Kekurangan gizi

OlehShilpa N Bhupathiraju, PhD, Harvard Medical School and Brigham and Women's Hospital;
Frank Hu, MD, MPH, PhD, Harvard T.H. Chan School of Public Health
Ditinjau OlehGlenn D. Braunstein, MD, Cedars-Sinai Medical Center
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Oct 2023
v765403_id

Kekurangan gizi adalah defisiensi kalori atau satu atau beberapa zat gizi penting.

  • Kekurangan gizi dapat terjadi karena orang tidak dapat memperoleh atau menyiapkan makanan, memiliki gangguan yang membuatnya kesulitan untuk makan atau menyerap makanan, atau memiliki kebutuhan kalori yang sangat meningkat, seperti yang terjadi selama periode pertumbuhan cepat.

  • Kekurangan gizi sering terlihat jelas: Orang-orang memiliki berat badan yang kurang, tulangnya sering kali menonjol, kulitnya kering dan tidak elastis, dan rambutnya kering dan mudah rontok.

  • Dokter biasanya dapat mendiagnosis kekurangan gizi berdasarkan penampilan, tinggi badan dan berat badan, serta situasi seseorang (termasuk informasi tentang pola makan dan penurunan berat badan).

  • Orang diberi makanan dalam jumlah yang meningkat secara bertahap, secara oral jika memungkinkan tetapi terkadang melalui slang yang dilewatkan ke tenggorokan menuju ke lambung atau dimasukkan melalui pembuluh vena (secara intravena).

Kekurangan gizi biasanya dianggap sebagai defisiensi, terutama defisiensi kalori (yaitu, konsumsi makanan keseluruhan) atau protein. Defisiensi vitamin dan defisiensi mineral biasanya dianggap sebagai gangguan terpisah. Namun demikian, jika kekurangan kalori, maka vitamin dan mineral juga cenderung kurang. Kekurangan gizi, yang sering digunakan secara bergantian dengan malnutrisi, sebenarnya merupakan sejenis malnutrisi.

Malnutrisi adalah ketidakseimbangan antara zat gizi yang dibutuhkan tubuh dengan zat gizi yang diperolehnya. Dengan demikian, malnutrisi juga mencakup kelebihan gizi (konsumsi terlalu banyak kalori atau terlalu banyak zat gizi spesifik—protein, lemak, vitamin, mineral, atau suplemen makanan lainnya), serta kekurangan gizi.

Jumlah orang yang kurang gizi di dunia telah meningkat sejak 2014. Dalam Kondisi Ketahanan Pangan dan Nutrisi di Dunia 2023, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa hampir 735 juta orang, atau 9,2% dari populasi global, mengalami kekurangan gizi pada tahun 2023, yaitu 122 juta orang lebih banyak daripada tahun 2019. Sebagian besar tinggal di negara dengan tingkat kerawanan pangan yang tinggi. Prevalensi kekurangan gizi di Afrika meningkat dari 19,4% pada tahun 2021 menjadi 19,7% pada tahun 2022. Namun di Asia, prevalensi kekurangan gizi menurun dari 8,8% pada tahun 2021 menjadi 8,5% pada tahun 2022, menurun lebih dari 12 juta orang. Namun, angka-angka ini 58 juta di atas tingkat sebelum pandemi. Hampir 600 juta orang diperkirakan mengalami kekurangan gizi kronis pada tahun 2030. Perkiraan ini 23 juta lebih banyak daripada jika perang di Ukraina tidak terjadi dan 119 juta lebih banyak daripada jika pandemi atau perang di Ukraina tidak terjadi.

Kekurangan gizi berlangsung secara bertahap. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan atau sangat cepat, seperti yang dapat terjadi ketika kanker berkembang dengan cepat. Jika seseorang tidak mengonsumsi cukup kalori, tubuh terlebih dahulu memecah lemaknya sendiri dan menggunakannya untuk kalori—hampir seperti membakar mebel untuk menjaga agar rumah tetap hangat. Setelah cadangan lemak habis terpakai, tubuh dapat memecah jaringan lainnya, seperti otot dan jaringan dalam organ dalam, yang menyebabkan masalah serius, termasuk kematian.

Kekurangan Gizi Energi Protein

Kekurangan gizi energi protein (juga disebut malnutrisi energi protein) adalah defisiensi protein dan kalori yang berat yang terjadi ketika seseorang tidak mengonsumsi cukup protein dan kalori untuk waktu yang lama.

Di negara-negara dengan tingkat kerawanan pangan yang tinggi, kekurangan gizi energi protein sering dialami oleh anak-anak. Hal ini berkontribusi terhadap kematian pada lebih dari setengah anak-anak yang meninggal (misalnya, dengan meningkatnya risiko perkembangan infeksi yang mengancam jiwa dan, jika infeksi berkembang, dengan bertambahnya tingkat keparahannya). Namun, gangguan ini dapat dialami oleh siapa saja, terlepas dari usianya, jika pasokan makanan tidak memadai.

Di seluruh dunia, strategi pencegahan yang paling penting adalah mengurangi kemiskinan dan meningkatkan edukasi nutrisi dan langkah-langkah kesehatan masyarakat.

Kekurangan gizi energi protein memiliki tiga bentuk utama:

  • Marasmus

  • Kwashiorkor

  • Kwashiorkor Marasmik

Marasmus

Marasmus adalah defisiensi kalori dan protein yang berat. Penyakit ini cenderung dialami oleh bayi dan anak-anak yang masih sangat kecil. Hal ini biasanya menyebabkan penurunan berat badan, hilangnya otot dan lemak, serta dehidrasi. Pemberian ASI biasanya melindungi dari marasmus.

Kwashiorkor

Kwashiorkor adalah defisiensi protein yang lebih parah daripada kalori. Kwashiorkor lebih jarang terjadi dibandingkan marasmus. Istilah ini berasal dari istilah Afrika yang berarti “anak pertama–anak kedua” karena bayi pertama lahir sering mengalami kwashiorkor ketika anak kedua lahir dan menggantikan anak pertama yang menerima ASI dari ibunya. Karena anak-anak cenderung mengalami kwashiorkor setelah disapih, mereka biasanya berusia lebih tua daripada mereka yang menderita marasmus.

Kwashiorkor cenderung terbatas pada area tertentu di dunia yang mengalami defisiensi protein dalam makanan pokok dan makanan yang digunakan untuk menyapih bayi meskipun mengandung cukup kalori sebagai karbohidrat. Contoh makanan tersebut adalah talas, singkong, nasi, ubi jalar, dan pisang hijau. Namun demikian, siapa pun dapat mengalami kwashiorkor jika pola makan mereka terutama terdiri dari karbohidrat. Seorang penderita kwashiorkor akan mengalami cairan, sehingga membuatnya tampak gembung dan membengkak. Jika kwashiorkor parah, dapat terjadi penonjolan perut.

Kwashiorkor Marasmik

Kwashiorkor marasmik terjadi ketika anak yang menderita kwashiorkor tidak mengonsumsi cukup kalori. Orang-orang dengan gangguan ini akan mengalami retensi cairan, sementara otot serta jaringan lemak mereka menyusut.

Kelaparan

Kelaparan adalah bentuk kekurangan gizi energi protein yang paling ekstrem. Kondisi ini diakibatkan oleh kekurangan zat gizi dalam waktu yang lama. Ini biasanya terjadi karena makanan tidak tersedia (misalnya, selama masa paceklik), tetapi kadang-kadang terjadi ketika makanan tersedia (misalnya, ketika orang berpuasa atau mengalami anoreksia nervosa).

Penyebab Kekurangan Gizi

Kekurangan gizi disebabkan oleh faktor sosial, budaya, dan politik, termasuk yang berikut ini:

  • Kemiskinan

  • Perang

  • Kerusuhan sipil

  • Kepadatan populasi

  • Kondisi hunian yang tidak aman

  • Penyakit infeksi

  • Pandemi

  • Urbanisasi

Kemiskinan adalah penyebab utama kekurangan gizi di negara-negara berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi. Kondisi ini juga merupakan penyebab paling umum kerawanan pangan. Di daerah yang tidak mengalami kerawanan pangan yang meluas umumnya jauh lebih jarang mengalami kekurangan gizi daripada kelebihan gizi.

Kondisi tertentu meningkatkan risiko kekurangan gizi. Kondisi ini (faktor risiko) meliputi hal berikut:

  • Tidak bisa mendapatkan makanan

  • Menjadi tunawisma

  • Memiliki kondisi kesehatan mental

  • Memiliki gangguan yang menghalangi konsumsi, pemrosesan (metabolisme), atau penyerapan zat gizi

  • Mengalami diare kronis sehingga menyebabkan hilangnya zat gizi

  • Sakit parah (sakit dapat membuat orang tidak bisa mengonsumsi cukup makanan karena kehilangan nafsu makan atau karena kebutuhan tubuh mereka akan zat gizi meningkat drastis)

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu atau menggunakan zat-zat tertentu, seperti alkohol atau obat-obatan terlarang

  • Merokok

  • Berusia muda (bayi, anak-anak, dan remaja berisiko kekurangan gizi karena mereka dalam masa pertumbuhan dan dengan demikian membutuhkan banyak kalori dan zat gizi)

  • Berusia lanjut

Orang mungkin tidak dapat memperoleh makanan karena tidak mampu membelinya, tidak memiliki cara untuk pergi ke toko, atau secara fisik tidak dapat berbelanja. Di sebagan wilayah di dunia, pasokan makanan tidak memadai akibat perang, kekeringan, banjir, atau beragam faktor lainnya.

Beberapa gangguan, seperti gangguan malabsorpsi, menghalangi penyerapan vitamin dan mineral. Pembedahan yang melibatkan pengangkatan bagian tertentu dari saluran pencernaan dapat memberikan efek yang sama. Beberapa gangguan, seperti AIDS, kanker, atau depresi, menjadikan seseorang kehilangan nafsu makan dan mengonsumsi lebih sedikit makanan, sehingga menyebabkan kekurangan gizi.

Mengonsumsi obat-obatan tertentu dapat menyebabkan kekurangan gizi. Mereka dapat melakukan hal-hal berikut:

  • Mengurangi nafsu makan: Contohnya adalah obat-obatan yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi (seperti diuretik), gagal jantung (seperti digoksin), atau kanker (seperti sisplatin).

  • Menyebabkan mual, sehingga menurunkan nafsu makan

  • Meningkatkan metabolisme (seperti tiroksin dan teofilin) sehingga meningkatkan kebutuhan akan kalori dan zat gizi

  • Mengganggu penyerapan zat gizi tertentu di dalam usus

Meminum alkohol terlalu banyak, yang mengandung kalori tetapi sedikit nilai gizi, dapat menurunkan nafsu makan. Karena alkohol merusak hati, alkohol juga dapat mengganggu penyerapan dan penggunaan zat gizi. Gangguan penggunaan alkohol dapat menyebabkan defisiensi magnesium, seng, dan vitamin tertentu, termasuk tiamin.

Selain itu, menghentikan obat-obatan tertentu (seperti obat antikecemasan dan obat antipsikotik) atau menghentikan konsumsi alkohol dapat menyebabkan penurunan berat badan dan/atau kekurangan gizi.

Merokok dapat menurunkan ketajaman indra perasa dan penciuman, sehingga makanan menjadi kurang menarik. Merokok juga tampaknya menyebabkan perubahan lain dalam tubuh yang berkontribusi terhadap berat badan rendah. Misalnya, merokok merangsang sistem saraf simpatik, yang meningkatkan penggunaan energi tubuh.

Beberapa kondisi sangat meningkatkan jumlah kalori yang dibutuhkan. Antara lain infeksi, cedera, kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme), luka bakar yang luas, dan demam yang berlangsung lama.

Di Amerika Serikat, sekitar 1 dari 7 lansia yang tinggal di tengah-tengah masyarakat mengonsumsi kurang dari 1.000 kalori sehari—tidak cukup untuk mendapatkan nutrisi yang memadai. Sebanyak setengah dari populasi lansia di rumah sakit dan fasilitas perawatan jangka panjang tidak mengonsumsi cukup kalori.

Tahukah Anda...

  • Sekitar 1 dari 7 lansia yang tinggal di tengah-tengah masyarakat dan sebanyak setengah dari populasi lansia yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang mengalami kekurangan gizi.

Pada lansia, terdapat banyak faktor, termasuk perubahan terkait usia dalam tubuh, yang saling mendukung untuk menyebabkan mereka kekurangan gizi (lihat bilah samping ).

Tabel
Tabel

Gejala Kekurangan Gizi

Tanda paling jelas dari defisiensi kalori adalah kehilangan lemak tubuh (jaringan adiposa).

Tabel
Tabel

Jika orang kelaparan selama sekitar 1 bulan, mereka akan kehilangan sekitar seperempat dari berat badan mereka. Jika kelaparan berlanjut dalam waktu yang lama, orang dewasa dapat kehilangan hingga setengah dari berat badan mereka, dan anak-anak dapat kehilangan lebih banyak lagi. Tulang menonjol, dan kulit menjadi tipis, kering, tidak elastis, pucat, dan terasa dingin. Akhirnya, lemak di wajah hilang, sehingga pipi terlihat berongga dan mata tampak cekung. Rambut menjadi kering dan tipis, mudah rontok.

Penyusutan jaringan otot dan jaringan lemak yang parah, disebut kakeksia. Kakeksia dapat menyebabkan produksi berlebihan zat yang disebut sitokin, yang diproduksi oleh sistem imun sebagai respons terhadap suatu gangguan, seperti infeksi, kanker, atau AIDS.

Gejala lain meliputi kelelahan, ketidakmampuan untuk tetap hangat, diare, kehilangan nafsu makan, iritabilitas, dan apati. Dalam kasus yang sangat parah, seseorang dapat menjadi tidak responsif (disebut stupor). Orang tersebut akan merasa lemah dan tidak dapat melakukan aktivitas normal mereka. Pada wanita, siklus menstruasi menjadi tidak teratur atau berhenti. Jika mengalami kekurangan gizi yang berat, cairan dapat terakumulasi di lengan, kaki, dan perut.

Jumlah beberapa jenis sel darah putih menurun, menyerupai apa yang dialami oleh para penderita AIDS. Akibatnya, sistem imun melemah, sehingga meningkatkan risiko infeksi.

Jika defisiensi kalori berlanjut dalam waktu yang lama, gagal hati, gagal jantung, dan/atau gagal napas dapat terjadi. Kelaparan total (jika tidak ada makanan yang dikonsumsi) berakibat fatal dalam waktu 8 hingga 12 minggu.

Anak-anak yang kurang gizi berat mungkin tidak dapat tumbuh normal. Perkembangan perilaku dapat sangat lambat, dan disabilitas intelektual ringan dapat berkembang dan berlanjut hingga setidaknya usia sekolah. Kekurangan gizi, bahkan jika diobati, dapat menimbulkan efek jangka panjang pada anak-anak. Gangguan dalam kemampuan intelektual dan masalah pencernaan dapat berlanjut, terkadang seumur hidup.

Melalui pengobatan, sebagian besar orang dewasa mengalami pemulihan sepenuhnya.

Diagnosis Kekurangan Gizi

  • Evaluasi dokter

  • Terkadang dilakukan tes darah

Dokter biasanya dapat mendiagnosis kekurangan gizi dengan mengajukan pertanyaan tentang pola makan dan penurunan berat badan serta dengan melakukan pemeriksaan fisik (lihat juga Evaluasi Status Nutrisi). Kekurangan gizi yang berat dan sudah berlangsung lama biasanya dapat didiagnosis berdasarkan penampilan dan riwayat orang tersebut.

Dokter juga dapat mengajukan pertanyaan tentang kemampuan seseorang untuk berbelanja dan menyiapkan makanan, adanya gangguan lain, penggunaan obat-obatan atau zat lain, suasana hati, dan fungsi mental. Mereka dapat menggunakan kuesioner standar untuk membantu mendapatkan informasi yang relevan. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu menegakkan diagnosis, terutama jika kekurangan gizi terlihat kurang jelas, dan dapat membantu mengidentifikasi penyebabnya. Mengidentifikasi penyebabnya sangat penting pada anak-anak.

Sebagai bagian dari pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan hal berikut:

  • Mengukur tinggi dan berat badan

  • Menentukan indeks massa tubuh (IMT)

  • Memperkirakan jumlah otot dan lemak di pertengahan lengan atas dengan mengukur lingkar lengan atas dan ketebalan lipatan kulit di bagian belakang lengan atas kiri (lipatan kulit trisep)

  • Memeriksa adanya gejala lain yang dapat mengindikasikan kekurangan gizi (seperti perubahan kulit dan rambut serta akumulasi cairan pada anggota gerak atau perut)

Apa yang mereka temukan dapat membantu mereka menegakkan diagnosis dan menentukan seberapa parah kekurangan gizi yang dialami.

Pengujian

Apakah tes akan dilakukan atau tidak, ini disesuaikan dengan keadaan. Misalnya, jika penyebabnya jelas dan dapat dikoreksi, biasanya tes tidak perlu dilakukan.

Tes yang paling sering dilakukan adalah tes darah untuk mengukur kadar albumin (yang menurun ketika orang tidak mengonsumsi cukup protein). Dokter juga dapat mengukur jumlah jenis sel darah putih tertentu (yang menurun karena kekurangan gizi memburuk). Tes darah lainnya, termasuk hitung darah lengkap, biasanya juga dilakukan.

Tes kulit dapat dilakukan untuk memeriksa seberapa baik fungsi sistem imun. Zat yang mengandung antigen (yang biasanya memicu reaksi imun) akan disuntikkan di bawah kulit. Jika terjadi reaksi dalam jangka waktu tertentu, berarti sistem imun berfungsi secara normal. Reaksi tertunda atau tidak ada reaksi menunjukkan adanya masalah dengan sistem imun, yang mungkin disebabkan oleh kekurangan gizi.

Jika dokter mencurigai adanya defisiensi vitamin atau mineral, tes darah untuk mengukur kadar zat gizi tersebut biasanya akan dilakukan.

Jika dokter mencurigai penyebabnya adalah gangguan lain, maka tes lain dapat dilakukan untuk membantu mengidentifikasi penyebabnya. Misalnya, jika seseorang mengalami diare berat atau tetap berlanjut sekalipun sudah diobati, dokter dapat memeriksa sampel feses untuk mengetahui mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi. Tes, seperti tes urine dan rontgen dada, dapat dilakukan untuk menentukan infeksinya.

Kekurangan gizi pada lansia dianggap serius karena meningkatkan risiko patah tulang, masalah setelah pembedahan, nyeri tekan, dan infeksi. Jika salah satu dari masalah ini terjadi, kemungkinan masalah ini akan menjadi parah pada orang-orang yang kurang gizi.

Lansia berisiko kekurangan gizi karena berbagai alasan.

Perubahan terkait usia dalam tubuh: Dalam tubuh yang menua, produksi dan sensitivitas terhadap hormon (seperti hormon pertumbuhan, insulin, dan androgen) mengalami perubahan. Akibatnya, lansia dapat kehilangan jaringan otot (kondisi yang disebut sarkopenia). Kekurangan gizi dan penurunan aktivitas fisik memperparah kehilangan ini. Selain itu, hilangnya jaringan otot terkait usia merupakan penyebab banyak komplikasi kekurangan gizi pada lansia, seperti risiko infeksi yang lebih tinggi.

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan zat gizi meningkat, tetapi kalori yang dibakar menurun. Jadi lansia perlu mengonsumsi makanan yang mengandung banyak zat gizi tetapi rendah kalori. Pola makan seperti itu mungkin sulit diikuti.

Lansia cenderung merasa kenyang lebih cepat dan kurang memiliki nafsu makan. Dengan demikian, mereka mungkin makan lebih sedikit. Mereka juga dapat makan lebih sedikit karena seiring bertambahnya usia, kemampuan indra perasa dan indra penciuman mengalami penurunan, sehingga mengurangi kenikmatan makanan. Kemampuan menyerap beberapa zat gizi turut berkurang.

Sebagian lansia menghasilkan lebih sedikit air liur, sehingga menyebabkan masalah gigi dan kesulitan menelan.

Gangguan: Banyak gangguan penyebab kekurangan gizi umum dialami oleh lansia.

  • Depresi dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan.

  • Stroke atau tremor dapat menyulitkan seseorang mengunyah, menelan, atau menyiapkan makanan.

  • Artritis atau gangguan fisik lainnya, yang mengurangi kemampuan untuk bergerak, dapat membuat berbelanja dan menyiapkan makanan menjadi lebih sulit.

  • Gangguan malabsorpsi mengganggu penyerapan zat gizi.

  • Kanker dapat mengurangi nafsu makan dan meningkatkan kebutuhan tubuh akan kalori.

  • Demensia dapat membuat orang lupa makan atau menjadi tidak mampu memasak makanan sehingga menurunkan berat badan. Orang dengan demensia stadium lanjut tidak dapat memberi makan dirinya sendiri dan dapat menolak upaya orang lain untuk memberi makan kepada mereka.

  • Masalah gigi (seperti gigi palsu yang tidak cocok atau penyakit gusi) dapat membuat mengunyah dan mencerna makanan menjadi lebih sulit.

  • Anoreksia nervosa yang sudah lama diderita dapat memburuk akibat kejadian di masa tua, seperti kematian pasangan atau ketakutan akan penuaan.

Obat-obatan: Banyak dari obat-obatan yang digunakan untuk mengobati gangguan yang umum terjadi pada lansia (seperti depresi, kanker, gagal jantung, dan tekanan darah tinggi) dapat menyebabkan kekurangan gizi. Obat-obatan dapat meningkatkan kebutuhan tubuh akan zat gizi, sehingga mengubah cara tubuh dalam menggunakan zat gizi, atau menurunkan nafsu makan. Sebagian obat dapat menyebabkan diare atau memiliki efek samping yang mengganggu makan, seperti mual dan konstipasi.

Situasi hidup: Orang yang tinggal sendiri mungkin kurang termotivasi untuk menyiapkan dan mengonsumsi makanan. Mereka mungkin memiliki dana terbatas, sehingga hanya mampu membeli makanan murah yang kurang bergizi atau jumlah makanan yang lebih sedikit. Mereka mungkin memiliki keterbatasan fisik atau takut pergi keluar untuk membeli makanan atau tidak memiliki sarana transportasi untuk pergi ke toko bahan makanan.

Orang-orang yang tinggal di panti memiliki lebih banyak hambatan untuk mendapatkan nutrisi yang memadai.

  • Mereka mungkin bingung dan tidak dapat mengutarakan jika mereka merasa lapar atau apa yang ingin mereka makan.

  • Mereka mungkin tidak dapat memilih makanan yang mereka sukai.

  • Mereka mungkin tidak dapat memberi makan diri mereka sendiri.

  • Jika mereka makan perlahan, terutama jika perlu diberi makan oleh staf, staf mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk melakukannya dengan baik.

  • Paparan sinar matahari yang kurang, konsumsi makanan yang tidak memadai, serta perubahan terkait usia dapat menyebabkan defisiensi vitamin D.

Orang yang menjalani rawat inap terkadang memiliki masalah yang sama.

Pencegahan dan Pengobatan: Lansia dapat didorong untuk mengonsumsi lebih banyak makanan, dan makanan dapat dibuat sedemikian rupa agar lebih menarik. Misalnya dapat disajikan makanan dengan cita rasa yang kuat atau favorit, bukan makanan rendah garam atau rendah lemak.

Lansia mungkin menjalani pola makan khusus (seperti diet rendah garam) karena mereka memiliki gangguan (seperti gagal ginjal atau gagal jantung). Namun, pola makan seperti itu terkadang tidak menarik dan memiliki cita rasa yang kurang. Jika demikian, mereka mungkin tidak mengonsumsi cukup makanan. Dalam hal ini, mereka atau anggota keluarga mereka harus berkonsultasi dengan ahli diet atau dokter tentang cara menyiapkan makanan yang dengan cita rasa lezat bagi mereka dan sesuai dengan kebutuhan pola makan mereka.

Orang-orang yang membutuhkan bantuan untuk berbelanja bahan makanan atau untuk makan sendiri harus mendapatkan bantuan lebih. Misalnya, mereka mungkin membutuhkan pengantaran makanan ke rumah mereka.

Kadang-kadang, orang diberi obat untuk merangsang nafsu makan mereka (seperti dronabinol) atau untuk meningkatkan jumlah jaringan otot (seperti nandrolon atau testosteron).

Pengobatan juga harus diberikan jika terdapat depresi atau gangguan lainnya. Mengobati gangguan ini dapat menghilangkan beberapa hal yang menghambat makan.

Untuk lansia yang tinggal di panti, membuat ruang makan lebih menarik dan memberi mereka lebih banyak waktu untuk makan dapat membantu mereka mengonsumsi lebih banyak makanan.

Pengobatan untuk Kekurangan Gizi

  • Pemberian makan, biasanya secara oral

  • Pengobatan penyebab

  • Terkadang pemberian makanan lewat slang atau secara intravena

  • Untuk kekurangan gizi berat, terkadang diberikan obat-obatan

Bagi kebanyakan orang, pengobatan kekurangan gizi melibatkan peningkatan jumlah kalori yang dikonsumsi secara bertahap. Mengonsumsi makanan bergizi dalam jumlah kecil beberapa kali dalam sehari adalah cara terbaik. Misalnya, untuk orang yang mengalami kelaparan akan pertama kali akan diberi makanan dalam jumlah kecil namun sering (6 sampai 12 kali sehari). Kemudian, jumlah makanan akan ditingkatkan secara bertahap. Jika anak-anak mengalami diare, pemberian makanan mungkin ditunda selama satu atau dua hari agar diare tidak memburuk. Selama interval ini, mereka diberi cairan.

Orang yang mengalami kesulitan mencerna makanan padat mungkin memerlukan suplemen cair atau menjalani pola makan cair. Suplemen bebas laktosa atau rendah laktosa (seperti suplemen berbasis yogurt) sering digunakan karena banyak orang sulit mencerna laktosa (gula dalam produk susu), dan kekurangan gizi dapat memperburuk masalah tersebut. Jika orang-orang tersebut mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa, biasanya akan terjadi diare.

Suplemen multivitamin juga diberikan untuk memastikan orang mendapatkan semua zat gizi yang dibutuhkan.

Pengobatan juga diberikan untuk gangguan yang dapat menyebabkan kekurangan gizi (seperti infeksi). Beberapa ahli merekomendasikan pemberian antibiotik kepada semua anak yang mengalami kekurangan gizi berat, meskipun tidak terlihat adanya infeksi.

Jika mengalami kekurangan gizi berat, seseorang mungkin perlu dirawat di rumah sakit.

Mengonsumsi makanan terlalu cepat setelah mengalami kekurangan gizi berat dapat menyebabkan komplikasi, seperti diare dan ketidakseimbangan cairan tubuh, glukosa (gula), dan zat gizi lainnya. Komplikasi ini biasanya membaik dengan ritme pemberian makanan yang lebih lambat.

Zat gizi diberikan secara oral bila memungkinkan. Jika tidak dapat diberikan secara oral, zat gizi dapat diberikan melalui salah satu cara berikut:

  • Slang yang dimasukkan ke dalam saluran pencernaan (pemberian makanan lewat slang)

  • Slang (kateter) yang dimasukkan ke dalam pembuluh vena (pemberian makanan secara intravena)

Pemberian makanan lewat slang

Pemberian makanan lewat slang (nutrisi enteral) dapat digunakan untuk memberi makan orang yang saluran pencernaannya berfungsi normal jika mereka tidak mengonsumsi makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mereka (seperti orang yang mengalami luka bakar berat) atau jika mereka tidak dapat menelan (seperti beberapa orang yang pernah mengalami stroke).

Untuk pemberian makanan lewat slang, sebuah selang plastik tipis (slang nasogastrik) dilewatkan melalui hidung lalu masuk ke tenggorokan sampai mencapai lambung atau usus halus (disebut intubasi nasogastrik). Jika pemberian makanan lewat slang dalam jangka panjang, slang makanan dapat dimasukkan langsung ke dalam lambung atau usus halus melalui sayatan kecil di perut.

Makanan yang diberikan melalui slang harus mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan seseorang. Tersedia larutan khusus, sebagian di antaranya ditujukan bagi orang-orang dengan kebutuhan khusus (seperti asupan cairan terbatas). Atau, makanan padat dapat diolah dan diberikan melalui slang nasogastrik. Pemberian makanan lewat slang dapat dilakukan perlahan dan terus-menerus atau dalam jumlah yang lebih besar (disebut bolus) setiap beberapa jam.

Pemberian makanan lewat slang dapat menimbulkan banyak masalah, dan masalah tersebut dapat mengancam jiwa.

  • Penghirupan (aspirasi) makanan ke dalam paru-paru: Untuk lansia, aspirasi adalah masalah paling umum yang disebabkan oleh pemberian makanan lewat slang. Aspirasi makanan dapat menyebabkan pneumonia. Makanan cenderung tidak teraspirasi jika larutan diberikan secara perlahan dan jika kepala tempat tidur ditinggikan selama 1 hingga 2 jam setelah pemberian makanan lewat slang, sehingga mengurangi risiko keluarnya kembali makanan (regurgitasi).

  • Diare dan perut tidak nyaman: Mengubah solusi atau memberikannya secara lebih perlahan dapat mengurangi masalah ini.

  • Iritasi jaringan: Slang dapat mengiritasi dan mengikis jaringan hidung, tenggorokan, atau esofagus. Jika jaringan menjadi teriritasi, slang makanan biasanya dapat dilepas, dan pemberian makanan dapat dilanjutkan menggunakan jenis slang yang berbeda.

Pemberian makanan secara intravena

Pemberian makanan secara intravena (nutrisi parenteral) digunakan ketika saluran pencernaan tidak dapat menyerap zat gizi secara memadai (misalnya, pada orang dengan gangguan malabsorpsi). Metode ini juga digunakan ketika saluran pencernaan harus dikosongkan dari makanan untuk sementara waktu (misalnya, pada orang-orang yang menderita kolitis ulseratif berat atau pankreatitis berat).

Makanan yang diberikan secara intravena dapat memasok sebagian kebutuhan nutrisi seseorang (nutrisi parenteral parsial) atau semuanya (nutrisi parenteral total). Karena nutrisi parenteral total membutuhkan slang intravena besar (kateter), maka nutrisi ini dimasukkan ke dalam pembuluh vena besar, seperti pembuluh vena subklavia, yang terletak di bawah tulang selangka.

Pemberian makanan secara intravena juga dapat menimbulkan masalah, seperti berikut ini:

  • Infeksi: Infeksi merupakan risiko yang konstan karena kateter biasanya dibiarkan terpasang dalam waktu yang lama dan larutan yang melewatinya mengandung banyak glukosa (gula), yang mendorong pertumbuhan bakteri. Orang yang menerima nutrisi parenteral total akan dipantau secara ketat untuk melihat adanya tanda-tanda infeksi.

  • Terlalu banyak air (volume berlebihan): Memberikan terlalu banyak air dapat menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru, sehingga menyulitkan pernapasan. Dengan demikian, dokter memantau berat badan orang tersebut dan jumlah urine yang diekskresikan secara teratur. Kadang-kadang mereka dapat mengurangi risiko dengan menghitung jumlah air yang diperlukan sebelum memulai pemberian makanan.

  • Ketidakseimbangan dan defisiensi nutrisi: Meskipun jarang, defisiensi vitamin dan mineral tertentu dapat terjadi. Dokter secara berkala mengukur kadar mineral terlarut (elektrolit) dalam darah, glukosa, dan urea (pengukuran fungsi ginjal) untuk mengidentifikasi ketidakseimbangan nutrisi tertentu. Mereka kemudian dapat menyesuaikan larutannya dengan tepat.

  • Penurunan kepadatan tulang: Nutrisi parenteral total, jika diberikan lebih dari sekitar 3 bulan, dapat menyebabkan kepadatan tulang menurun pada sebagian orang. Alasannya tidak diketahui, dan pengobatan terbaik adalah menghentikan pemberian makan jenis ini untuk sementara atau selamanya.

  • Masalah hati: Nutrisi parenteral total dapat menyebabkan malafungsi hati, paling sering pada bayi prematur. Tes darah dilakukan untuk memantau fungsi hati. Penyesuaian solusi dapat membantu.

  • Masalah kandung empedu: Batu empedu dapat terbentuk. Penanganannya melibatkan penyesuaian larutan dan, jika memungkinkan, memberikan makanan secara oral atau menggunakan slang makanan khusus.

Obat-obatan

"Orang yang sangat kurang gizi terkadang diberi obat untuk meningkatkan nafsu makan, seperti dronabinol atau megestrol, atau untuk meningkatkan massa otot, seperti hormon pertumbuhan atau steroid anabolik (misalnya nandrolon atau testosteron).

Informasi Lebih Lanjut

Referensi berbahasa Inggris berikut ini mungkin akan berguna. Harap diperhatikan bahwa MANUAL ini tidak bertanggung jawab atas konten referensi ini.

  1. Kondisi Ketahanan Pangan dan Nutrisi di Dunia 2023: Laporan ini memaparkan tentang kelaparan global, malnutrisi, kerawanan pangan, dan dampak urbanisasi terhadap sistem pangan, termasuk ketersediaan dan keterjangkauan makanan sehat.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!