Perubahan pada Tubuh dengan Penuaan

OlehRichard G. Stefanacci, DO, MGH, MBA, Thomas Jefferson University, Jefferson College of Population Health
Ditinjau OlehMichael R. Wasserman, MD, California Association of Long Term Care Medicine (CALTCM)
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Apr 2024
v837976_id

Tubuh berubah seiring dengan penuaan karena perubahan terjadi pada setiap sel dan seluruh organ tubuh. Perubahan ini mengakibatkan perubahan fungsi dan tampilan.

(Lihat juga Gambaran Umum Penuaan.)

Sel-sel yang menua

Seiring bertambahnya usia sel, mereka menjadi kurang berfungsi dengan baik. Pada akhirnya, sel-sel lama harus mati, yang merupakan bagian normal dari fungsi tubuh.

Sel-sel lama terkadang mati karena memang sudah diprogram demikian. Gen-gen dalam sel memprogram proses yang, apabila dipicu, akan menyebabkan kematian sel. Kematian terprogram ini, yang disebut apoptosis, adalah semacam bunuh diri sel. Penuaan sel adalah salah satu pemicunya. Sel-sel lama harus mati untuk memberi ruang bagi sel-sel baru. Pemicu lain mencakup jumlah sel berlebih dan kemungkinan kerusakan pada sel.

Sel lama juga mati karena hanya dapat membelah dalam jumlah yang terbatas. Batas ini diprogram oleh gen. Ketika sel tidak dapat lagi membelah diri, sel tersebut akan tumbuh lebih besar, bertahan untuk sementara waktu, lalu mati. Mekanisme yang membatasi pembelahan sel melibatkan struktur yang disebut telomer. Telomer digunakan untuk memindahkan materi genetik sel dalam persiapan untuk pembelahan sel. Setiap kali sel membelah diri, telomer menjadi sedikit lebih pendek. Pada akhirnya, telomer menjadi sangat pendek sehingga sel tidak dapat lagi membelah diri. Ketika sel berhenti membelah diri, hal itu disebut senesensi.

Terkadang kerusakan pada sel secara langsung menyebabkan kematiannya. Sel dapat rusak akibat zat berbahaya, seperti radiasi, sinar matahari, dan obat-obatan kemoterapi. Sel juga dapat rusak akibat produk sampingan tertentu dari aktivitas normalnya sendiri. Produk sampingan ini, yang disebut radikal bebas, dilepaskan ketika sel menghasilkan energi.

Tahukah Anda...

  • Gangguan, bukan penuaan, biasanya menyebabkan sebagian besar hilangnya fungsi.

Organ yang menua

Seberapa baik fungsi organ bergantung pada seberapa baik sel-sel di dalamnya berfungsi. Sel yang lebih tua mengalami penurunan fungsi. Selain itu, dalam beberapa organ, sel akan mati dan tidak diganti, sehingga jumlah sel menurun. Jumlah sel dalam testis, ovarium, hati, dan ginjal menurun drastis seiring bertambahnya usia tubuh. Ketika jumlah sel menjadi terlalu rendah, suatu organ tidak dapat berfungsi secara normal. Oleh karena itu, sebagian besar organ tubuh berfungsi kurang baik seiring bertambahnya usia. Namun, tidak semua organ kehilangan sejumlah besar sel. Otak adalah salah satu contohnya. Lansia yang sehat tidak kehilangan banyak sel otak. Kehilangan substansial terjadi terutama pada orang-orang yang pernah mengalami stroke atau yang menderita gangguan yang menyebabkan hilangnya sel-sel saraf secara progresif (gangguan neurodegeneratif), seperti penyakit Alzheimer atau penyakit Parkinson.

Sering kali, tanda-tanda awal penuaan melibatkan sistem muskuloskeletal. Mata, diikuti oleh telinga, mulai berubah di awal pertengahan kehidupan. Sebagian besar fungsi internal juga menurun seiring bertambahnya usia. Sebagian besar fungsi tubuh memuncak sesaat sebelum usia 30 tahun dan kemudian mulai menurun secara bertahap namun terus menerus. Namun, meskipun terjadi penurunan ini, sebagian besar fungsi tetap memadai karena sebagian besar organ pada awalnya memiliki kapasitas fungsional yang jauh lebih besar daripada yang dibutuhkan tubuh (cadangan fungsional). Misalnya, jika separuh organ hati rusak, jaringan yang tersisa lebih dari cukup untuk mempertahankan fungsi normal. Dengan demikian, gangguan, alih-alih proses penuaan normal, biasanya menyebabkan sebagian besar hilangnya fungsi pada lansia.

Meskipun sebagian besar fungsi tetap memadai, penurunan fungsi ini berarti bahwa lansia kurang mampu menangani berbagai tekanan, termasuk aktivitas fisik yang berat, perubahan suhu yang ekstrem di lingkungan, dan gangguan. Penurunan ini juga berarti bahwa lansia lebih besar kemungkinannya untuk mengalami efek samping dari obat-obatan. Beberapa organ tubuh lebih mudah mengalami kegagalan fungsi di bawah tekanan dibandingkan organ tubuh lainnya. Organ-organ ini meliputi jantung dan pembuluh darah, organ perkemihan (seperti ginjal), dan otak.

Tulang dan Sendi

(Lihat juga Efek Penuaan pada Sistem Muskuloskeletal.)

Tulang cenderung menjadi kurang padat. Kehilangan kepadatan tulang yang sedang disebut osteopenia dan kehilangan kepadatan tulang yang berat (termasuk terjadinya fraktur karena hilangnya kepadatan tulang) disebut osteoporosis. Dengan osteoporosis, tulang menjadi lebih lemah dan lebih mudah patah. Pada wanita, hilangnya kepadatan tulang meningkat setelah menopause karena lebih sedikit estrogen yang dihasilkan. Estrogen membantu mencegah terlalu banyak tulang yang patah selama proses normal tubuh dalam membentuk, memecah, dan membentuk kembali tulang.

Sebagian tulang menjadi kurang padat karena mengandung lebih sedikit kalsium (yang memberikan kekuatan pada tulang). Jumlah kalsium menurun karena tubuh menyerap lebih sedikit kalsium dari makanan. Selain itu, kadar vitamin D, yang membantu tubuh menggunakan kalsium juga sedikit berkurang. Tulang-tulang tertentu menjadi lebih lemah daripada tulang-tulang lainnya. Tulang yang paling terkena dampaknya adalah ujung tulang paha (femur) di pinggul, ujung tulang lengan (radius dan ulna) di pergelangan tangan, dan tulang belakang (vertebra).

Perubahan vertebra di bagian atas tulang belakang menyebabkan kepala condong ke depan, sehingga menekan tenggorokan. Akibatnya, sulit menelan, dan lebih mudah tersedak. Vertebra menjadi kurang padat dan bantalan jaringan (cakram) di antaranya kehilangan cairan dan menjadi lebih tipis, sehingga tulang belakang menjadi semakin pendek. Oleh karena itulah lansia menjadi lebih pendek.

Kartilago yang melapisi sendi cenderung menipis, sebagian karena keausan dan kerusakan akibat gerakan selama bertahun-tahun. Permukaan sendi mungkin tidak dapat saling bergerak dengan mulus seperti biasanya, dan sendi dapat menjadi sedikit lebih rentan terhadap cedera. Kerusakan pada kartilago akibat penggunaan sendi seumur hidup atau cedera berulang sering menyebabkan osteoartritis, yang merupakan salah satu gangguan paling umum di masa tua.

Ligamen, yang menyatukan sendi, dan tendon, yang mengikat otot ke tulang, cenderung menjadi kurang elastis, membuat sendi terasa kencang atau kaku. Jaringan ini juga melemah. Dengan demikian, sebagian besar orang menjadi kurang fleksibel. Ligamen dan tendon cenderung lebih mudah robek, dan jika robek, penyembuhannya berlangsung lebih lambat. Perubahan ini terjadi karena sel-sel yang mempertahankan ligamen dan tendon menjadi kurang aktif.

Otot dan Lemak Tubuh

Jumlah jaringan otot (massa otot) dan kekuatan otot cenderung menurun mulai sekitar usia 30 tahun dan terus berlanjut sepanjang hidup. Sebagian penurunan ini disebabkan oleh ketidakaktifan fisik dan menurunnya kadar hormon pertumbuhan dan testosteron, yang merangsang perkembangan otot. Selain itu, otot tidak dapat berkontraksi dengan cepat karena ada lebih banyak serat otot yang berkontraksi cepat (fast-twitch) yang hilang dibandingkan serat otot yang berkontraksi lambat (slow-twitch). Namun, efek penuaan mengurangi massa dan kekuatan otot tidak lebih dari sekitar 10 hingga 15% selama masa hidup orang dewasa. Jika tidak ada penyakit, sebagian besar kehilangan yang melebihi 10 sampai 15% dapat dicegah dengan olahraga teratur. Kehilangan otot yang lebih parah (disebut sarkopenia, yang secara harfiah berarti kehilangan daging) disebabkan oleh penyakit atau ketidakaktifan yang ekstrem, bukan karena penuaan saja.

Sebagian besar lansia mempertahankan massa dan kekuatan otot yang cukup untuk melakukan semua fungsi yang umumnya diperlukan. Banyak lansia yang tetap menjadi atlet kuat. Mereka berkompetisi dalam olahraga dan menikmati aktivitas fisik yang kuat. Namun, bahkan yang terkuat sekali pun menyadari adanya penurunan seiring bertambahnya usia.

Tahukah Anda...

  • Untuk mengganti massa otot yang hilang selama sehari penuh tirah baring, lansia mungkin perlu berolahraga hingga 2 minggu.

Olahraga rutin untuk memperkuat otot (latihan ketahanan) dapat mengatasi sebagian atau secara signifikan menunda hilangnya massa dan kekuatan otot. Dalam latihan penguatan otot, otot berkontraksi melawan tahanan yang diberikan oleh gravitasi (seperti saat sit-up atau push-up), beban, atau pita elastis. Jika jenis latihan ini dilakukan secara teratur, orang yang tidak pernah berolahraga sekali pun dapat meningkatkan massa dan kekuatan otot. Sebaliknya, kekurangan aktivitas fisik, terutama tirah baring di saat sakit, dapat mempercepat hilangnya massa dan kekuatan otot. Selama periode tidak aktif, lansia kehilangan massa dan kekuatan otot jauh lebih cepat daripada orang yang lebih muda. Misalnya, untuk mengganti massa otot yang hilang selama sehari penuh tirah baring, seseorang mungkin perlu berolahraga hingga 2 minggu.

Pada usia 75 tahun, persentase lemak tubuh biasanya meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan lemak tubuh pada usia dewasa muda. Terlalu banyak lemak tubuh dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, seperti diabetes. Distribusi lemak juga berubah, mengubah bentuk badan. Pola makan yang sehat dan olahraga rutin dapat membantu lansia meminimalkan peningkatan lemak tubuh.

Mata

(Lihat juga Efek Penuaan pada Mata.)

Seiring bertambahnya usia, hal-hal berikut ini terjadi:

  • Lensa mata menjadi kaku, membuat fokus pada objek dekat menjadi lebih sulit.

  • Lensa menjadi lebih padat, sehingga lebih sulit melihat dalam cahaya redup.

  • Pupil bereaksi lebih lambat terhadap perubahan cahaya.

  • Lensa mata menguning, sehingga mengubah cara mata mempersepsikan warna dan menyebabkan hilangnya persepsi kontras.

  • Jumlah sel saraf menurun, mengganggu persepsi kedalaman.

  • Mata menghasilkan lebih sedikit cairan, sehingga terasa kering.

Perubahan penglihatan sering kali merupakan tanda pertama penuaan yang tidak dapat disangkal.

Perubahan pada lensa mata dapat menyebabkan atau berkontribusi pada hal berikut:

  • Hilangnya penglihatan jarak dekat: Selama usia 40-an, sebagian besar orang menyadari bahwa melihat benda yang lebih dekat dari 2 kaki menjadi sulit. Perubahan penglihatan ini, yang disebut presbiopia, terjadi karena lensa mata menjadi kaku. Biasanya, lensa berubah bentuk untuk membantu fokus mata. Lensa yang lebih kaku membuat fokus pada benda dekat menjadi lebih sulit. Pada akhirnya, hampir semua orang mengalami presbiopia dan membutuhkan kacamata baca yang memperbesar. Orang yang memerlukan kacamata untuk melihat benda jauh mungkin perlu memakai kacamata bifokal atau kacamata dengan lensa fokus bervariasi.

  • Kebutuhan akan cahaya yang lebih terang: Seiring bertambahnya usia, melihat dalam cahaya redup menjadi lebih sulit karena lensa cenderung menjadi kurang transparan. Lensa yang lebih padat berarti lebih sedikit cahaya yang melewati retina di bagian belakang mata. Selain itu, retina, yang berisi sel-sel yang merasakan cahaya, juga menjadi kurang sensitif. Jadi untuk membaca, diperlukan cahaya yang lebih terang. Rata-rata, di usia 60 tahunan, seseorang membutuhkan cahaya 3 kali lebih terang untuk membaca dibandingkan dengan mereka yang berusia 20 tahunan.

  • Perubahan persepsi warna: Warna dipersepsikan secara berbeda, sebagian karena lensa cenderung menguning seiring bertambahnya usia. Warna mungkin terlihat kurang cerah dan kontras sehingga antara warna yang berbeda mungkin lebih sulit dibedakan. Warna biru mungkin terlihat lebih abu-abu, dan cetakan biru atau latar belakang biru mungkin terlihat pudar. Perubahan ini tidak signifikan bagi sebagian besar orang. Namun demikian, lansia dapat mengalami kesulitan membaca huruf hitam yang dicetak di atas latar belakang biru atau membaca huruf biru.

Pupil mata bereaksi lebih lambat terhadap perubahan cahaya. Pupil melebar dan menyempit agar lebih banyak atau lebih sedikit cahaya masuk, bergantung pada kecerahan di sekitarnya. Pupil yang bereaksi lambat berarti lansia mungkin tidak dapat melihat saat mereka pertama kali memasuki ruangan gelap. Atau mereka mungkin mengalami kebutaan sesaat saat memasuki area dengan penerangan yang kuat. Lansia juga dapat menjadi lebih sensitif terhadap cahaya silau. Namun demikian, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya silau sering kali disebabkan oleh area lensa yang menggelap atau katarak.

Tahukah Anda...

  • Sebagian besar orang berusia 60 tahun membutuhkan cahaya 3 kali lebih terang untuk membaca dibandingkan orang berusia 20 tahun.

Detail halus, termasuk perbedaan nuansa dan corak, menjadi lebih sulit untuk dibedakan. Alasannya mungkin karena penurunan jumlah sel saraf yang mengirimkan sinyal visual dari mata ke otak. Perubahan ini memengaruhi persepsi kedalaman, dan penilaian jarak menjadi lebih sulit.

Lansia mungkin melihat lebih banyak bintik hitam kecil bergerak melintasi bidang penglihatan mereka. Titik-titik ini, yang disebut floater, adalah bagian cairan normal pada mata yang telah mengeras. Floater tidak mengganggu penglihatan secara signifikan. Kecuali jika tiba-tiba bertambah jumlahnya, kondisi tersebut tidak perlu dikhawatirkan.

Mata cenderung kering. Perubahan ini terjadi karena jumlah sel yang menghasilkan cairan untuk melumasi mata menurun. Produksi air mata dapat menurun.

Tampilan mata berubah dalam beberapa cara:

  • Warna putih (sklera) mata dapat berubah sedikit kuning atau cokelat. Perubahan ini terjadi akibat paparan sinar ultraviolet, angin, dan debu selama bertahun-tahun.

  • Bercak warna yang acak dapat muncul di bagian putih mata, terutama pada orang-orang dengan kulit berwarna gelap.

  • Cincin abu-abu putih (arkus senilis) dapat muncul pada permukaan mata. Cincin ini terbuat dari kalsium dan garam kolesterol. Kondisi ini tidak memengaruhi penglihatan.

  • Kelopak mata bawah dapat menggantung menjauh dari bola mata karena otot-otot di sekitar mata melemah dan tendon meregang. Kondisi ini (disebut ektropion) dapat mengganggu pelumasan bola mata dan menyebabkan mata kering.

  • Mata dapat terlihat tenggelam ke dalam kepala karena jumlah lemak di sekitar mata menurun.

  • Alis turun ke bawah.

Telinga

(Lihat juga Efek Penuaan pada Telinga, Hidung, dan Tenggorokan.)

Sebagian besar perubahan dalam pendengaran mungkin disebabkan oleh paparan kebisingan seumur hidup seperti halnya penuaan (lihat juga Kehilangan Pendengaran). Paparan terhadap suara keras seiring waktu merusak kemampuan telinga untuk mendengar. Meskipun demikian, beberapa perubahan dalam pendengaran terjadi seiring bertambahnya usia, terlepas dari paparan mereka terhadap suara yang keras.

Penyebab kehilangan pendengaran yang mungkin menjadi lebih umum pada penuaan meliputi akumulasi lilin telinga (serumen), tumor nonkanker (jinak) (schwannoma vestibular), dan penggunaan obat-obatan tertentu (seperti aspirin atau aminoglikosida).

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter guna menentukan apakah kehilangan pendengaran disebabkan oleh impaksi serumen (lilin telinga) karena lilin telinga dapat dihilangkan dengan cepat dan aman.

Seiring bertambahnya usia, mendengar suara bernada tinggi menjadi lebih sulit. Perubahan ini dianggap sebagai kehilangan pendengaran terkait usia (presbikusis). Misalnya, musik biola mungkin terdengar kurang tajam.

Tahukah Anda...

  • Mengartikulasikan konsonan dengan jelas mungkin lebih membantu daripada berbicara lebih keras kepada lansia yang kesulitan memahami ucapan.

  • Suara bernada tinggi sangat sulit didengar oleh lansia.

Konsekuensi presbikusis yang paling membuat frustrasi adalah kata-kata menjadi lebih sulit dipahami. Akibatnya, lansia mungkin berpikir bahwa orang lain sedang bergumam. Bahkan ketika orang lain berbicara lebih keras, lansia masih kesulitan memahami kata-katanya. Alasannya adalah karena sebagian besar huruf konsonan (seperti k, t, s, p, dan ch) bernada tinggi, dan konsonan adalah suara yang membantu orang mengidentifikasi kata-kata. Karena huruf vokal bernada rendah, maka huruf vokal lebih mudah didengar. Jadi lansia mungkin mendengar kalimat “Olong beri ahu aya aa yang ingin anda iman,” alih-alih “Tolong beri tahu saya apa yang ingin Anda simpan.” Untuk membantunya, orang lain perlu mengartikulasikan konsonan dengan lebih jelas, bukan hanya berbicara lebih keras. Memahami apa yang dikatakan wanita dan anak-anak mungkin lebih sulit daripada memahami apa yang dikatakan pria karena sebagian besar wanita dan anak-anak memiliki suara yang bernada lebih tinggi. Secara bertahap, mendengar nada rendah juga menjadi lebih sulit.

Banyak lansia lebih sering mengalami kesulitan mendengar di tempat yang bising atau dalam kelompok karena kebisingan latar belakang.

Rambut tebal dapat tumbuh dari telinga.

Mulut dan Hidung

(Lihat juga Efek Penuaan pada Mulut dan Gigi serta Efek Penuaan pada Telinga, Hidung, dan Tenggorokan.)

Umumnya, ketika orang berusia 50-an, kemampuan untuk merasakan dan mencium mulai berkurang secara bertahap. Kedua indra diperlukan untuk menikmati berbagai rasa dalam makanan. Lidah hanya dapat mengidentifikasi 5 rasa dasar: manis, asam, pahit, asin, dan rasa yang disebut umami (umumnya digambarkan sebagai rasa daging atau gurih). Indra penciuman diperlukan untuk membedakan rasa yang lebih samar dan kompleks (seperti raspberry).

Seiring bertambahnya usia, sensitivitas pengecap di lidah akan menurun. Perubahan ini memengaruhi rasa manis dan asin lebih dari pahit dan asam. Kemampuan untuk mencium bau berkurang karena lapisan hidung menjadi lebih tipis dan kering dan ujung-ujung saraf di hidung mengalami penurunan fungsi. Namun demikian, perubahannya tidak banyak, biasanya hanya memengaruhi bau yang samar. Akibat perubahan ini banyak makanan cenderung terasa pahit, dan makanan dengan aroma samar mungkin terasa hambar.

Mulut cenderung lebih sering terasa kering, sebagian karena lebih sedikit air liur yang dihasilkan. Mulut kering selanjutnya mengurangi kemampuan untuk mencicipi makanan.

Seiring bertambahnya usia, gusi akan sedikit mengendur. Akibatnya, bagian bawah gigi terpapar partikel makanan dan bakteri. Selain itu, enamel gigi cenderung terkikis. Berbagai perubahan ini, dan juga mulut kering, membuat gigi lebih rentan terhadap pembusukan dan gigi berlubang (karies) sehingga lebih cenderung mengalami gigi tanggal.

Dengan bertambahnya usia, hidung cenderung memanjang dan membesar, dan ujungnya cenderung terkulai.

Rambut tebal dapat tumbuh di hidung dan di bibir atas dan dagu.

Kulit

(Lihat juga Efek Penuaan pada Kulit.)

Kulit cenderung menjadi lebih tipis, kurang elastis, lebih kering, dan berkeriput halus. Namun, paparan sinar matahari selama bertahun-tahun sangat berkontribusi terhadap kerutan dan membuat kulit kasar dan berbercak. Orang yang telah menghindari paparan sinar matahari sering kali terlihat jauh lebih muda dari usia mereka.

Kulit berubah sebagian karena kolagen (jaringan berserat kuat yang membuat kulit kuat) dan elastin (yang membuat kulit fleksibel) mengalami perubahan kimia dan menjadi kurang fleksibel; juga, tubuh yang menua menghasilkan lebih sedikit kolagen dan elastin. Akibatnya, kulit menjadi lebih mudah robek.

Lapisan lemak di bawah kulit menipis. Lapisan ini berfungsi sebagai bantalan bagi kulit yang membantu melindungi dan menopangnya. Lapisan lemak juga membantu mempertahankan panas tubuh. Ketika lapisan tersebut menipis, keriput lebih mungkin terbentuk, dan toleransi terhadap dingin menurun.

Jumlah ujung saraf pada kulit menurun. Akibatnya, seseorang menjadi kurang sensitif terhadap nyeri, suhu, dan tekanan, dan cedera cenderung lebih mudah terjadi.

Jumlah kelenjar keringat dan pembuluh darah menurun, dan aliran darah di lapisan dalam kulit menurun. Akibatnya, tubuh kurang mampu memindahkan panas dari dalam tubuh melalui pembuluh darah ke permukaan tubuh. Lebih sedikit panas yang keluar dari tubuh, dan tubuh juga tidak dapat mendinginkan diri. Dengan demikian, risiko gangguan terkait panas, seperti heatstroke, meningkat. Selain itu, ketika aliran darah menurun, penyembuhan kulit cenderung lebih lambat.

Jumlah sel penghasil pigmen (melanosit) menurun. Akibatnya, kulit memiliki perlindungan yang semakin kecil terhadap radiasi ultraviolet (UV), seperti dari sinar matahari. Bintik-bintik cokelat besar (bintik-bintik usia) terbentuk pada kulit yang telah terpapar sinar matahari, mungkin karena kulit kurang mampu menghilangkan produk limbah.

Kulit kurang mampu membentuk vitamin D jika terpapar sinar matahari. Dengan demikian, risiko defisiensi vitamin D meningkat.

Sistem Otak dan Saraf

(Lihat juga Efek Penuaan pada Sistem Saraf.)

Jumlah sel saraf di otak biasanya menurun. Meskipun demikian, otak dapat mengompensasi sebagian kehilangan ini dengan beberapa cara:

  • Saat sel-sel hilang, koneksi baru dibuat antara sel-sel saraf yang tersisa.

  • Sel saraf yang baru dapat terbentuk di beberapa area otak, bahkan pada usia senja.

  • Otak memiliki lebih banyak sel daripada yang diperlukan untuk melakukan sebagian besar aktivitas—karakteristik yang disebut redundansi. Artinya, lebih dari satu area dapat melakukan fungsi yang sama. Dengan demikian, area dengan fungsi yang agak tumpang tindih terkadang dapat mengompensasi fungsi yang hilang.

Kadar zat kimia yang terlibat dalam pengiriman pesan di otak cenderung menurun, tetapi ada juga yang meningkat. Sel-sel saraf dapat kehilangan beberapa reseptornya untuk pesan kimia ini. Aliran darah ke otak menurun. Akibat perubahan terkait usia ini, fungsi otak dapat mengalami sedikit penurunan. Lansia dapat bereaksi dan melakukan tugas-tugas dengan sedikit lebih lambat, tetapi jika diberi waktu, mereka akan melakukannya secara akurat. Beberapa fungsi mental—seperti kosakata, memori jangka pendek, kemampuan untuk mempelajari materi baru, dan kemampuan untuk mengingat kata-kata—dapat berkurang secara perlahan setelah usia 70 tahun.

Setelah sekitar usia 60 tahun, jumlah sel di sumsum tulang belakang mulai berkurang. Biasanya, perubahan ini tidak memengaruhi kekuatan atau sensasi.

Tahukah Anda...

  • Otak memiliki cara untuk mengimbangi hilangnya sel saraf yang terjadi bersama penuaan.

Seiring bertambahnya usia, saraf dapat mengirimkan sinyal dengan lebih lambat. Biasanya, perubahan ini sangat minimal sehingga orang tidak menyadarinya. Selain itu, saraf dapat memperbaiki diri secara lebih lambat dan tidak sempurna. Oleh karena itu, pada lansia yang mengalami kerusakan saraf, sensasi dan kekuatan dapat menurun.

Jantung dan Pembuluh Darah

(Lihat juga Efek Penuaan pada Jantung dan Pembuluh Darah.)

Jantung dan pembuluh darah menjadi lebih kaku. Pengisian darah ke jantung berlangsung lebih lambat. Arteri yang kaku menjadi kurang dapat mengembang ketika lebih banyak darah dipompa melalui arteri tersebut. Akibatnya, tekanan darah cenderung meningkat.

Selain itu, jantung tidak merespons dengan cepat atau baik terhadap pembawa pesan kimiawi yang biasanya menstimulasinya untuk bekerja lebih cepat.

Terlepas dari perubahan ini, jantung lansia normal berfungsi dengan baik. Perbedaan antara jantung muda dan tua menjadi jelas hanya ketika jantung harus bekerja keras dan memompa lebih banyak darah—misalnya, selama olahraga atau saat sakit. Jantung yang lebih tua tidak dapat bekerja secepat atau memompa darah secepat atau sebanyak jantung yang lebih muda. Dengan demikian, atlet yang lebih tua tidak dapat tampil sebaik atlet yang lebih muda. Namun demikian, latihan aerobik rutin dapat meningkatkan performa atletik pada lansia (lihat Olahraga pada Lansia). Perubahan terkait usia pada jantung dan pembuluh darah merupakan salah satu perubahan yang paling responsif terhadap kebiasaan gaya hidup (seperti olahraga, tidur, dan pola makan), dan, bila diperlukan, obat-obatan.

Paru-paru dan Otot Pernapasan

(Lihat juga Efek Penuaan pada Sistem Pernapasan.)

Otot-otot yang digunakan dalam pernapasan, diafragma, dan otot-otot di antara tulang rusuk, cenderung melemah seiring bertambahnya usia. Jumlah kantong udara (alveolus) dan kapiler di paru-paru menurun. Akibatnya, oksigen yang diserap dari udara yang dihirup menjadi lebih sedikit. Paru-paru menjadi kurang elastis. Pada orang-orang yang tidak merokok atau tidak memiliki gangguan paru, perubahan ini tidak memengaruhi aktivitas sehari-hari, tetapi jika terjadi pneumonia, perubahan ini dapat membuat bernapas dan berolahraga menjadi lebih sulit. Bernapas di tempat tinggi (di mana kadar oksigen lebih sedikit) mungkin juga lebih sulit.

Paru-paru menjadi kurang mampu memerangi infeksi, sebagian karena sel-sel yang menyapu serpihan yang mengandung mikroorganisme agar keluar dari saluran napas bekerja kurang efektif. Batuk, yang juga membantu membersihkan paru-paru, cenderung melemah.

Sistem Pencernaan

(Lihat juga Efek Penuaan pada Sistem Pencernaan.)

Secara keseluruhan, sistem pencernaan kurang terpengaruh oleh penuaan dibandingkan sebagian besar bagian tubuh lainnya. Otot-otot kerongkongan berkontraksi tidak terlalu kuat, tetapi gerakan makanan melewati kerongkongan tidak terpengaruh. Pengosongan makanan dari lambung sedikit lebih lambat, dan lambung tidak dapat menampung makanan sebanyak sebelumnya karena menjadi kurang elastis. Namun, pada kebanyakan orang, perubahan ini terlalu kecil sehingga tidak disadari.

Perubahan tertentu menyebabkan masalah pada sebagian orang. Saluran pencernaan dapat menghasilkan lebih sedikit laktase, enzim yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna susu dan produk susu. Akibatnya, lansia cenderung lebih mudah mengalami intoleransi terhadap produk susu (intoleransi laktosa). Orang-orang dengan intoleransi laktosa dapat merasa kembung atau mengalami gas atau diare setelah mengonsumsi produk susu.

Di usus besar, materi bergerak sedikit lebih lambat. Pada sebagian orang, perlambatan ini menyebabkan konstipasi.

Hati cenderung menjadi lebih kecil karena jumlah sel menurun. Darah yang mengalir melalui hati berkurang, dan enzim hati yang membantu tubuh memproses obat-obatan dan zat lainnya bekerja kurang efisien. Akibatnya, hati mungkin sedikit kurang mampu membantu menghilangkan obat-obatan dan zat lainnya dari tubuh. Dan efek obat-obatan—yang diharapkan dan tidak diharapkan—bertahan lebih lama.

Ginjal dan Saluran Kemih

(Lihat juga Efek Penuaan pada Saluran Kemih.)

Ginjal cenderung menjadi lebih kecil karena jumlah sel menurun. Darah yang mengalir melalui ginjal berkurang, dan pada usia sekitar 30 tahun, kinerja penyaringan darah oleh ginjal mengalami penurunan. Seiring berjalannya waktu, kinerja ginjal dalam membuang produk limbah dari darah semakin menurun. Mereka dapat mengekskresikan terlalu banyak air dan terlalu sedikit garam, sehingga dehidrasi lebih mungkin terjadi. Meskipun demikian, organ ini hampir selalu berfungsi dengan cukup baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Perubahan tertentu pada saluran kemih dapat mempersulit pengendalian buang air kecil:

  • Volume maksimal urine yang dapat ditampung kandung kemih menurun. Akibatnya, lansia mungkin perlu lebih sering buang air kecil.

  • Otot kandung kemih dapat berkontraksi secara tidak terduga (menjadi terlalu aktif), terlepas dari apakah seseorang perlu buang air kecil atau tidak.

  • Otot kandung kemih melemah. Akibatnya, kandung kemih tidak dapat dikosongkan dengan baik, dan lebih banyak urine tertinggal di kandung kemih setelah buang air kecil.

  • Otot yang mengontrol keluarnya urine dari tubuh (sfingter urinarius) kurang mampu menutup rapat dan mencegah kebocoran. Oleh karena itu, lansia akan lebih sulit menunda buang air kecil.

Perubahan ini adalah salah satu alasan mengapa inkontinensia urine (pengeluaran urine yang tidak terkendali) menjadi lebih umum terjadi seiring bertambahnya usia.

Pada wanita, uretra (slang tempat urine keluar dari tubuh) memendek, dan lapisannya menjadi lebih tipis. Penurunan kadar estrogen yang terjadi saat menopause dapat menyebabkan hal ini dan perubahan lain pada saluran kemih.

Seiring bertambahnya usia pria, kelenjar prostat cenderung membesar—kondisi yang disebut hiperplasia prostat jinak. Pada banyak pria, prostat membesar hingga cukup mengganggu keluarnya urine dan menghambat pengosongan kandung kemih sepenuhnya. Akibatnya, pria lansia cenderung buang air kecil dengan kekuatan yang lebih sedikit, membutuhkan waktu lebih lama untuk memulai aliran urine, mengeluarkan tetesan-tetesan urine di akhir aliran, dan lebih sering buang air kecil (termasuk lebih sering buang air kecil saat tidur). Pria lansia juga cenderung tidak dapat buang air kecil meskipun kandung kemihnya penuh (disebut retensi urine). Gangguan ini membutuhkan penanganan medis segera.

Organ Reproduksi

Perempuan

(Lihat juga Efek Penuaan pada Sistem Reproduksi Perempuan.)

Efek penuaan pada kadar hormon seks lebih jelas terlihat pada wanita daripada pria. Pada wanita, sebagian besar efek ini berhubungan dengan menopause, ketika kadar hormon perempuan (terutama estrogen) menurun secara drastis, periode menstruasi berakhir secara permanen, dan kehamilan tidak lagi memungkinkan. Penurunan kadar hormon perempuan menyebabkan ovarium dan rahim menyusut. Jaringan vagina menjadi lebih tipis, lebih kering, dan kurang elastis—kondisi yang disebut atrofi vulvovaginal. Dalam kasus yang berat, perubahan ini dapat menyebabkan gatal-gatal, perdarahan, nyeri selama hubungan seksual, dan kebutuhan untuk segera buang air kecil (desakan untuk buang air kecil).

Payudara menjadi kurang kencang dan lebih berserat, dan cenderung melorot. Perubahan ini membuat temuan benjolan di payudara menjadi lebih sulit.

Beberapa perubahan yang dimulai pada saat menopause (seperti kadar hormon yang lebih rendah dan vagina kering) dapat mengganggu aktivitas seksual (lihat Gambaran Umum Fungsi dan Disfungsi Seksual pada Wanita). Namun demikian, bagi sebagian besar wanita, penuaan tidak terlalu mengurangi kenikmatan aktivitas seksual. Tidak perlu khawatir untuk hamil dapat meningkatkan aktivitas dan kesenangan dalam hubungan seksual.

Tahukah Anda...

  • Payudara berubah seiring dengan bertambahnya usia, oleh sebab itu menemukan benjolan yang mungkin merupakan kanker mungkin lebih sulit.

Laki-laki

(Lihat juga Efek Penuaan pada Sistem Reproduksi Laki-Laki.)

Pada pria, perubahan kadar hormon seks tidak terlalu mendadak. Kadar hormon testosteron laki-laki menurun, sehingga sperma berkurang dan dorongan seks menurun (libido), tetapi penurunan tersebut terjadi secara bertahap. Meskipun aliran darah ke penis cenderung menurun, sebagian besar pria dapat mengalami ereksi dan orgasme sepanjang hidup. Namun, ereksi mungkin tidak berlangsung lama, mungkin sedikit kurang kaku, atau mungkin memerlukan lebih banyak stimulasi untuk mempertahankannya. Ereksi kedua mungkin memerlukan lebih banyak waktu. Disfungsi ereksi (impotensi) menjadi lebih umum terjadi seiring bertambahnya usia pria dan sering disebabkan oleh gangguan, biasanya gangguan yang memengaruhi pembuluh darah (seperti penyakit vaskular) atau diabetes.

Sistem Endokrin

(Lihat juga Efek Penuaan pada Sistem Endokrin.)

Kadar dan aktivitas beberapa hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, menurun.

  • Kadar hormon pertumbuhan menurun, menyebabkan penurunan massa otot.

  • Kadar aldosteron menurun, sehingga dehidrasi lebih cenderung terjadi. Hormon ini memberi sinyal kepada tubuh untuk menahan garam dan dengan demikian juga air.

  • Insulin, yang membantu mengontrol kadar gula (glukosa) dalam darah, kurang efektif, dan lebih sedikit insulin yang dapat diproduksi. Insulin memungkinkan gula bergerak dari darah ke sel sehingga dapat dikonversi menjadi energi. Perubahan insulin menandakan bahwa kadar gula meningkat lebih banyak setelah makan besar dan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal.

Bagi kebanyakan orang, perubahan dalam sistem endokrin tidak memiliki efek nyata pada kesehatan secara keseluruhan. Namun pada sebagian orang, perubahan tersebut dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Misalnya, perubahan insulin meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Dengan demikian, olahraga dan pola makan, yang dapat meningkatkan kerja insulin, menjadi lebih penting seiring bertambahnya usia.

Produksi Darah

Jumlah sumsum tulang aktif, tempat sel darah diproduksi, mengalami penurunan. Oleh karena itu, lebih sedikit sel darah yang diproduksi. Meskipun demikian, sumsum tulang biasanya dapat menghasilkan sel darah yang cukup selama hidup. Masalah dapat terjadi ketika kebutuhan akan sel darah meningkat drastis—misalnya, ketika anemia atau terjadi infeksi atau terjadi perdarahan. Dalam hal ini, sumsum tulang kurang mampu meningkatkan produksi sel darah sebagai respons terhadap kebutuhan tubuh.

Sistem Imun

Sel-sel sistem imun bekerja lebih lambat. Sel-sel ini mengidentifikasi dan menghancurkan zat asing seperti bakteri, mikroba penginfeksi lainnya, dan mungkin sel kanker. Melambatnya sistem imun ini sebagian dapat menjelaskan adanya sejumlah temuan terkait penuaan:

  • Kanker lebih banyak terjadi pada lansia.

  • Vaksin cenderung kurang protektif pada lansia, tetapi vaksin influenza, pneumonia, dan herpes zoster atau cacar api sangat penting dan memberikan perlindungan. Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh menjadi kurang efektif, dan gangguan lain lebih sering terjadi dan lebih parah pada lansia. Oleh karena itu, lansia lebih rentan terhadap penyakit dan kematian yang disebabkan oleh infeksi yang dapat dicegah dengan vaksin, dan mendapatkan vaksin menjadi semakin penting bagi mereka.

  • Beberapa infeksi, seperti pneumonia dan influenza, lebih banyak terjadi pada lansia dan lebih sering menyebabkan kematian.

  • Gejala alergi dapat menjadi kurang parah.

Saat sistem imun melambat, gangguan autoimun menjadi semakin jarang terjadi.

Tahukah Anda...

  • Lansia lebih rentan terhadap penyakit dan kematian yang disebabkan oleh infeksi yang dapat dicegah dengan vaksin, sehingga pemberian vaksin menjadi semakin penting bagi mereka.

Tabel
Tabel
Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!