Gambaran Umum Fungsi dan Disfungsi Seksual pada Wanita

(Kesehatan Seksual pada Wanita)

OlehAllison Conn, MD, Baylor College of Medicine, Texas Children's Pavilion for Women;
Kelly R. Hodges, MD, Baylor College of Medicine, Texas Children's Pavilion for Women
Ditinjau OlehOluwatosin Goje, MD, MSCR, Cleveland Clinic, Lerner College of Medicine of Case Western Reserve University
Ditinjau/Direvisi Jul 2023 | Dimodifikasi Jan 2026
v804442_id

Disfungsi seksual pada wanita meliputi nyeri selama berhubungan seksual, kontraksi menyakitkan (kram) yang tidak disengaja pada otot-otot di sekitar vagina (vaginimus), kurangnya minat pada seks (libido rendah), dan masalah pada gairah atau orgasme. Agar gangguan disfungsi seksual dapat didiagnosis, masalah ini biasanya terlebih dahulu menimbulkan tekanan pada wanita.

  • Masalah seksual pada wanita dapat memiliki penyebab fisik, penyebab psikologis, atau sering kali merupakan gabungan dari keduanya, di mana masing-masing penyebab tersebut saling memengaruhi.

  • Untuk mendiagnosis masalah seksual, dokter sering kali berbicara dengan wanita yang mengalaminya, dan terkadang dengan pasangannya; sering kali diperlukan pemeriksaan panggul ketika wanita tersebut mengalami nyeri atau masalah dengan orgasme.

  • Pengobatan untuk masalah seksual pada wanita berbeda-beda berdasarkan penyebabnya tetapi dapat meliputi pendidikan tentang fungsi seksual, obat-obatan, terapi fisik untuk panggul, atau psikoterapi atau terapi seks.

Wanita umumnya memiliki kekhawatiran tentang fungsi seksual. Jika masalahnya cukup parah hingga membuatnya tertekan, hal ini dapat dianggap sebagai disfungsi seksual. Sekitar 12% wanita di Amerika Serikat mengalami disfungsi seksual.

Disfungsi seksual dapat dijelaskan dan didiagnosis berdasarkan masalah-masalah spesifik, seperti berikut ini:

  • Kurangnya minat pada aktivitas seksual dan/atau mengalami kesulitan untuk beegairah (disebut gangguan gairah/rangsangan seksual)

  • Otot-otot di sekitar vagina yang tiba-tiba mengencang atau rasa nyeri selama melakukan aktivitas seksual (disebut nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi)

  • Kesulitan mencapai orgasme meskipun memiliki gairah yang normal terhadap aktivitas seksual (disebut gangguan orgasme wanita)

  • Disfungsi seksual yang diakibatkan oleh zat/obat

  • Disfungsi seksual lainnya (dokter menyebut hal ini sebagai "disfungsi seksual lain yang ditentukan dan tidak ditentukan")

Dalam disfungsi seksual yang disebabkan oleh zat/obat, disfungsi seksual berkaitan dengan dimulainya, perubahan dosis, atau penghentian suatu zat (termasuk obat-obatan terlarang) atau pengobatan.

Disfungsi seksual lainnya meliputi disfungsi seksual yang tidak termasuk dalam kategori lainnya. Ini termasuk disfungsi seksual yang tidak dapat diidentifikasi karena tidak memiliki penyebab yang sesuai dengan kriteria gangguan disfungsi seksual tertentu.

Gangguan rangsangan genital persisten adalah gangguan langka yang dapat terjadi pada pria dan wanita tetapi tidak memiliki kriteria spesifik untuk diagnosis. Wanita dengan gangguan gairah genital yang persisten mengalami gairah fisik yang berlebihan (ditunjukkan dengan peningkatan aliran darah ke organ genital dan peningkatan sekresi vagina), tetapi hasrat seksual tidak ada. Tidak ada penyebab munculnya gairah yang diketahui, dan gairah biasanya tidak hilang setelah orgasme.

Sering kali, wanita dengan disfungsi seksual memiliki lebih dari satu masalah tertentu. Misalnya, wanita yang mengalami nyeri saat berhubungan seks atau kesulitan terangsang biasanya lebih jarang berhubungan seks dan mungkin mengalami kesulitan untuk mencapai orgasme.

Respons seksual seorang wanita sangat dipengaruhi oleh kesehatan mentalnya dan kualitas hubungan dengan pasangannya. Hasrat awal biasanya berkurang seiring bertambahnya usia, tetapi meningkat ketika bersama dengan pasangan baru pada usia berapa pun.

Fungsi Seksual Normal

Fungsi dan respons seksual melibatkan pikiran (pemikiran dan emosi) dan tubuh (termasuk sistem saraf, sirkulasi, dan hormon). Respons seksual meliputi

  • Hasrat, juga disebut minat atau libido

  • Terangsang

  • Orgasme

  • Resolusi

Hasrat (libido)

Hasrat adalah keinginan untuk melakukan atau melanjutkan aktivitas seksual. Hasrat atau keinginan seksual dapat dipicu oleh pikiran, kata-kata, penglihatan, aroma, atau sentuhan. Hasrat seksual mungkin dapat terlihat jelas sejak awal atau mungkin timbul setelah aktivitas dan rangsangan seksual dimulai.

Bagi wanita, hasrat dan gairah seksual sering kali berkaitan erat. Stimulasi seksual dapat memicu kegembiraan dan kenikmatan serta respons fisik (termasuk peningkatan aliran darah ke area genital). Hasrat untuk kepuasan seksual terbangun seiring berlanjutnya aktivitas dan keintiman seksual.

Terangsang

Gairah merupakan elemen subjektif—suatu kegembiraan seksual yang dapat dirasakan dan dipikirkan. Gairah juga memiliki elemen fisik—peningkatan aliran darah ke area kelamin. Aliran darah dapat meningkat tanpa wanita tersebut sadari dan tanpa membuatnya merasa terangsang. Pada wanita, peningkatan aliran darah menyebabkan klitoris dan dinding vagina membengkak (proses yang disebut engorgement). Peningkatan aliran darah juga menyebabkan sekresi vagina (yang memberikan pelumasan) meningkat.

Respons refleksif yang menyebabkan pembengkakan dan pelumasan ini terjadi dalam hitungan detik setelah menerima rangsangan seksual. Otak yang merasakan sesuatu yang bersifat seksual, tidak harus erotis atau membangkitkan gairah secara subjektif, memicu respons ini. Selama menerima respons, wanita muda sering kali menggambarkannya sebagai sensasi seperti kesemutan dan berdenyut-denyut pada area genital. Seiring bertambahnya usia wanita, aliran darah ke area genital akibat rangsangan seksual menurun, tetapi pelumasan sebagai respons terhadap rangsangan seksual mungkin tidak berkurang.

Orgasme

Orgasme adalah puncak atau klimaks gairah seksual. Tepat sebelum orgasme, ketegangan otot di seluruh tubuh meningkat. Saat orgasme dimulai, otot-otot di sekitar vagina berkontraksi secara berirama. Wanita mungkin mengalami beberapa kali orgasme. Hormon-hormon yang dilepaskan saat orgasme dapat menimbulkan perasaan nyaman, rileks, atau lelah yang mengikutinya (resolusi).

Resolusi

Resolusi adalah rasa nyaman dan relaksasi otot yang meluas. Resolusi biasanya terjadi setelah orgasme. Meski demikian, resolusi dapat terjadi secara perlahan setelah aktivitas seksual yang sangat menggairahkan tanpa orgasme. Beberapa wanita dapat merespons stimulasi tambahan segera setelah resolusi.

Penyebab

Banyak faktor yang menyebabkan atau berkontribusi terhadap berbagai jenis disfungsi seksual. Biasanya, disfungsi seksual disebabkan oleh faktor fisik atau psikologis. Namun, kedua jenis penyebab tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Faktor psikologis dapat memengaruhi perubahan fisik pada otak, saraf, hormon, dan pada akhirnya organ genital. Perubahan fisik dapat memengaruhi efek psikologis, yang pada gilirannya menimbulkan dampak fisik yang lebih besar. Beberapa faktor lebih terkait dengan situasi daripada dengan wanita itu sendiri. Selain itu, penyebab disfungsi seksual sering kali tidak jelas.

Faktor psikologis

Depresi dan kecemasan umumnya menyebabkan disfungsi seksual. Terkadang, ketika depresi diobati secara efektif, disfungsi seksual juga membaik. Meski demikian, beberapa jenis antidepresan (penghambat reuptake serotonin selektif) juga dapat menyebabkan disfungsi seksual.

Berbagai ketakutan—ketakutan untuk melepaskan, ditolak, atau kehilangan kendali—dan tidak percaya diri dapat menyebabkan disfungsi seksual.

Pengalaman sebelumnya dapat memengaruhi perkembangan psikologis dan seksual wanita, sehingga menimbulkan masalah, seperti berikut ini:

  • Pengalaman seksual atau pengalaman lain yang negatif, termasuk trauma seksual, dapat menyebabkan tidak percaya diri, malu, atau rasa bersalah.

  • Pelecehan emosional, fisik, atau seksual selama masa kanak-kanak atau remaja dapat memengaruhi anak-anak untuk mengendalikan dan menyembunyikan emosi—mekanisme pertahanan diri. Namun demikian, wanita yang mengendalikan dan menyembunyikan emosinya mungkin mengalami kesulitan untuk mengekspresikan perasaan seksual.

  • Jika wanita kehilangan orang tua atau orang terkasih lainnya selama masa kanak-kanak, mereka mungkin mengalami kesulitan untuk dekat dengan pasangan seks karena mereka takut merasakan kehilangan yang sama—terkadang tanpa menyadarinya.

Berbagai kekhawatiran seksual dapat mengganggu fungsi seksual. Misalnya, wanita mungkin khawatir tentang konsekuensi seks yang tidak diinginkan (seperti kehamilan atau infeksi menular seksual) atau tentang kinerja seksual mereka atau pasangan mereka.

Faktor yang terkait dengan situasi yang sedang terjadi (disebut faktor kontekstual) yang dapat memengaruhi fungsi seksual wanita meliputi

  • Citra diri: Misalnya, wanita mungkin memiliki citra seksual diri yang rendah jika mereka memiliki citra tubuh negatif, sulit menahan buang air kecil, mengalami masalah kesuburan, atau pernah menjalani operasi pengangkatan payudara, rahim, atau bagian tubuh lainnya yang terkait dengan seks.

  • Hubungan: Wanita mungkin tidak memercayai atau memiliki perasaan negatif terhadap pasangan mereka. Mereka mungkin merasa kurang tertarik dengan pasangan mereka daripada sebelumnya dalam hubungan mereka.

  • Lingkungan Sekitar: Tempatnya mungkin kurang erotis, pribadi, atau cukup aman untuk mengekpresikan keinginan seksual.

  • Budaya: Wanita dapat berasal dari budaya yang membatasi ekspresi atau aktivitas seksual. Budaya terkadang membuat wanita merasa malu atau bersalah karena seksualitas. Wanita dan pasangannya mungkin berasal dari budaya yang melihat praktik seksual tertentu secara berbeda.

  • Gangguan atau stres emosional: Keluarga, pekerjaan, keuangan, atau hal lain yang dapat menyibukkan wanita dapat menyebabkan terganggunya gairah seksual.

Tahukah Anda...

  • Mengonsumsi SSRI (sejenis antidepresan) dapat mengganggu fungsi seksual, demikian pula dengan depresi yang tidak ditangani.

Faktor fisik

Berbagai kondisi fisik, hormon, pengobatan, dan obat-obatan terlarang dapat menyebabkan atau menimbulkan disfungsi seksual. Perubahan hormonal, yang terjadi seiring bertambahnya usia atau akibat dari suatu kelainan, dapat menimbulkan gangguan.

Setelah menopause, perubahan pada vagina dan saluran kemih (disebut sindrom genitourinari menopause) dapat memengaruhi fungsi seksual. Misalnya, jaringan vagina dapat menipis, kering, dan kurang elastis setelah menopause karena kadar estrogen menurun. Kondisi ini, yang disebut atrofi vulvovaginal (atau vaginitis atrofi), dapat membuat hubungan seksual menjadi menyakitkan. Gangguan buang air kecil yang dapat terjadi pada saat menopause meliputi kebutuhan mendesak untuk buang air kecil (urgensi buang air kecil) dan infeksi saluran kemih berulang.

Gejala serupa juga dapat terjadi akibat pengangkatan ovarium dan perubahan hormon yang terjadi setelah melahirkan (pascapartum).

Penghambat reuptake serotonin selektif (selective serotonin reuptake inhibitor, SSRI), sejenis antidepresan, umumnya dapat menimbulkan masalah pada fungsi seksual. Obat-obatan ini dapat menyebabkan beberapa jenis disfungsi seksual.

Alkohol juga dapat menyebabkan masalah fungsi seksual.

Tabel
Tabel

Diagnosis

  • Wawancara dengan wanita yang mengalaminya dan, terkadang, pasangannya

  • Pemeriksaan panggul

Gangguan disfungsi seksual biasanya didiagnosis ketika gejala telah muncul minimal selama 6 bulan dan mulai mengakibatkan tekanan yang signifikan. Beberapa wanita mungkin tidak mengalami tekanan atau terganggu oleh penurunan atau tidak adanya hasrat seksual, minat, gairah, atau orgasme. Dalam kasus tersebut, gangguan tidak didiagnosis.

Disfungsi seksual wanita dapat ditandai dengan setidaknya salah satu dari gejala berikut ini:

  • Nyeri selama melakukan aktivitas seksual

  • Hilangnya hasrat seksual

  • Gairah yang terganggu

  • Ketidakmampuan untuk mencapai orgasme

Diagnosis gangguan disfungsi seksual melibatkan pertanyaan terperinci pada wanita yang mengalaminya, dan terkadang, pasangannya. Dokter terlebih dahulu meminta wanita tersebut untuk menjelaskan masalah yang ia alami dengan kata-katanya sendiri. Dokter menanyakan hal-hal berikut:

  • Gejala

  • Gangguan lainnya

  • Prosedur ginekologi dan kebidanan yang dilakukan

  • Cedera pada area panggul

  • Trauma seksual

  • Penggunaan obat terlarang

  • Hubungan dengan pasangannya

  • Masalah fungsi seksual pada pasangannya

  • Suasana hati

  • Penghargaan terhadap diri sendiri

  • Hubungan pada masa kecil

  • Pengalaman seksual masa lalu

  • Kepribadian (seperti kemampuan wanita tersebut untuk percaya, kecenderungan untuk cemas, dan merasa perlu untuk memegang kendali)

Dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk mencari adanya kelainan pada organ genital eksternal dan internal, termasuk vulva, vagina, dan serviks. Dokter sering kali dapat mengidentifikasi dari mana rasa sakit tersebut berasal. Beberapa wanita dengan nyeri seksual atau riwayat trauma seksual merasa sulit untuk menjalani pemeriksaan panggul. Hal ini dapat didiskusikan dengan dokter sebelum pemeriksaan. Beberapa strategi untuk membuat pemeriksaan panggul lebih dapat diterima adalah sebagai berikut:

  • Seorang wanita dan dokternya dapat berdiskusi sebelum pemeriksaan dimulai dan menyepakati bagaimana cara berkomunikasi selama pemeriksaan.

  • Seorang wanita diperbolehkan memegang cermin untuk dapat melihat apa yang dilihat dokter selama pemeriksaan dan mengizinkan dokter untuk menunjukkan kepadanya apa pun masalah yang terdeteksi.

  • Seorang wanita dapat meletakkan tangannya di tangan dokter untuk dapat merasakan kontrol yang lebih besar selama pemeriksaan.

Namun demikian, jika dokter mencurigai adanya infeksi menular seksual atau infeksi lain (seperti infeksi jamur atau vaginosis bakterialis), mereka dapat memasukkan spekulum (instrumen) ke dalam vagina untuk dapat melihat vagina dan serviks (seperti yang dilakukan selama tes Papanicolaou, atau Pap,) dan mengambil sampel cairan dari vagina atau serviks dan mengirimkannya ke laboratorium untuk diuji.

Pengobatan

  • Pengobatan penyebab nyeri seksual

  • Obat-obatan, termasuk terapi hormon

  • Terapi fisik panggul

  • Terkadang, psikoterapi atau terapi seks pribadi atau pasangan

Pengobatan tertentu bergantung pada penyebab disfungsi seksual. Namun demikian, beberapa tindakan umum dapat membantu terlepas dari apa pun penyebabnya:

  • Untuk kedua pasangan, mempelajari anatomi wanita dan cara-cara meningkatkan libido atau membuat wanita terangsang

  • Meningkatkan komunikasi, termasuk tentang seks, antara wanita tersebut dan pasangannya

  • Mendorong kepercayaan, rasa hormat, dan keintiman emosional di antara pasangan: Kualitas tersebut harus dibangun dengan atau tanpa bantuan profesional. Beberapa pasangan mungkin memerlukan bantuan untuk belajar menyelesaikan konflik, yang dapat mengganggu hubungan mereka.

  • Menyisihkan waktu bersama yang tidak melibatkan aktivitas seksual: Pasangan yang saling berbicara pada satu sama lain secara rutin lebih cenderung ingin dan menikmati aktivitas seksual bersama-sama.

  • Meluangkan waktu dan memberi ruang untuk aktivitas seksual: Wanita mungkin disibukkan atau terganggu oleh kegiatan lain (termasuk pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, atau anak-anak). Memastikan tempat tersebut bersifat pribadi dapat membantu jika wanita tersebut takut ditemukan atau diinterupsi. Harus memberikan waktu yang cukup, dan suasana yang mendorong perasaan seksual dapat membantu.

  • Terlibat dalam berbagai jenis aktivitas seksual: Misalnya, membelai dan mencium bagian tubuh yang responsif dan cukup menyentuh alat kelamin satu sama lain sebelum memulai hubungan dapat meningkatkan keintiman dan mengurangi kecemasan.

  • Mengambil langkah-langkah untuk mencegah konsekuensi yang tidak diinginkan: Langkah-langkah tersebut sangat berguna ketika rasa takut akan kehamilan atau infeksi menular seksual menghambat gairah.

  • Berlatih kesadaran: Kesadaran melibatkan pembelajaran untuk fokus pada hal yang sedang terjadi, tanpa membuat penilaian atau memantau hal yang sedang terjadi. Bersikap penuh kesadaran membantu membebaskan wanita dari gangguan dan memungkinkan mereka memperhatikan sensasi selama aktivitas seksual dengan tetap menikmati momen tersebut. Sumber untuk mempelajari cara mempraktikkan kesadaran tersedia di Internet.

Hanya dengan menyadari apa yang perlu dilakukan untuk memberi respons seksual yang sehat mungkin cukup untuk membantu wanita mengubah pemikiran dan perilaku mereka. Namun demikian, sering kali diperlukan lebih dari satu pengobatan karena banyak wanita yang mengalami lebih dari satu disfungsi seksual. Terkadang diperlukan tim multidisiplin, termasuk dokter perawatan utama, ginekolog, spesialis nyeri, psikoterapis, terapis seks, dan/atau terapis fisik.

Obat-obatan

Terapi estrogen dapat digunakan untuk mengobati disfungsi seksual pada wanita dengan sindrom genitourinari menopause. Ketika wanita hanya mengalami gangguan pada vagina dan urine, dokter biasanya akan meresepkan bentuk estrogen yang dapat dimasukkan ke dalam vagina dalam bentuk krim (dengan aplikator plastik), tablet, atau cincin. Krim estrogen juga dapat diaplikasikan secara eksternal ke vulva. Pengobatan ini dapat secara efektif mengobati gejala-gejala yang memengaruhi vagina (seperti kekeringan dan penipisan vagina, kebutuhan mendesak untuk buang air kecil, dan infeksi saluran kemih berulang), tetapi tidak membantu meredakan suasana hati yang berubah-ubah, sensasi panas, atau masalah tidur.

Prasteron (bentuk sintetis dehidroepiandrosteron [DHEA]) yang dimasukkan sebagai supositoria ke dalam vagina, juga dapat meredakan vagina kering dan membuat seks menjadi tidak menyakitkan bagi wanita pascamenopause.

Ospemifen (modulator reseptor estrogen selektif) dapat digunakan untuk mengobati sindrom genitourinari menopause pada wanita yang tidak dapat menggunakan terapi hormon vagina.

Mengingat penghambat reuptake serotonin selektif (selective serotonin reuptake inhibitors atau SSRI, sejenis antidepresan) dapat menyebabkan beberapa jenis disfungsi seksual, menggantinya dengan antidepresan lain yang tidak terlalu mengganggu respons seksual dapat membantu (misalnya, bupropion, moklobemid, mirtazapin, dan duloksetin). Selain itu, mengonsumsi bupropion dengan SSRI mungkin lebih baik untuk respons seksual daripada mengonsumsi SSRI saja. Beberapa bukti menunjukkan bahwa jika wanita berhenti mengalami orgasme saat mereka mulai mengonsumsi SSRI, sildenafil (yang digunakan untuk mengobati disfungsi ereksi) dapat membantu mereka mengalami orgasme lagi. Meski demikian, sildenafil biasanya tidak dianjurkan karena bukti efektivitasnya pada wanita masih belum jelas.

Untuk wanita pascamenopause yang mengonsumsi dosis penuh estrogen dan progestogen, penambahan testosteron (diberikan sebagai pil atau krim yang dioleskan pada kulit), dapat membantu mengatasi gangguan minat seksual/gangguan gairah. Namun, penggunaan testosteron untuk tujuan ini dianggap eksperimental, dan wanita harus mendiskusikan risiko dan manfaatnya terlebih dahulu dengan dokter mereka. Untuk wanita yang mengonsumsi testosteron, dokter harus secara teratur memeriksa adanya efek samping seperti jerawat, pertumbuhan rambut berlebihan (hirsutisme), dan perkembangan karakteristik maskulin (virilisasi).

Terapi psikologis

Terapi psikologis dapat membantu wanita dengan masalah seksual. Misalnya, terapi kognitif-perilaku dapat membantu wanita mengenali penilaian negatif pada diri sendiri yang disebabkan oleh penyakit atau infertilitas. Terapi kognitif berbasis kesadaran menggabungkan terapi perilaku kognitif dengan praktik kesadaran. Seperti dalam terapi kognitif-perilaku, wanita didorong untuk mengidentifikasi pemikiran negatif. Para wanita kemudian didorong untuk mengamati pemikiran tersebut dan mengakui bahwa pemikiran tersebut hanyalah sekedar pemikiran dan mungkin tidak mencerminkan realitas. Pendekatan ini dapat membuat pemikiran tersebut tidak terlalu mengganggu dan mengacaukan. Terapi kognitif berbasis kesadaran dapat digunakan untuk mengobati gangguan minat/gairah seksual dan nyeri yang timbul setiap kali ada tekanan pada lubang vagina (disebut vulvar vestibulitis, suatu jenis gangguan penetrasi/nyeri genito-pelvik).

Psikoterapi lebih mendalam mungkin diperlukan jika terdapat masalah dari masa kanak-kanak (seperti trauma seksual) yang mengganggu fungsi seksual.

Terapi pasangan mungkin bermanfaat untuk meningkatkan komunikasi atau mengatasi masalah hubungan. Terapi seks sering kali membantu wanita dan pasangan mereka menangani masalah yang memengaruhi kehidupan seksual mereka, seperti masalah seksual tertentu dan hubungan mereka terhadap satu sama lain.

Pengobatan lainnya

Beberapa jenis terapi fisik dapat berguna pada wanita dengan gangguan penetrasi/nyeri genito-pelvik.

Terapis fisik dapat menggunakan beberapa teknik untuk meregangkan dan mengendurkan otot-otot panggul yang tegang:

  • Mobilisasi jaringan lunak dan pelepasan miofasial: Menggunakan berbagai gerakan (seperti mendorong atau memijat secara berirama) untuk memberikan tekanan dan meregangkan otot yang terkena atau jaringan yang menutupi otot (miofasia)

  • Tekanan pada titik pemicu: Memberikan tekanan pada area yang sangat sensitif pada otot yang terdampak, yang mungkin merupakan titik awal nyeri (titik pemicu)

  • Stimulasi listrik: Memberikan arus listrik lembut melalui alat yang diposisikan pada bukaan vagina

  • Melatih kandung kemih dan melatih ulang usus: Meminta wanita mengikuti aturan yang ketat untuk buang air kecil dan merekomendasikan olahraga untuk memperkuat otot-otot di sekitar uretra dan anus, terkadang dengan biofeedback

  • Ultrasonografi terapeutik: Menerapkan energi (yang dihasilkan oleh gelombang suara berfrekuensi tinggi) pada otot-otot yang terdampak (meningkatkan aliran darah ke area tersebut, meningkatkan penyembuhan, dan mengendurkan otot-otot yang tegang)

Jika otot panggul yang tegang membuat aktivitas seksual terasa menyakitkan, wanita dapat memasukkan alat dilatasi mandiri, yang tersedia dengan resep dokter dan dijual bebas, untuk meregangkan dan membuat sensitifitas vagina berkurang. Dengan demikian aktivitas seksual dapat berjalan lebih nyaman.

Pelumas dan pelembap vagina dapat mengurangi kekeringan vagina, yang menyebabkan rasa sakit selama berhubungan seksual. Perawatan ini termasuk minyak berbasis makanan (seperti minyak kelapa), pelumas berbasis silikon, dan produk berbasis air. Pelumas berbahan dasar air cepat kering dan mungkin harus diaplikasikan kembali, tetapi lebih disukai daripada petrolatum dan pelumas berbasis minyak lainnya. Minyak berbasis makanan dapat merusak alat kontrasepsi lateks seperti kondom dan diafragma. Tidak boleh digunakan bersama kondom. Pelumas berbahan dasar silikon dapat digunakan bersama kondom dan diafragma, demikian pula pelumas berbahan dasar air. Perempuan dapat bertanya kepada dokter mereka jenis pelumas mana yang terbaik untuk mereka.

Tergantung jenis disfungsinya, pelatihan keterampilan seksual (misalnya, instruksi dalam masturbasi) dan pelatihan untuk memfasilitasi komunikasi dengan pasangan tentang kebutuhan dan preferensi seksual dapat diterapkan.

Perangkat seperti vibrator atau alat pengisap klitoris dapat digunakan oleh wanita dengan gangguan minat seksual/gairah atau gangguan orgasme, tetapi hanya ada sedikit bukti yang mendukung efektivitas alat ini. Banyak dari produk tersebut dijual bebas.

Alasan utama wanita yang lebih tua menyerah dalam hal seks adalah kurangnya pasangan yang berfungsi secara seksual. Namun demikian, perubahan terkait usia, terutama yang disebabkan oleh menopause, dapat membuat wanita cenderung mengalami disfungsi seksual. Selain itu, kondisi medis yang dapat mengganggu fungsi seksual, seperti diabetes, aterosklerosis, infeksi saluran kemih, dan artritis, menjadi lebih banyak terjadi seiring bertambahnya usia wanita. Namun demikian, perubahan ini tidak berarti dapat mengakhiri aktivitas dan kesenangan seksual, dan tidak semua disfungsi seksual pada wanita lanjut usia disebabkan oleh perubahan terkait usia.

Pada wanita yang lebih tua dan juga wanita yang lebih muda, masalah yang paling umum adalah kurangnya minat terhadap seks.

Setelah menopause, lebih sedikit estrogen yang dihasilkan.

  • Jaringan di sekitar bukaan vagina (labia) dan dinding vagina menjadi kurang elastis dan lebih tipis (disebut atrofi vagina). Jaringan juga dapat mengalami peradangan dan iritasi karena produksi estrogen yang menurun (disebut vaginitis atrofik). Kedua perubahan tersebut dapat menyebabkan nyeri ketika melakukan aktivitas seksual yang melibatkan penetrasi.

  • Sekresi vagina berkurang, sehingga memberikan sedikit pelumasan selama berhubungan seksual.

  • Keasaman vagina menurun, membuat alat kelamin lebih mudah mengalami iritasi dan infeksi.

  • Berkurangnya estrogen seiring bertambahnya usia dapat berkontribusi pada pelemahan otot dan jaringan pendukung lainnya di panggul, terkadang memungkinkan organ panggul (kandung kemih, usus, rahim, atau rektum) menonjol ke dalam vagina (disebut prolaps organ panggul). Akibatnya, urine dapat keluar tanpa disengaja, sehingga menimbulkan rasa malu.

  • Seiring bertambahnya usia, aliran darah ke vagina berkurang, menyebabkan vagina menjadi lebih pendek, sempit, dan kering. Gangguan pembuluh darah (seperti aterosklerosis) dapat semakin mengurangi aliran darah.

Penurunan produksi testosteron ketika wanita memasuki usia 30-an, dan produksi testosteron akhirnya akan berhenti ketika memasuki usia 70-an. Apakah penurunan testosteron menyebabkan penurunan minat dan respons seksual masih belum bisa dijelaskan.

Masalah lain dapat mengganggu fungsi seksual. Sebagai contoh, wanita lansia mungkin merasa tertekan dengan perubahan pada tubuh mereka yang disebabkan oleh kondisi medis, pembedahan, atau penuaan itu sendiri. Mereka mungkin memiliki pandangan budaya bahwa hasrat seksual dan fantasi tidak patut atau memalukan pada usia yang lebih tua. Mereka mungkin mengkhawatirkan kesehatan umum atau fungsi seksual pasangan mereka.

Banyak wanita paruh baya yang tertarik dengan seks. Wanita paruh baya tidak boleh berasumsi bahwa disfungsi seksual adalah normal untuk usia yang lebih tua. Jika disfungsi seksual mengganggu mereka, mereka harus berkonsultasi dengan dokter mereka. Dalam banyak kasus, mengobati kondisi kesehatan (termasuk depresi), menghentikan atau mengganti obat, mempelajari lebih lanjut tentang fungsi seksual, atau berbicara dengan tenaga perawatan kesehatan profesional atau konselor dapat membantu.

Kekeringan vagina atau rasa sakit saat berhubungan seks akibat menopause dapat diobati dengan terapi hormon vagina, termasuk estrogen dosis rendah (dalam bentuk krim, tablet, atau cincin) atau dehidroepiandrosteron (DHEA, dalam bentuk supositoria). Estrogen dapat dikonsumsi dengan diminum atau diaplikasikan pada kulit dalam bentuk koyo atau gel, tetapi bentuk estrogen ini dapat memengaruhi seluruh tubuh dan biasanya hanya digunakan jika seorang wanita juga memiliki gejala menopause lainnya (seperti sensasi panas) dan biasanya tidak diberikan kepada wanita yang berusia lebih dari 60 tahun. Estrogen memiliki potensi risiko (termasuk bekuan darah dan sedikit peningkatan risiko kanker payudara) yang sama besarnya dengan manfaatnya, sehingga wanita harus berbicara dengan dokter mereka tentang risiko dan manfaatnya sebelum mulai menggunakannya.

Terkadang, diberikan resep untuk mengonsumsi testosteron sebagai tambahan untuk terapi estrogen jika semua tindakan lainnya tidak efektif, tetapi membuat resep untuk kombinasi ini tidak dianjurkan. Kombinasi tersebut masih dianggap eksperimental dan belum diketahui keamanannya untuk jangka panjang.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!