Pemeriksaan Neurologis

OlehGeorge Newman, MD, PhD, Albert Einstein Medical Center
Ditinjau OlehMichael C. Levin, MD, College of Medicine, University of Saskatchewan
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Aug 2025
v101802991_id

Jika diduga terdapat gangguan neurologis, dokter biasanya mengevaluasi semua sistem tubuh selama pemeriksaan fisik, tetapi berfokus pada bagian-bagian sistem saraf yang berbeda. Pemeriksaan sistem saraf—pemeriksaan neurologis—mencakup evaluasi berikut ini:

Dokter dapat mengevaluasi beberapa area secara lebih menyeluruh daripada yang lain, tergantung pada jenis gangguan yang mereka curigai. Sebagai contoh, pemeriksaan neurologis juga dapat membantu mengidentifikasi penyebab kerusakan otot (seperti kelemahan atau kelumpuhan) karena kontraksi otot yang normal bergantung pada stimulasi oleh saraf (lihat gambar Menggunakan Otak untuk Menggerakkan Otot).

Pemeriksaan neurologis berbeda dengan pemeriksaan psikiatri, yang difokuskan pada perilaku seseorang. Namun demikian, 2 pemeriksaan tersebut agak tumpang tindih karena abnormalitas di otak dapat menyebabkan perilaku abnormal. Perilaku abnormal dapat menjadi petunjuk adanya masalah fisik di otak.

Status Mental

Dokter mengevaluasi hal berikut:

  • Perhatian

  • Orientasi waktu, tempat, dan orang

  • Memori

  • Berbagai kemampuan, seperti berpikir secara abstrak, mengikuti perintah, menggunakan bahasa, dan memecahkan masalah matematika

  • Suasana hati

Evaluasi status mental terdiri atas serangkaian pertanyaan dan tugas, seperti menyebutkan nama-nama benda, mengingat daftar pendek, menuliskan kalimat, dan menyalin bentuk. Jawaban orang tersebut dicatat dan dinilai keakuratannya. Jika orang tersebut melaporkan merasa depresi, dokter menanyakan apakah ada pikiran untuk bunuh diri.

Tabel
Tabel

Saraf Kranial

Ada 12 pasang saraf kranial, yang menghubungkan otak dengan mata, telinga, hidung, wajah, lidah, tenggorokan, leher, bahu atas, dan beberapa organ dalam (lihat tabel Melihat Saraf Kranial). Berapa banyak saraf yang diuji dokter tergantung pada jenis gangguan yang mereka curigai. Misalnya, saraf kranial pertama (saraf penciuman) biasanya tidak diuji ketika dicurigai adanya gangguan otot, tetapi diuji pada orang yang baru pulih dari trauma kepala yang serius (karena penciuman sering kali hilang).

Saraf kranial dapat mengalami kerusakan di mana saja di sepanjang saraf kranial sebagai akibat dari salah satu hal berikut ini:

  • Cedera

  • Gangguan aliran darah

  • Gangguan autoimun

  • Tumor

  • Infeksi

  • Meningkatnya tekanan di tengkorak (tekanan intrakranial)

Lokasi yang tepat dari kerusakan sering kali dapat diidentifikasi dengan menguji fungsi saraf kranial tertentu.

Saraf Motorik

Saraf motorik membawa impuls dari otak dan sumsum tulang belakang ke otot volunter (otot yang dikendalikan dengan upaya sadar), seperti otot lengan dan tungkai. Kelemahan otot atau kelumpuhan otot dapat mengindikasikan kerusakan pada salah satu dari yang berikut ini:

Dokter mencari abnormalitas seperti berikut:

  • Penurunan ukuran otot (penyusutan, atau atrofi)

  • Peningkatan ukuran otot

  • Tremor (getaran berirama pada bagian tubuh) dan gerakan otot lain yang tidak disengaja (involunter)

  • Otot berkedut

  • Peningkatan (spastisitas atau kekakuan) atau penurunan tonus otot

  • Kelemahan, terutama bagian tubuh mana yang terpengaruh (pola kelemahan)

  • Hilangnya kecekatan (kemampuan untuk menggunakan tangan dengan terampil dan gesit)

Dokter memeriksa ukuran otot, gerakan, tonus, kekuatan, dan kecekatan yang tidak biasa.

Perubahan ukuran otot

Otot akan menyusut (atrofi) jika otot atau saraf yang memasoknya rusak atau jika otot tidak digunakan selama berbulan-bulan karena alasan lain (seperti sedang digips).

Otot dapat bertambah besar ukurannya (hipertrofi) karena bekerja lebih keras untuk mengimbangi kelemahan otot yang lain. Otot dapat terlihat membesar ketika jaringan otot normal diganti dengan jaringan abnormal, seperti yang terjadi dalam amiloidosis dan beberapa gangguan otot yang diwariskan (seperti distrofi otot Duchenne). Jaringan abnormal meningkatkan ukuran yang terlihat tetapi tidak meningkatkan kekuatan otot.

Gerakan tidak disengaja

Otot dapat bergerak tanpa disengaja (involunter). Berikut ini adalah contoh gerakan involunter:

  • Fasikulasi adalah kedutan otot yang kecil dan halus, yang mungkin terlihat seperti gelombang kecil di bawah kulit. Fasikulasi dapat mengindikasikan kerusakan saraf pada otot yang terdampak.

  • Mioklonus adalah sentakan (kontraksi) otot atau sekelompok otot secara tiba-tiba, seperti otot di tangan, lengan, atau tungkai. Otot bergerak seakan-akan orang tersebut baru saja menerima sengatan listrik. Mioklonus dapat terjadi secara normal, seperti ketika orang tertidur, atau dapat disebabkan oleh gangguan yang memengaruhi sumsum tulang belakang atau otak.

  • Tik adalah gerakan yang tidak disengaja, berulang tetapi tidak berirama, seperti berkedip atau kepala tersentak. Tik sering kali juga mencakup suara dan/atau kata-kata yang tidak disengaja, tiba-tiba, dan sering kali berulang.

  • Hemibalismus biasanya melibatkan gerakan mengayun 1 lengan dan/atau 1 tungkai secara tiba-tiba tanpa disengaja.

  • Korea mengacu pada gerakan gelisah tidak disengaja yang dimulai di satu bagian tubuh dan sering bergerak tiba-tiba dan tidak terduga ke bagian tubuh yang lain.

  • Atetosis adalah gerakan involunter yang lambat, mengalir, dan seperti menggeliat.

  • Distonia mengacu pada kontraksi otot involunter yang berlangsung lama (berkelanjutan) yang dapat memaksa orang ke posisi abnormal dan terkadang menyakitkan.

Gerakan involunter dapat mengindikasikan kerusakan di area otak (ganglia basal) yang mengontrol koordinasi motorik.

Tonus otot

Untuk mengevaluasi tonus otot, dokter terlebih dahulu meminta orang tersebut untuk benar-benar mengendurkan otot pada anggota tubuhnya. Kemudian dokter menggerakkan anggota tubuh orang tersebut untuk menentukan seberapa besar otot yang relaks menahan dengan tidak disengaja agar tidak digerakkan—disebut tonus otot. Bagaimana tonus otot bereaksi saat digerakkan menunjukkan kemungkinan penyebab, sebagai berikut:

  • Tonus otot yang tidak merata yang tiba-tiba meningkat saat otot yang rileks digerakkan (spastisitas): Kemungkinan karena stroke atau cedera sumsum tulang belakang

  • Tonus otot yang meningkat secara merata: Kemungkinan karena gangguan ganglia basal, seperti penyakit Parkinson

  • Penurunan tonus otot yang parah (lembek): Kemungkinan karena gangguan saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang (saraf perifer), polineuropati (gangguan yang memengaruhi banyak saraf di seluruh tubuh)

Penurunan tonus otot yang parah dapat terjadi dalam sesaat setelah cedera yang menyebabkan kelumpuhan, seperti cedera tulang belakang. Ketika hal ini terjadi akibat cedera tulang belakang, tonus otot sering kali meningkat secara bertahap selama beberapa hari hingga beberapa minggu, yang akhirnya menyebabkan spastisitas.

Jika orang tersebut merasa cemas atau bingung selama pemeriksaan, mereka mungkin tidak dapat mengendurkan ototnya. Dalam kasus seperti itu, tonus ototnya dapat bervariasi, sehingga sulit bagi dokter untuk mengevaluasinya.

Kekuatan otot

Dokter menguji kekuatan otot dengan meminta orang tersebut untuk mendorong atau menarik suatu hambatan atau melakukan manuver yang membutuhkan kekuatan, seperti berjalan dengan tumit dan berjinjit atau bangkit dari kursi. Dokter kemudian menilai kekuatan otot dari 0 (tidak ada kontraksi otot) hingga 5 (kekuatan penuh).

Terkadang kelemahan otot terlihat ketika seseorang menggunakan satu anggota gerak lebih banyak dari anggota gerak lainnya. Sebagai contoh, orang yang tidak kidal mungkin lebih banyak memberi isyarat dengan tangan kiri selama percakapan. Lengan yang lemah dapat kurang berayun saat berjalan atau menggantung ke bawah saat lengan diangkat dan mata ditutup.

Mengetahui bagian tubuh mana yang lemah (pola kelemahan) dapat membantu dokter mengidentifikasi apa masalahnya, seperti dalam kasus berikut:

  • Bahu dan pinggul lebih lemah dari tangan dan kaki: Penyebabnya dapat berupa gangguan yang memengaruhi otot (miopati). Miopati cenderung memengaruhi otot terbesar terlebih dahulu. Orang mungkin mengalami kesulitan mengangkat tangan untuk menyisir rambut, menaiki tangga, atau berdiri dari posisi duduk.

  • Tangan dan kaki lebih lemah dari bahu, lengan, dan paha: Masalahnya sering kali berupa polineuropati (malfungsi dari banyak saraf perifer di seluruh tubuh). Polineuropati cenderung memengaruhi saraf terpanjang terlebih dahulu (saraf yang menuju ke tangan dan kaki). Orang tersebut dapat memiliki daya cengkeram yang lemah dan kesulitan melakukan gerakan jari halus (kecekatan). Orang tersebut dapat mengalami kesulitan memasang kancing, membuka peniti, atau mengikat tali sepatu mereka.

  • Kelemahan terbatas pada 1 sisi tubuh: Dokter mencurigai adanya gangguan yang memengaruhi sisi otak yang berlawanan, seperti stroke.

  • Kelemahan terjadi di bawah tingkat tubuh tertentu: Penyebabnya dapat berupa gangguan sumsum tulang belakang. Misalnya, cedera pada bagian tulang belakang di dada (tulang belakang toraks) menyebabkan kaki menjadi lumpuh tetapi tidak melumpuhkan lengan. Cedera di dalam atau di atas leher menyebabkan kelumpuhan pada keempat anggota tubuh.

Kelemahan otot juga dapat terjadi dalam pola lain, seperti berikut ini:

  • Kelemahan terjadi hanya di 1 area yang relatif kecil: Ini menunjukkan bahwa hanya 1 atau beberapa saraf perifer yang rusak. Dalam kasus seperti itu, kelemahan juga dapat mengganggu ketangkasan.

  • Kelemahan menjadi jelas terlihat hanya jika otot yang digunakan untuk melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang menjadi lemah lebih cepat dari biasanya. Contohnya, orang yang tadinya dapat menggunakan palu dengan baik, menjadi lemas setelah memalu selama beberapa menit. Miastenia gravis dapat menyebabkan jenis kelemahan ini

  • Kelemahan disertai peningkatan tonus otot (membuat lengan atau tungkai kaku) dan refleks berlebihan menunjukkan adanya masalah pada sistem saraf pusat. Kelemahan disertai penurunan tonus otot (membuat lengan atau tungkai terasa kendur atau terkulai), penurunan atau tidak adanya refleks, dan kedutan intermiten pada otot menunjukkan adanya masalah pada sistem saraf perifer.

Saraf Sensorik

Saraf sensorik membawa informasi dari tubuh ke otak tentang hal-hal seperti sentuhan, nyeri, panas dan dingin (suhu), getaran, posisi bagian tubuh, dan bentuk objek. Masing-masing indra ini dapat diuji. Sensasi abnormal atau berkurangnya persepsi sensasi dapat mengindikasikan kerusakan pada saraf sensorik, sumsum tulang belakang, atau bagian tertentu dari otak.

Informasi dari area tertentu pada permukaan tubuh, yang disebut dermatom, dibawa ke lokasi (tingkat) tertentu pada sumsum tulang belakang, kemudian ke otak. Dengan demikian, dokter mungkin dapat menunjukkan tingkat kerusakan spesifik pada sumsum tulang belakang dengan mengidentifikasi area di mana sensasinya abnormal atau hilang.

Sensasi pada kulit diuji. Biasanya, dokter berkonsentrasi pada area tempat orang tersebut merasa kebas, kesemutan, atau nyeri. Tes skrining terbaik untuk kehilangan sensasi meliputi menyentuh kulit wajah, tubuh, dan keempat anggota badan dengan pin dan benda tumpul (seperti kepala peniti) untuk melihat apakah orang tersebut dapat merasakannya dan membedakan antara tajam dan tumpul. Dokter menguji kedua sisi tubuh. Jika dokter mendeteksi ada kehilangan sensasi di area tertentu, mereka menguji area terdekat untuk memperkirakan tingkat kehilangan. Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk menentukan lokasi abnormalitas di otak, sumsum tulang belakang, atau sistem saraf perifer.

Sentuhan lembut (ringan) diuji dengan bola kapas.

Pengindraan suhu (kemampuan untuk merasa panas dan dingin) diuji dengan garpu tala. Kedua ujungnya dingin, sehingga penguji sedikit menghangatkan salah satunya dengan menggosoknya. Kemudian masing-masing ujung garpu disentuhkan ke kulit orang tersebut.

Pengindraan getaran juga diuji dengan garpu tala. Garpu diketuk perlahan untuk membuatnya bergetar. Kemudian ditempatkan pada sendi jari untuk menentukan apakah orang tersebut merasakan getaran dan berapa lama.

Untuk menguji indra posisi, dokter menggerakkan jari tangan atau jari kaki seseorang ke atas atau ke bawah dan meminta orang tersebut untuk menjelaskan posisinya tanpa melihat.

Kemampuan untuk mengidentifikasi bentuk objek diuji dengan menempatkan objek yang dikenal, seperti kunci atau peniti, di tangan seseorang dan meminta orang tersebut untuk mengidentifikasinya tanpa melihat. Atau dokter dapat menggariskan huruf atau angka di telapak tangan orang tersebut dan meminta ia untuk mengidentifikasinya. Jika orang itu tidak dapat mengidentifikasinya, korteks otak (lapisan luar serebrum, bagian terbesar otak) mungkin rusak. Bagian otak ini mengintegrasikan dan menafsirkan informasi sensorik dari berbagai sumber.

Refleks

Refleks adalah respons otomatis terhadap stimulus. Misalnya, tungkai bawah tersentak saat tendon di bawah tempurung lutut diketuk dengan lembut menggunakan palu karet kecil. Jalur yang diikuti oleh refleks (busur refleks) tidak melibatkan otak secara langsung. Jalur ini terdiri dari saraf sensorik ke sumsum tulang belakang, koneksi saraf di sumsum tulang belakang, dan saraf motorik kembali ke otot, menyebabkan lutut tersentak.

Dokter menguji refleks untuk menentukan apakah semua bagian jalur ini berfungsi. Refleks yang paling sering diuji adalah sentakan lutut dan refleks serupa pada siku dan pergelangan kaki.

Refleks plantar dapat membantu dokter mendiagnosis abnormalitas pada jalur saraf yang terlibat dalam pengendalian otot volunter. Tes ini dilakukan dengan mengusap kuat tepi luar telapak kaki dengan kunci atau benda lain yang menyebabkan sedikit ketidaknyamanan. Normalnya, jari-jari kaki akan melengkung ke bawah, kecuali pada bayi berusia 6 bulan atau lebih muda. Jika ibu jari kaki ke atas dan jari-jari kaki lainnya melebar adalah tanda kelainan pada otak atau sumsum tulang belakang.

Menguji refleks lain dapat memberikan informasi penting. Misalnya, dokter mengetahui tingkat cedera pada orang yang koma dengan mencatat hal berikut:

  • Apakah pupil menyempit saat cahaya menyinarinya (refleks cahaya pupil)

  • Apakah mata berkedip saat kornea disentuh dengan kapas (refleks kornea)

  • Bagaimana mata bergerak ketika kepala orang tersebut menoleh atau ketika air hangat atau dingin disiramkan ke dalam liang telinga (pengujian kalori)

  • Apakah orang tersebut tersedak ketika bagian belakang tenggorokan disentuh, misalnya, dengan penekan lidah (refleks muntah)

Dokter juga memeriksa apakah anus mengencang (berkontraksi) saat disentuh dengan ringan (disebut anal wink). Jika terdapat refleks ini pada orang yang lumpuh setelah cedera tulang belakang, cedera tersebut mungkin tidak total, dan kemungkinan pemulihan lebih baik daripada jika refleks tidak ada.

Koordinasi, Keseimbangan, dan Cara Berjalan

Koordinasi dan cara berjalan (gait) memerlukan integrasi sinyal dari saraf sensorik dan motorik oleh otak dan sumsum tulang belakang.

Untuk menguji kemampuan berjalan, dokter meminta seseorang untuk berjalan secara normal dan dalam garis lurus, dengan meletakkan satu kaki di depan kaki lainnya. Abnormalitas dapat membantu mengidentifikasi bagian mana dari sistem saraf yang tidak berfungsi secara normal. Sebagai contoh, jika seseorang mengambil langkah lebar dan tidak stabil (disebut ataksia), otak kecil mungkin rusak atau tidak berfungsi. (Serebelum adalah bagian otak yang mengoordinasikan gerakan volunter dan mengendalikan keseimbangan.)

Untuk menguji koordinasi, dokter dapat meminta orang tersebut menggunakan telunjuknya untuk menjangkau dan menyentuh jari dokter, lalu hidungnya sendiri, lalu mengulangi tindakan ini dengan cepat. Orang tersebut mungkin diminta untuk melakukan tindakan ini terlebih dahulu dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup.

Pengujian Romberg dilakukan untuk menguji pengindraan posisi. Orang tersebut berdiri diam dengan kedua kaki dirapatkan sedekat mungkin tanpa kehilangan keseimbangan. Kemudian mata ditutup. Jika keseimbangan hilang, informasi tentang posisi dari kaki mungkin tidak sampai ke otak, biasanya karena saraf atau sumsum tulang belakang terluka. pNamun, kelainan juga dapat terjadi akibat kerusakan serebelum atau sistem keseimbangan di telinga bagian dalam atau koneksinya dengan otak

Sistem saraf otonom

Sistem saraf otonom (involunter) mengatur proses internal tubuh yang tidak memerlukan upaya sadar, seperti tekanan darah, detak jantung, pernapasan, dan pengaturan suhu melalui keringat atau menggigil. Abnormalitas sistem ini dapat menyebabkan masalah seperti berikut:

  • Penurunan tekanan darah saat seseorang berdiri (hipotensi ortostatik)

  • Berkurangnya atau tidak adanya keringat

  • Masalah seksual seperti kesulitan memulai atau mempertahankan ereksi (disfungsi ereksi)

  • Pupil yang tidak melebar atau menyempit sebagai respons terhadap perubahan cahaya

Dokter dapat melakukan berbagai tes, seperti berikut ini:

  • Ukur tekanan darah dan denyut jantung saat orang berbaring, duduk, dan berdiri

  • Periksa pupil untuk melihat adanya respons abnormal atau tidak adanya respons terhadap perubahan cahaya

  • Lakukan uji keringat

  • Ambil dan periksa sepotong kecil sampel kulit (biopsi tusuk kulit) untuk melihat apakah jumlah ujung saraf telah berkurang, seperti yang terjadi pada beberapa polineuropati yang memengaruhi saraf kecil, termasuk saraf otonom

Aliran Darah ke Otak

Penyempitan arteri yang parah ke otak mengurangi aliran darah dan meningkatkan risiko stroke. Risiko ini lebih tinggi pada orang lanjut usia, orang yang merokok, atau yang memiliki tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, diabetes, atau gangguan pada arteri atau jantung.

Cara terbaik untuk mendiagnosis gangguan pada arteri adalah dengan melakukan tes pencitraan seperti ultrasonografi, angiografi resonansi magnetik (magnetic resonance angiography, MRA), angiografi tomografi terkomputasi (computed tomography angiography, CTA), atau angiografi serebral.

Tekanan darah dapat diukur pada kedua lengan untuk memeriksa adanya penyumbatan di arteri besar yang bercabang dari aorta. Penyumbatan tersebut terkadang mengakibatkan stroke.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!