna kuning pada mata dan kulit).

Di dalam hati, cairan empedu bergerak ke saluran kecil (saluran empedu) yang bergabung membentuk saluran yang lebih besar. Saluran besar ini akhirnya meninggalkan hati dan terhubung ke kantung empedu (yang menyimpan empedu) atau ke usus kecil. Cairan empedu membantu membuat lemak lebih mudah diserap di usus dan membawa toksin serta produk limbah ke dalam usus sehingga dapat diekskresikan ke dalam feses. Ketika jaringan parut menghalangi aliran cairan empedu menuju saluran empedu, lemak, termasuk vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), juga tidak diserap. Selain itu, lebih sedikit toksin dan produk limbah yang dihilangkan dari tubuh.

Biasanya, sebagian besar cairan empedu (garam empedu) diserap kembali ke dalam aliran darah dari usus dan diedarkan kembali ke hati. Hati mengekstrak garam empedu dan menggunakannya kembali. Namun, dalam sirosis, hati tidak dapat mengekstrak garam empedu secara normal. Akibatnya, hati tidak dapat menghasilkan cairan empedu sebanyak biasanya, yang kemudian dapat mengganggu pencernaan dan eliminasi toksin dan produk limbah serta penyerapan lemak dan vitamin yang larut dalam lemak.

Berbagai gangguan, obat-obatan, atau toksin dapat merusak hati. Jika kerusakan terjadi secara tiba-tiba (akut) dan terbatas, hati biasanya memperbaiki dirinya sendiri dengan membuat sel-sel hati baru dan menempelkannya ke jaringan ikat (struktur internal) yang tersisa ketika sel-sel hati mati. Perbaikan dan pemulihan penuh dapat terjadi jika orang dapat bertahan hidup cukup lama. Namun, dengan kerusakan yang berulang, upaya hati untuk mengganti dan memperbaiki jaringan yang rusak menyebabkan jaringan parut (fibrosis hati). Jaringan parut tidak menjalankan fungsi apa pun. Ketika fibrosis meluas dan parah, jaringan parut membentuk pita-pita di seluruh hati, merusak struktur internal hati dan mengganggu kemampuan hati untuk meregenerasi dirinya sendiri dan berfungsi. Jaringan parut yang parah seperti ini disebut sirosis.

Fungsi hati terganggu jika terjadi sirosis, oleh karena itu hati kurang mampu untuk:

  • Menguraikan dan membuang obat-obatan, toksin, dan produk limbah yang dibuat di dalam tubuh

  • Memproses cairan empedu

  • Menghasilkan protein yang membantu pembekuan darah (faktor pembekuan darah)

  • Menghasilkan albumin (protein yang membantu menjaga agar cairan tidak bocor dari pembuluh darah)

Selain mengganggu fungsi hati, jaringan parut juga dapat menghalangi aliran darah ke hati dari vena porta (yang membawa darah dari usus ke hati). Penyumbatan menyebabkan tekanan darah tinggi pada vena porta (hipertensi portal). Hipertensi portal menyebabkan tekanan darah tinggi pada vena yang terhubung ke vena porta, termasuk vena pada lambung, esofagus, limpa, dan rektum.

Saat jaringan parut berkembang, hati menyusut dan menjadi lebih kaku.

Tahukah Anda...

  • Sirosis dapat menyebabkan kulit dan mata berubah menjadi kuning (disebut penyakit kuning).

Penyebab Sirosis

Penyebab sirosis yang paling umum adalah:

Steatohepatitis terkait disfungsi metabolik (MASH) biasanya terjadi pada orang dengan kelebihan berat badan, menderita diabetes atau pradiabetes, dan/atau kolesterol tinggi.

Setiap gangguan, medikasi, atau toksin yang menyebabkan fibrosis (lihat tabel ) dapat menyebabkan sirosis. Beberapa penyebab spesifik meliputi gangguan metabolik herediter tertentu, seperti kelebihan zat besi (hemokromatosis), kelebihan tembaga (penyakit Wilson), dan defisiensi alfa-1 antitripsin, dan gangguan autoimun, seperti hepatitis autoimun, kolangitis bilier primer (PBC) dan kolangitis sklerosis primer (PSC).

Gejala Sirosis

Banyak orang dengan sirosis tidak memiliki gejala dan tampak baik-baik saja selama bertahun-tahun.

Orang lain merasa gejala lelah dan tidak sehat, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan:

  • Ujung jari mereka dapat membesar (disebut jari tabuh).

  • Penyakit kuning dapat berkembang, membuat kulit dan bagian putih mata terlihat kuning dan urine terlihat gelap seperti kola.

  • Ketika lemak dan vitamin yang larut dalam lemak tidak terserap dengan baik, tinja dapat berwarna terang, lembut, besar, tampak berminyak, dan berbau busuk yang tidak biasa (disebut steatorea).

Banyak orang menjadi kurang gizi dan berat badan turun karena kehilangan nafsu makan dan karena lemak dan vitamin kurang diserap. Orang tersebut mungkin mengalami ruam titik kecil berwarna ungu kemerahan atau bercak-bercak yang lebih besar, yang disebabkan oleh perdarahan dari pembuluh darah kecil di kulit.

Jika fungsi hati telah terganggu dalam waktu yang lama, dapat muncul gejala gatal di seluruh tubuh.

Gejala lain dapat terjadi jika sirosis disebabkan oleh penggunaan alkohol secara berlebihan yang kronis atau jika orang mengalami gangguan hati kronis:

  • Otot menyusut (atrofi).

  • Telapak tangan menjadi merah (disebut eritema palmaris).

  • Kuku jari tangan dapat menjadi putih (kuku Terry).

  • Tendon tangan menyusut, menyebabkan jari-jari menekuk (disebut kontraktur Dupuytren).

  • Pembuluh darah kecil seperti laba-laba (spider angioma) muncul di kulit.

  • Kelenjar liur di pipi membesar.

  • Saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang (saraf perifer) mengalami malfungsi (disebut neuropati perifer).

  • Pria mungkin mengalami pembesaran payudara (ginekomastia) dan testis yang menyusut (atrofi testis) karena hati yang rusak tidak dapat memecah estrogen (hormon wanita) seperti biasanya. Rambut di ketiak berkurang.

Beberapa Kemungkinan Gejala Sirosis
Eritema Palmar pada Sirosis

Foto ini menunjukkan warna merah telapak tangan dan ujung jari pada penderita sirosis.

Foto ini menunjukkan warna merah telapak tangan dan ujung jari pada penderita sirosis.

© Springer Science+Business Media

Kuku Terry

Kuku yang sangat putih, sering kali dengan bagian berwarna cokelat hingga merah muda tipis di tepi luar kuku, juga disebut kuku Terry. Ini adalah tanda gagal hati atau ginjal kronis.

Kuku yang sangat putih, sering kali dengan bagian berwarna cokelat hingga merah muda tipis di tepi luar kuku, juga dise

... baca selengkapnya

© Springer Science+Business Media

Kontraktur Dupuytren pada Kelingking

Foto ini menunjukkan kerutan (kontraktur) pada jari kelingking yang disebabkan oleh pengencangan pita jaringan fibrosa (disebut fasia) di sekitar tendon di dalam telapak tangan.

Foto ini menunjukkan kerutan (kontraktur) pada jari kelingking yang disebabkan oleh pengencangan pita jaringan fibrosa

... baca selengkapnya

DR P. MARAZZI/SCIENCE PHOTO LIBRARY

Ginekomastia

Foto ini menunjukkan jaringan payudara yang membesar pada pria dewasa.

Foto ini menunjukkan jaringan payudara yang membesar pada pria dewasa.

Biophoto Associates/PERPUSTAKAAN FOTO SAINS

Komplikasi sirosis

Sirosis lanjut dapat menyebabkan masalah tambahan.

Hipertensi portal

Hipertensi portal (tekanan darah tinggi pada vena porta) merupakan komplikasi serius. Ketika hal ini menyebabkan darah kembali ke vena yang terhubung dengannya, vena ini dapat membesar dan terpuntir (disebut varises). Varises dapat terjadi di ujung bawah kerongkongan (varises esofagus), di dalam lambung (varises lambung), atau di dalam rektum (varises rektum). Vena yang mengalami varises menjadi rapuh dan rentan terhadap perdarahan. Orang dapat muntah darah dalam jumlah besar jika varises esofagus atau lambung berdarah (lihat Perdarahan Gastrointestinal). Jika perdarahan lambat dan berlanjut dalam waktu yang lama, maka dapat menyebabkan anemia. Jika pendarahan cepat dan lebih parah, dapat menyebabkan syok dan kematian.

Asites

Hipertensi portal dengan gangguan fungsi hati dapat menyebabkan akumulasi cairan di dalam abdomen (asites). Akibatnya, abdomen membengkak dan mungkin terasa kencang. Selain itu, cairan dalam abdomen dapat terinfeksi (disebut peritonitis bakteri spontan).

Kegagalan ginjal

Gagal hati pada akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal—kondisi yang disebut sindrom hepatorenal. Dalam sindrom ini, lebih sedikit urine yang dihasilkan dan diekskresikan dari tubuh, sehingga menyebabkan penumpukan zat beracun di dalam darah. Pada akhirnya, orang yang mengalami sindrom hepatorenal mengalami kesulitan bernapas. Masalah ginjal ini dapat menjadi cukup parah sehingga memerlukan dialisis.

Hipertensi paru

Hipertensi portal dapat menyebabkan tekanan darah tinggi di arteri paru-paru (disebut hipertensi paru atau hipertensi portopulmoner). Masalah ini dapat menyebabkan gejala mirip gagal jantung, seperti kesulitan bernapas, terutama saat berbaring, dan kelelahan.

Penurunan fungsi otak

Gagal hati juga dapat menyebabkan fungsi otak memburuk (disebut ensefalopati hepatik) karena hati yang rusak tidak lagi dapat menghilangkan zat beracun dari darah. Zat beracun ini kemudian mengalir melalui aliran darah dan memengaruhi otak.

Kelainan perdarahan

Sirosis menyebabkan masalah lain yang dapat mengganggu cara pembekuan darah (gangguan pembekuan darah). Beberapa masalah membuat orang lebih cenderung berdarah. Misalnya, limpa dapat membesar. Limpa yang membesar dapat memerangkap sel darah dan trombosit. Dengan demikian, lebih sedikit jumlah trombosit (yang membantu pembekuan darah) dalam aliran darah. Selain itu, hati yang rusak kurang mampu menghasilkan protein yang membantu pembekuan darah (faktor pembekuan darah).

Namun, beberapa masalah hati membuat darah lebih mudah membeku. Misalnya, hati yang rusak kurang mampu menghasilkan zat yang mencegah pembekuan darah terlalu banyak. Dengan demikian, bekuan darah dapat terbentuk, terutama pada pembuluh darah yang memasuki hati (vena porta atau vena limpa).

Peningkatan risiko infeksi

Jumlah sel darah putih dapat berkurang (disebut leukopenia) karena limpa yang membesar memerangkap sel darah putih. Ketika jumlah sel darah putih rendah dan sintesis hati terhadap protein yang melawan infeksi menurun, risiko infeksi meningkat.

Penyerapan lemak dan vitamin yang buruk

Seiring waktu, buruknya penyerapan lemak, terutama vitamin larut lemak, dapat menyebabkan beberapa masalah. Misalnya, jika vitamin D kurang diserap dengan baik, osteoporosis dapat terjadi. Ketika vitamin K (yang membantu pembekuan darah) kurang diserap dengan baik, orang dapat lebih mudah berdarah.

Kanker hati

Kanker hati (karsinoma hepatoseluler, atau hepatoma) dapat terjadi pada orang yang menderita sirosis. Pemantauan kanker hati, juga disebut pengawasan (penilaian berkala), diperlukan setelah sirosis berkembang, karena deteksi dini kanker hati memungkinkan pengobatan kuratif.

Tabel
Tabel

Diagnosis sirosis

  • Evaluasi dokter

  • Tes darah, termasuk tes hati

  • Tes pencitraan (misalnya ultrasound)

  • Terkadang dilakukan biopsi hati

Dokter biasanya mencurigai adanya sirosis berdasarkan gejala orang tersebut, hasil pemeriksaan fisik, dan riwayat faktor risiko sirosis seperti penggunaan alkohol kronis yang berlebihan. Sering kali selama pemeriksaan fisik, dokter menemukan masalah yang biasanya terjadi akibat sirosis, seperti limpa yang membesar, perut yang bengkak (menunjukkan adanya asites), sakit kuning, atau ruam yang menunjukkan perdarahan pada kulit. Dokter biasanya kemudian melakukan tes untuk mencari gangguan lain yang dapat menyebabkan gejala serupa.

Tes laboratorium

Tes darah untuk mengevaluasi hati dilakukan. Hasil tes sering kali normal karena tes ini relatif tidak sensitif dan hati dapat tetap berfungsi untuk waktu yang lama meskipun ada kerusakan. Hati dapat tetap melakukan fungsi-fungsi penting meskipun fungsinya berkurang sebesar 80%. Hitung darah lengkap (complete blood count, CBC) dilakukan untuk memeriksa anemia, jumlah trombosit yang rendah, dan kelainan darah lainnya. Tes darah dilakukan untuk memeriksa hepatitis dan sering kali penyebab lain yang mungkin terjadi.

Tes pencitraan hati

Tes pencitraan dapat mengidentifikasi sirosis stadium lanjut tetapi sering kali tidak mengidentifikasi sirosis dini.

  • Ultrasound, tomografi terkomputasi (CT), atau pencitraan resonansi magnetik (MRI) dapat menunjukkan apakah hati telah menyusut atau strukturnya tidak normal, yang mengindikasikan sirosis. Tes ini dapat mendeteksi hipertensi portal dan asites.

  • Tes pencitraan khusus (elastografi transien, elastografi resonansi magnetik, dan pencitraan impuls gaya radiasi akustik) membantu mendeteksi sirosis dini.

Biopsi hati

Jika diagnosis masih belum pasti, biopsi hati (penghapusan sampel jaringan untuk pemeriksaan di bawah mikroskop) dapat dilakukan untuk mengonfirmasinya. Biopsi dan terkadang tes darah juga dapat membantu dokter menentukan penyebab sirosis.

Memantau adanya komplikasi

Jika sirosis dikonfirmasi, ultrasound dengan atau tanpa tes darah yang dapat mengindikasikan tumor hati (alfa fetoprotein) dilakukan setiap 6 bulan untuk memeriksa kanker hati. Jika ultrasound mendeteksi kelainan yang mengindikasikan adanya kanker, dokter akan melakukan pencitraan resonansi magnetik (MRI) atau CT setelah menyuntikkan agen kontras ke dalam vena.

Jika sirosis telah dikonfirmasi, endoskopi saluran pencernaan bagian atas (dengan memasukkan slang fleksibel berkamera) mungkin diperlukan untuk memeriksa varises, terutama jika terdapat tanda-tanda hipertensi portal pada tes darah dan pencitraan, dan orang tersebut bukan merupakan kandidat untuk pengobatan untuk menurunkan hipertensi portal. Tes endoskopi ini diulang setiap 2 sampai 3 tahun. Tes ini dilakukan lebih sering jika varises terdeteksi.

Tes darah yang menilai fungsi hati dilakukan secara teratur.

Pengobatan sirosis

Pengobatan meliputi:

  • Memperbaiki atau mengobati penyebabnya, seperti penggunaan alkohol secara berlebihan yang kronis, penggunaan medikasi, paparan terhadap toksin, hemokromatosis, atau hepatitis kronis

  • Mengobati komplikasi saat mereka berkembang

  • Terkadang transplantasi hati

Pendekatan terbaik adalah menghentikan sirosis pada tahap paling awal dengan mengoreksi atau mengobati penyebabnya. Mengobati penyebabnya biasanya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut dan terkadang menyebabkan kondisi orang tersebut membaik.

Mengobati penyebab

Orang tersebut diberikan vaksin hepatitis A dan hepatitis B jika mereka belum pernah mendapatkannya. Vaksin-vaksin ini diberikan untuk melindungi hati dari kerusakan lebih lanjut akibat virus-virus ini, kerusakan yang dapat memperparah sirosisnya.

Untuk mencegah berkembangnya sirosis, penderita harus berhenti minum alkohol sepenuhnya, meskipun alkohol bukan penyebab utama masalah hati mereka (lihat Alkohol/Pengobatan). Minum alkohol, bahkan dalam jumlah kecil, dapat sangat berbahaya bagi hati jika sudah ada sirosis. Gejala putus zat, jika terjadi, akan diobati.

Pasien harus memberi tahu dokter mereka tentang semua medikasi yang mereka minum, termasuk medikasi yang dijual bebas, produk herbal, dan suplemen diet, karena hati yang rusak mungkin tidak dapat memproses (memecah) obat-obatan tersebut. Jika pasien perlu meminum medikasi yang dipecah oleh hati, dosis yang jauh lebih kecil digunakan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada hati. Selain itu, pasien juga mungkin meminum medikasi yang dapat merusak hati dan dengan demikian berkontribusi menyebabkan sirosis. Medikasi tersebut dihentikan jika memungkinkan, dan medikasi lain diganti jika diperlukan.

Untuk hemokromatosis, flebotomi (pengambilan darah dari tubuh) adalah pengobatan terbaik, meskipun beberapa pasien mungkin memerlukan obat-obatan untuk menghilangkan kelebihan zat besi. Untuk penyakit Wilson, obat untuk menghilangkan tembaga dari tubuh digunakan.

Untuk penyakit perlemakan hati yang disebut steatohepatitis terkait disfungsi metabolik (MASH), penurunan berat badan adalah pengobatan terbaik dan diabetes serta kolesterol tinggi harus dikendalikan dengan ketat. Resmetirom dan semaglutida belum disetujui untuk pasien dengan sirosis.

Hepatitis virus kronis diobati dengan medikasi antivirus dan penyakit hati autoimun diobati dengan steroid (terkadang disebut juga glukokortikoid atau kortikosteroid) atau medikasi lain yang memengaruhi sistem imun.

Umumnya, pengidap sirosis tingkat lanjut memerlukan transplantasi hati, tetapi transplantasi kadang-kadang digunakan juga untuk mengobati penyebab tertentu dari penyakit hati bahkan sebelum hati mencapai tahap sirosis.

Mengobati komplikasi

Untuk komplikasi, pengobatan meliputi:

  • Untuk akumulasi cairan di dalam abdomen (pada sirosis tingkat lanjut): Pembatasan natrium dalam makanan karena kelebihan natrium dapat menyebabkan akumulasi cairan. Medikasi dapat membantu menghilangkan kelebihan cairan dengan meningkatkan jumlah urine yang dihasilkan.

  • Untuk kekurangan vitamin: Vitamin tambahan

  • Untuk ensefalopati hepatik: Obat-obatan untuk membantu mengikat toksin di dalam usus (di dalam feses) dan antibiotik untuk mengurangi jumlah bakteri dalam saluran pencernaan yang menghasilkan toksin ini

  • Untuk perdarahan dari varises saluran pencernaan: Penyekat yang disebut pemblokir beta untuk menurunkan tekanan darah di pembuluh darah hati dan/atau penggunaan pita elastis untuk mengikat pembuluh darah yang berdarah (disebut pita endoskopi, atau ligasi). Untuk memasang pita tersebut, dokter menggunakan slang berkamera (endoskopi) yang disisipkan melalui mulut.

Jika penyekat beta atau ligasi pita tidak dapat digunakan atau tidak berhasil pada pasien dengan varises yang mengalami perdarahan, dokter dapat menggunakan salah satu prosedur berikut:

  • Injeksi sianoakrilat melalui endoskopi: Dokter memasukkan endoskop melalui mulut dan saluran pencernaan. Melalui endoskop, dokter menyuntikkan sianoakrilat (zat seperti lem) ke dalam vena yang mengalami perdarahan. Sianoakrilat menutup pembuluh darah, dan perdarahan berhenti.

  • Obliterasi transvena retrograde dengan balon oklusi: Setelah menyuntikkan anestesi lokal, dokter membuat sayatan kecil pada kulit di atas vena besar, biasanya di leher atau pangkal paha. Kemudian mereka memasukkan slang tipis yang fleksibel (kateter) dengan balon kempes pada ujungnya ke dalam vena dan memasang slang tersebut ke lokasi perdarahan. Balon digelembungkan untuk menghalangi aliran darah. Kemudian zat yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut disuntikkan ke dalam atau dekat vena untuk menyumbat dan menghentikan perdarahan.

  • Pirau portosistemik intrahepatik transjugular (transjugular intrahepatic portosystemic shunting, TIPS): Dokter memasukkan kateter ke dalam vena di leher dan, dengan menggunakan sinar-X untuk memandu, memasukkan kateter ke vena di hati. Kateter digunakan untuk membuat lintasan (pirau) yang menghubungkan vena porta (atau salah satu cabangnya) secara langsung dengan salah satu vena hepatik, yang membawa darah dari hati ke vena terbesar dalam tubuh, yang mengembalikan darah ke jantung. Dengan demikian, sebagian besar darah yang biasanya mengalir ke hati dialihkan sehingga tidak melewati hati. Prosedur ini menurunkan tekanan darah pada vena porta karena tekanannya lebih rendah pada vena hepatik. Dengan mengurangi tekanan ini, TIPS membantu mengurangi perdarahan dari vena di saluran pencernaan dan akumulasi cairan di dalam abdomen.

Transplantasi hati

Bagi sebagian orang, transplantasi hati mungkin merupakan pengobatan terbaik. Jika transplantasi berhasil, hati yang ditransplantasikan biasanya berfungsi normal, dan gejala sirosis dan gagal hati akan hilang. Transplantasi hati dapat menyelamatkan nyawa penderita sirosis stadium lanjut atau kanker hati. Transplantasi hati biasanya dilakukan berdasarkan seberapa besar kemungkinan orang akan meninggal jika mereka tidak menerima transplantasi hati.

Prognosis sirosis

Sirosis terkadang dapat dipulihkan tetapi dapat bersifat progresif kecuali jika penyebab sirosis diobati. Seberapa cepat perkembangannya sering kali sulit diprediksi. Prognosis penderita sirosis bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, adanya gejala dan gangguan lain, serta efektivitas pengobatan. Namun, hati hampir selalu rusak secara permanen dan kemungkinan tidak dapat kembali normal lagi.

Menghentikan semua konsumsi alkohol akan mencegah pembentukan jaringan parut lebih lanjut di hati. Jika orang tersebut terus meminum alkohol—bahkan dalam jumlah kecil sekalipun—sirosis akan berkembang, menyebabkan komplikasi serius.

Setelah komplikasi utama (seperti muntah darah, akumulasi cairan di dalam abdomen, atau penurunan fungsi otak) terjadi, prognosisnya menjadi sangat buruk.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!