Nyeri Genito-Pelvik/Gangguan Penetrasi

(Vaginismus; Sindrom Levator Ani)

OlehAllison Conn, MD, Baylor College of Medicine, Texas Children's Pavilion for Women;
Kelly R. Hodges, MD, Baylor College of Medicine, Texas Children's Pavilion for Women
Ditinjau OlehOluwatosin Goje, MD, MSCR, Cleveland Clinic, Lerner College of Medicine of Case Western Reserve University
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Jul 2023
v804603_id

Nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi meliputi nyeri selama berhubungan seksual atau aktivitas seksual lainnya yang melibatkan penetrasi dan kontraksi otot yang tidak disengaja di sekitar bukaan vagina (sindrom levator ani, atau vaginismus), sehingga mengakibatkan hubungan seksual terasa menyakitkan atau tidak mungkin untuk dilakukan.

  • Sebagian besar wanita dengan nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi merasa cemas dan tidak dapat menoleransi penyisipan benda apa pun ke dalam vagina (seperti saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, atau pemeriksaan panggul).

  • Wanita dapat mengalami gangguan ini setelah mengalami hubungan seksual yang menyakitkan (karena kekeringan vagina atau trauma seksual), atau mungkin tidak ada penyebab yang diketahui.

  • Dokter mendiagnosis nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi berdasarkan gejala, pemeriksaan panggul, dan kriteria spesifik.

  • Pelumas, gel anestesi topikal (pemati rasa), latihan untuk mengendurkan otot-otot panggul, latihan untuk membuat wanita merasa nyaman dengan kontak vagina baik sendiri maupun dengan pasangannya, atau terapi fisik panggul dapat membantu.

(Lihat juga Gambaran Umum Disfungsi Seksual pada Wanita.)

Nyeri selama hubungan seksual dapat terjadi di

  • Vulva (area genital eksternal wanita, termasuk labia, klitoris, dan lubang vagina), yang disebut vulvar vestibulitis: Terjadi saat vulva disentuh, bahkan oleh tekanan ringan

  • Vagina, yang disebut dispareunia: Terjadi saat sesuatu dimasukkan ke dalam vagina

  • Abdomen (perut), disebut dispareunia dalam: Terjadi di abdomen ketika sesuatu dimasukkan ke dalam vagina

Nyerinya mungkin terasa seperti terbakar, tertusuk, atau kram. Otot panggul cenderung mengencang, sehingga dapat meningkatkan nyeri, baik nyeri dangkal maupun dalam.

Pada nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi, otot-otot di sekitar bukaan vagina mengencang secara tidak disengaja ketika seorang wanita berpikir tentang atau mencoba melakukan hubungan seksual (atau memasukkan apa pun ke dalam vagina, seperti selama pemeriksaan panggul).

Banyak wanita dengan nyeri gangguan genito-pelvik/penetrasi juga mengalami kesulitan untuk terangsang dan/atau kesulitan mencapai orgasme.

Anatomi Reproduksi Eksternal Perempuan

Penyebab Nyeri Genito-Pelvik/Gangguan Penetrasi

Penyebab nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi bervariasi bergantung pada apakah nyeri tersebut dangkal atau dalam.

Nyeri vulva

Nyeri vulva dapat terjadi akibat hal-hal berikut:

  • Peningkatan sensitivitas area genital terhadap nyeri (seperti yang dapat terjadi pada vulvar vestibulitis)

  • Menyusui, yang dapat menyebabkan kekeringan pada vagina karena penurunan kadar estrogen

  • Sindrom genitourinari menopause (perubahan pada vagina dan saluran kemih yang dapat terjadi saat menopause)

  • Pelumasan yang tidak memadai akibat pemanasan yang tidak mencukupi

  • Peradangan atau infeksi pada area kelamin (termasuk herpes kelamin dan infeksi jamur) atau kelenjar Bartholin (kelenjar kecil di kedua sisi bukaan vagina)

  • Reaksi alergi terhadap busa atau jeli kontrasepsi atau terhadap kondom lateks

  • Peradangan atau infeksi saluran kemih

  • Cedera pada area genital

  • Riwayat trauma seksual

  • Penggunaan antihistamin, yang dapat menyebabkan sedikit kekeringan sementara pada vagina

  • Terapi radiasi yang memengaruhi vagina, yang dapat membuat vagina menjadi kurang elastis dan dapat menyebabkan luka, membuat area di sekitar vagina menjadi sempit dan lebih pendek

Sindrom genitourinari menopause adalah perubahan pada vagina dan saluran kemih yang terjadi setelah menopause. Jaringan vagina dapat menipis, kering, dan sulit untuk meregang, serta pelumasan untuk berhubungan seksual yang tidak memadai. Perubahan ini terjadi karena kadar estrogen menurun setelah menopause. Perubahan ini dapat membuat hubungan seksual menjadi menyakitkan. Gangguan buang air kecil yang dapat terjadi pada saat menopause meliputi kebutuhan mendesak untuk buang air kecil (urgensi buang air kecil) dan infeksi saluran kemih berulang.

Vulvar vestibulitis (nyeri di area bukaan vagina, yang disebut vulvar vestibula) dapat muncul saat pertama kali sesuatu (seperti tampon, spekulum, atau penis) dimasukkan ke dalam vagina (penetrasi). Atau dapat terjadi pada wanita yang pernah mengalami penetrasi yang nyaman dan tanpa rasa sakit. Vulvar vestibulitis dapat terjadi akibat kombinasi beberapa faktor, termasuk yang berikut ini:

  • Peradangan atau reaksi imun (yang dapat terjadi akibat kontak dengan zat yang menyebabkan iritasi, kontak dengan iritan, infeksi, atau obat)

  • Peningkatan jumlah serat saraf (yang terkadang sudah ada sejak lahir), membuat area tersebut menjadi lebih sensitif terhadap nyeri

  • Menopause atau penyebab lain yang menurunkan produksi estrogen

  • Masalah dengan otot dasar panggul (otot yang terletak di bagian bawah panggul dan yang menopang organ di panggul, termasuk vagina)

Vulvar vestibulitis dapat terjadi pada sindrom nyeri kronis, termasuk fibromialgia, sistitis interstisial, dan sindrom iritasi usus besar. Selain itu, gangguan jaringan ikat tertentu (seperti pada sindrom Ehlers-Danlos) dapat meningkatkan risiko vulvar vestibulitis.

Nyeri vagina

Nyeri vagina selama atau setelah berhubungan seksual dapat terjadi akibat hal berikut:

  • Vaginitis (vaginosis bakterialis, infeksi jamur, atau infeksi trikomoniasis)

  • Jarang terjadi, kelainan yang terjadi pada saat lahir (seperti kelainan sekat di dalam vagina) atau himen atau disebut juga selaput dara yang mengganggu masuknya penis

  • Pembedahan yang mempersempit vagina (misalnya untuk memperbaiki jaringan yang sobek saat melahirkan atau untuk mengoreksi prolaps organ panggul)

  • Sindrom levator ani (sebelummya disebut vaginismus)

  • Nyeri miofasial (nyeri yang disebabkan oleh ketegangan dan nyeri tekan di area otot yang disebut titik pemicu)

  • Endometriosis

  • Fibroid

  • Pertumbuhan pada panggul (seperti tumor dan kista ovarium)

  • Jaringan parut (perlekatan) antara organ-organ di panggul, yang dapat terbentuk setelah infeksi, pembedahan, atau terapi radiasi untuk kanker pada organ panggul (seperti kandung kemih, rahim, serviks, tuba falopi, atau ovarium)

Istilah sindrom levator ani sebagian besar menggantikan istilah vaginismus karena gejala vaginismus biasanya disebabkan oleh disfungsi otot levator ani. Sindrom levator ani adalah kontraksi pada levator ani yang tidak disadari, yang merupakan otot utama pada dasar panggul. Gangguan ini dapat timbul dari rasa takut bahwa hubungan seksual akan menyakitkan. Kondisi ini sering kali terjadi pada saat pertama kali melakukan hubungan seksual, tetapi dapat juga terjadi setelah melewati periode stres atau pengalaman seks yang menyakitkan atau trauma. Jika wanita merasa takut bahwa seks akan terasa menyakitkan, otot-otot panggul mereka akan secara otomatis menyempit setiap kali akan melakukan hubungan seksual.

Himen atau selaput dara adalah selaput yang mengelilingi atau, pada beberapa wanita, menutupi bukaan vagina. Ketika wanita melakukan hubungan seksual pertama kali, himen atau selaput dara, jika tidak pernah diregangkan sebelumnya (misalnya, dari penggunaan tampon atau stimulasi seksual dengan jari ke dalam vagina), dapat sobek, dan menyebabkan rasa nyeri dan perdarahan. Beberapa wanita dilahirkan dengan himen yang sangat tebal.

Nyeri perut bagian bawah

Nyeri di bagian bawah perut selama atau setelah hubungan seksual dapat terjadi akibat hal-hal berikut:

  • Infeksi serviks, rahim, atau tuba falopi (penyakit radang panggul), yang dapat menyebabkan pengumpulan nanah (abses) yang terbentuk di panggul

  • Nyeri miofasial

  • Endometriosis

  • Fibroid

  • Pertumbuhan pada panggul (seperti tumor dan kista ovarium)

  • Jaringan parut (perlekatan) antara organ-organ di panggul, yang dapat terbentuk setelah infeksi, pembedahan, atau terapi radiasi untuk kanker pada organ panggul (seperti kandung kemih, rahim, serviks, tuba falopi, atau ovarium)

Jika memungkinkan, penyebab nyeri pada bagian bawah perut saat berhubungan seksual dapat diobati. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan antibiotik untuk menangani infeksi panggul atau pembedahan untuk endometriosis atau fibroid rahim.

Gejala Nyeri Genito-Pelvik/Gangguan Penetrasi

Rasa sakit pada nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi dapat terjadi ketika pertama kali sesuatu (tampon, spekulum, atau penis) dimasukkan ke dalam vagina. Atau seorang wanita mungkin tidak pernah melakukan hubungan seksual tanpa rasa sakit. Misalnya, nyeri dapat terjadi meskipun ia belum pernah mengalami nyeri seksual di masa lalu. Nyeri sering digambarkan seperti sensasi terbakar atau tertusuk.

Wanita dengan nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi dapat sangat takut dan cemas akan nyeri sebelum atau selama penetrasi vagina. Ketika wanita mengantisipasi bahwa nyeri akan kambuh selama penetrasi, otot vagina mereka akan menyempit dan membuat upaya untuk berhubungan seksual menjadi lebih menyakitkan.

Ketidakmampuan untuk melakukan hubungan seksual membuat stres bagi seorang wanita dan dapat menyebabkan tekanan pada hubungan dengan pasangan. Hal ini dapat menyebabkan stres yang signifikan bagi wanita yang ingin hamil.

Diagnosis Gangguan Nyeri Genito-Pelvik/Penetrasi

  • Evaluasi dokter, berdasarkan kriteria spesifik

Dokter mendiagnosis nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi berdasarkan deskripsi gangguan dari wanita tersebut, termasuk kapan dan di mana nyeri dirasakan, dan pada hasil pemeriksaan panggul. Pemeriksaan panggul dapat mendeteksi atau mengesampingkan kelainan fisik.

Jika seorang wanita memiliki riwayat nyeri vagina, antisipasi nyeri dan kontraksi otot yang tidak disengaja di sekitar bukaan vagina dapat menyulitkan dilakukannya pemeriksaan panggul. Hal ini dapat didiskusikan dengan dokter sebelum pemeriksaan. Beberapa strategi untuk membuat pemeriksaan panggul lebih dapat diterima adalah sebagai berikut:

  • Seorang wanita dan dokternya dapat berdiskusi sebelum pemeriksaan dimulai dan menyepakati bagaimana cara berkomunikasi selama pemeriksaan.

  • Seorang wanita diperbolehkan memegang cermin untuk dapat melihat apa yang dilihat dokter selama pemeriksaan dan mengizinkan dokter untuk menunjukkan kepadanya apa pun masalah yang terdeteksi.

  • Seorang wanita dapat meletakkan tangannya di tangan dokter untuk dapat merasakan kontrol yang lebih besar selama pemeriksaan.

Area di dalam dan di sekitar bukaan vagina diperiksa untuk kemungkinan adanya penyebab, seperti tanda-tanda inflamasi atau kelainan.

Untuk menentukan di mana nyeri tersebut terjadi, dokter dapat menggunakan kapas swab untuk menyentuh berbagai area di sekitar dan/atau dalam vagina.

Dokter juga dapat menekan uretra dan kandung kemih untuk memeriksa ada tidaknya nyeri tekan.

Dokter menilai ketegangan pada otot-otot panggul di sekitar vagina dengan memasukkan satu atau dua jari bersarung tangan ke dalam vagina. Untuk memeriksa kelainan rahim dan ovarium, dokter kemudian menempatkan tangan satunya pada perut bagian bawah (disebut pemeriksaan bimanual) dan menekan organ-organ tersebut.

Pemeriksaan rektal juga dapat dilakukan.

Dokter mendiagnosis nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi berdasarkan kriteria dari the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Edisi Kelima (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association. Kriteria ini memerlukan setidaknya salah satu dari beberapa hal berikut ini:

  • Nyeri signifikan selama berhubungan seksual atau percobaan penetrasi

  • Ketakutan atau kecemasan yang besar terhadap nyeri dalam mengantisipasi, selama, atau karena penetrasi vagina

  • Penekanan atau pengencangan signifikan pada otot panggul selama percobaan penetrasi vagina

Gejala-gejala ini harus sudah muncul setidaknya selama 6 bulan dan harus menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan pada wanita tersebut. Selain itu, dokter harus mengesampingkan penyebab lain dari gejala tersebut, seperti gangguan lainnya, trauma seksual, atau obat-obatan atau zat lainnya.

Pengobatan Untuk Nyeri Genito-Pelvik/Gangguan Penetrasi

  • Mengobati penyebab nyeri, jika memungkinkan

  • Pelumas, terkadang gel anestesi (pemati rasa)

  • Terapi fisik dasar panggul

  • Terkadang dilakukan psikoterapi

Pengobatan dapat melibatkan tim dokter, seperti dokter, terapis fisik, psikoterapis, dan terapis seks.

Belum dapat ditentukan pengobatan mana yang terbaik untuk nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi, dan pengobatan dapat bervariasi tergantung gejalanya. Namun demikian, disarankan melakukan beberapa langkah umum.

Tindakan umum

Pelumas dan pelembap vagina termasuk minyak berbasis makanan (seperti minyak kelapa), pelumas berbahan dasar silikon, dan produk berbahan dasar air. Pelumas berbahan dasar air cepat mengering dan mungkin harus dioleskan kembali, tetapi lebih disukai daripada petrolatum atau pelumas berbahan dasar minyak lainnya. Pelumas berbahan dasar minyak cenderung mengeringkan vagina dan dapat merusak alat kontrasepsi lateks seperti kondom dan diafragma. Tidak boleh digunakan bersama kondom. Pelumas berbahan dasar silikon dapat digunakan bersama kondom dan diafragma, demikian pula pelumas berbahan dasar air. Perempuan dapat bertanya kepada dokter mereka jenis pelumas mana yang terbaik untuk mereka.

Langkah-langkah umum untuk menjaga kesehatan vagina termasuk mengenakan pakaian dalam berbahan katun, jika memungkinkan tidak mengenakan pakaian dalam saat tidur, membersihkan vagina hanya dengan air atau sabun lembut, dan tidak melakukan bilas vagina atau menggunakan pewangi vagina yang dijual bebas.

Saat mengobati nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi, dokter atau anggota tim lainnya sering kali melakukan hal berikut:

  • Mendorong wanita atau pasangan untuk membuat suatu bentuk aktivitas seksual yang memuaskan tanpa melibatkan penetrasi dan mengajari mereka cara untuk melakukannya

  • Diskusikan masalah emosional yang berkontribusi terhadap dan disebabkan oleh nyeri kronis

  • Bila memungkinkan, mengobati setiap kelainan fisik yang menyebabkan nyeri (seperti endometriosis atau infeksi vagina)

  • Menangani kontraksi otot panggul yang tidak disadari (hipertonisitas otot panggul)

  • Mengobati gangguan minat/gairah seksual juga jika ada

Aktivitas seksual yang tidak melibatkan penetrasi dapat membantu pasangan mencapai kepuasan bersama (termasuk orgasme dan ejakulasi). Contohnya adalah stimulasi yang melibatkan mulut, tangan, atau vibrator.

Menghabiskan lebih banyak waktu untuk pemanasan dapat meningkatkan pelumasan vagina dan dengan demikian membuat hubungan seksual menjadi tidak menyakitkan.

Untuk nyeri dalam, dapat dibantu dengan menggunakan posisi yang berbeda ketika melakukan hubungan seksual. Misalnya, posisi di atas dapat memberi wanita lebih banyak kontrol penetrasi, atau posisi lain yang dapat membatasi kedalaman penetrasi.

Terapi fisik dasar panggul

Terapi fisik dasar panggul sering kali dapat bermanfaat bagi wanita dengan nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi. Terapi tersebut meliputi latihan otot dasar panggul, terkadang dengan biofeedback, untuk mengajari wanita bagaimana cara mengendurkan otot panggul mereka secara sadar.

Terapis fisik dapat menggunakan teknik lain untuk meningkatkan fungsi otot panggul. Teknik-tekniknya meliputi

  • Mobilisasi jaringan lunak dan pelepasan miofasial: Menggunakan berbagai gerakan (seperti mendorong atau memijat secara berirama) untuk memberikan tekanan dan meregangkan otot yang terkena atau jaringan yang menutupi otot (miofasia)

  • Tekanan pada titik pemicu: Memberikan tekanan pada area yang sangat sensitif pada otot yang terdampak, yang mungkin merupakan titik awal nyeri (titik pemicu)

  • Stimulasi listrik: Memberikan arus listrik lembut melalui alat yang diposisikan pada bukaan vagina

  • Melatih kandung kemih dan melatih ulang usus: Meminta wanita mengikuti jadwal yang ketat untuk buang air kecil dan merekomendasikan olahraga untuk memperkuat otot-otot di sekitar uretra dan anus, terkadang dengan biofeedback

  • Ultrasonografi terapeutik: Menerapkan gelombang suara frekuensi tinggi pada otot yang terdampak (meningkatkan aliran darah, meningkatkan penyembuhan, dan mengendurkan otot yang kencang)

Sindrom levator ani (vaginismus) dapat diobati dengan desensitisasi progresif (dilakukan dengan tangan atau dilator). Teknik ini memungkinkan wanita untuk secara bertahap terbiasa dengan sentuhan pada area kelamin. Langkah berikutnya hanya dapat dilakukan jika wanita tersebut sudah merasa nyaman dengan langkah sebelumnya.

  • Wanita tersebut dapat menyentuh dirinya sendiri hingga sedekat mungkin dengan bukaan vagina setiap hari. Setelah rasa takut dan cemas akibat sentuhan pada alat kelaminnya berkurang, wanita akan lebih mungkin menoleransi pemeriksaan fisik.

  • Wanita tersebut dapat memasukkan jari melewati himen. Wanita tersebut lalu diperintahkan untuk mendorong atau menahan jarinya setelah ia memasukkannya ke dalam bukaan vagina untuk mempermudah memasukkan alat ke dalam vaginanya.

  • Wanita itu kemudian dapat memasukkan dilator yang dirancang khusus untuk meningkatkan ukuran secara bertahap. Membiarkan dilator di dalam selama 10 hingga 15 menit membantu otot terbiasa dengan tekanan yang meningkat secara perlahan tanpa menimbulkan kontraksi yang tidak disengaja. Setelah wanita tersebut dapat menoleransi benda ukuran kecil, ia dapat menyisipkan benda dengan ukuran lebih besar, dan begitu seterusnya.

  • Wanita tersebut dapat mengizinkan pasangannya untuk membantunya memasukkan dilator selama melakukan hubungan seksual untuk memastikan bahwa dilator tersebut dapat masuk dengan nyaman saat ia merasa terangsang.

  • Wanita tersebut harus membiarkan pasangannya menyentuh area di sekitar lubang vagina dengan penis atau dildo tetapi tanpa masuk ke dalam vagina. Kemudian wanita itu bisa terbiasa merasakan penis atau dildo di area tersebut.

  • Akhirnya, wanita tersebut dapat memasukkan sebagian atau seluruh penis pasangannya atau dildo ke dalam vagina dengan cara yang sama seperti saat ia menempatkan dilator. Wanita tersebut mungkin merasa lebih percaya diri jika berada di atas selama berhubungan seksual.

Untuk nyeri dangkal, terapi fisik dasar panggul adalah kuncinya karena kontraksi otot yang tidak disengaja di sekitar bukaan vagina sering kali menjadi bagian dari masalahnya. Mengoleskan pelumas sebelum berhubungan seksual dapat membantu. Terkadang dokter menyarankan untuk mengoleskan gel anestesi.

Terapi psikologis

Terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif dan terapi kognitif berbasis kesadaran, dapat bermanfaat bagi sebagian wanita. Kesadaran melibatkan fokus pada apa yang sedang terjadi, tanpa membuat penilaian tentang atau memantau apa yang sedang terjadi. Terapi tersebut dapat membantu wanita mengelola rasa takut dan kecemasan tentang rasa sakit selama berhubungan seksual.

Dokter dapat merujuk wanita ke psikoterapis, terapis pasangan, atau terapis seks yang memenuhi syarat untuk terapi psikologis.

Terapi khusus

Penanganan yang lebih spesifik bergantung pada penyebabnya, seperti pada hal berikut:

  • Penipisan dan pengeringan vagina setelah menopause: Estrogen atau DHEA (dehidroepiandrosteron) yang dimasukkan ke dalam vagina

  • Infeksi vagina: Obat-obatan antibiotik atau antijamur, jika sesuai

  • Kista atau abses: Pengangkatan melalui bedah

  • Kelainan himen atau kelainan kongenital lainnya: Pembedahan untuk memperbaikinya

Terapi hormon vagina mencakup estrogen dosis rendah (dalam bentuk krim, tablet, atau cincin atau DHEA sebagai supositoria). Estrogen dapat dikonsumsi melalui mulut atau diaplikasikan pada kulit dalam bentuk koyo atau gel, tetapi bentuk estrogen ini dapat memengaruhi seluruh tubuh dan biasanya hanya digunakan jika seorang wanita juga memiliki gejala menopause lainnya (seperti sensasi panas).

Ospemifene (modulator reseptor estrogen selektif, atau SERM) dan estrogen memengaruhi jaringan vagina dengan cara yang sama. Seperti estrogen, ospemifen juga dapat digunakan untuk meredakan gejala vagina kering dan gejala lain yang melibatkan vagina dan/atau saluran kemih.

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati nyeri neuropatik (nyeri akibat kerusakan sistem saraf) dapat membantu mengurangi nyeri pada vulvar vestibulitis. Obat-obatan tersebut antara lain obat antikejang gabapentin dan pregabalin serta antidepresan amitriptilin dan nortriptilin.

Berbagai krim yang mengandung gabapentin dan amitriptilin dapat dioleskan langsung ke bukaan vagina. Pengobatan ini dapat membantu meredakan nyeri dan mengurangi efek samping.

Toksin Botulinum tipe A, yang disuntikkan ke otot panggul, biasanya hanya digunakan untuk mengobati vulvar vestibulitis ketika tidak ada pengobatan lain yang efektif. Obat tersebut hanya digunakan dalam waktu yang singkat.

Vestibulektomi (pengangkatan area di sekitar bukaan vagina) jarang dilakukan. Prosedur tersebut biasanya dilakukan pada wanita yang tidak pernah melakukan hubungan seksual tanpa rasa sakit.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!