Limfositopenia

OlehDavid C. Dale, MD, University of Washington
Ditinjau OlehJerry L. Spivak, MD, MACP, Johns Hopkins University School of Medicine
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Feb 2025
v775443_id

Limfositopenia adalah jumlah limfosit (sejenis sel darah putih) yang sangat rendah dalam darah.

  • Banyak gangguan yang dapat menurunkan jumlah limfosit dalam darah, tetapi infeksi virus (termasuk infeksi HIV) dan kekurangan gizi adalah yang paling umum.

  • Orang mungkin tidak memiliki gejala, atau mereka mungkin mengalami demam dan gejala infeksi lainnya.

  • Sampel darah digunakan untuk membuat diagnosis limfositopenia, tetapi sampel sumsum tulang atau kelenjar getah bening mungkin diperlukan untuk menentukan penyebabnya.

  • Pada bayi baru lahir dan bayi dengan limfositopenia persisten dan hipogamaglobulinemia (suatu kondisi di mana sistem imun tidak memproduksi cukup antibodi), dilakukan pengujian genetik.

  • Dokter mengobati penyebab limfositopenia.

  • Beberapa orang diberi gamma globulin, dan beberapa menjalankan transplantasi sel punca.

Limfosit adalah jenis sel darah putih yang memainkan beberapa peran dalam sistem imun, termasuk perlindungan terhadap bakteri, virus, jamur, dan parasit. Limfosit biasanya membentuk 20 sampai 40% dari semua sel darah putih dalam aliran darah. Jumlah limfosit normalnya di atas 1.500 sel per mikroliter darah (1,5 × 109 per liter) pada orang dewasa dan di atas 3.000 sel per mikroliter darah (3 × 109 per liter) pada anak-anak. Penurunan jumlah limfosit dapat tidak menyebabkan penurunan yang terasa pada jumlah total sel darah putih.

Jenis limfosit

Ada tiga jenis limfosit:

  • Limfosit B (sel B)

  • Limfosit T (sel T)

  • Sel pembunuh alami (sel NK)

Ketiga jenis tersebut memiliki fungsi penting dalam sistem imun. Terlalu sedikit sel B dapat menyebabkan penurunan jumlah sel plasma, yang menghasilkan antibodi. Penurunan produksi antibodi dapat menyebabkan peningkatan infeksi bakteri.

Orang yang memiliki terlalu sedikit sel T atau terlalu sedikit sel NK mengalami masalah dalam mengendalikan infeksi tertentu, terutama infeksi virus, jamur, dan parasit. Kekurangan limfosit parah dapat menyebabkan infeksi yang tidak terkendali yang dapat berakibat fatal.

Penyebab Limfositopenia

Berbagai gangguan dan kondisi, termasuk infeksi virus, seperti virus imunodefisiensi manusia (HIV)—virus penyebab HIV stadium akhir— virus influenza, dan SARS-CoV-2 (virus penyebab COVID-19), dapat menurunkan jumlah limfosit di dalam darah. Limfositopenia dapat bersifat

  • Akut: Terjadi secara singkat selama kondisi tertentu dan kemudian biasanya selesai

  • Kronis: Terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama karena gangguan jangka panjang

Tahukah Anda...

  • HIV stadium akhir dan kekurangan gizi merupakan penyebab paling umum dari limfositopenia kronis.

Penyebab limfositopenia akut

Jumlah limfosit dapat berkurang sementara selama

  • Infeksi virus tertentu (seperti influenza, hepatitis, dan COVID-19)

  • Puasa

  • Waktu stres fisik berat

  • Penggunaan kortikosteroid (seperti prednisone)

  • Kemoterapi dan/atau terapi radiasi untuk kanker

Penyebab limfositopenia kronis

Jumlah limfosit dapat tetap rendah untuk waktu yang lama jika orang-orang mengalami

Jumlah limfosit bisa jadi sangat rendah secara permanen pada gangguan imunodefisiensi herediter tertentu, seperti sindrom DiGeorge, sindrom Wiskott-Aldrich, imunodefisiensi kombinasi berat (SCID), ataksia-telangiektasia, dan sindrom WHIM (kutil, hipogamaglobulinemia, infeksi, dan mielokateksis).

Gejala Limfositopenia

Limfositopenia ringan tidak menyebabkan gejala apa pun. Terkadang, gejala kondisi yang menyebabkan limfositopenia mungkin muncul. Misalnya, orang mungkin memiliki

  • Pembesaran kelenjar getah bening dan pembesaran limpa, menunjukkan adanya kanker atau infeksi HIV

  • Batuk, pilek, dan demam, menunjukkan adanya infeksi virus pernapasan

  • Tonsil atau kelenjar getah bening kecil, menunjukkan adanya gangguan sistem imun yang diwariskan

  • Sendi bengkak yang nyeri dan ruam, menunjukkan artritis reumatoid atau lupus eritematosus sistemik

Jumlah limfosit yang berkurang secara drastis menyebabkan infeksi berulang dengan bakteri, virus, jamur, dan parasit serta gejala infeksi tersebut, yang sangat bervariasi tergantung pada lokasi infeksi dan mikroorganisme spesifik.

Diagnosis Limfositopenia

  • Hitung darah lengkap

Limfositopenia ringan biasanya didiagnosis secara kebetulan ketika pemeriksaan darah lengkap dilakukan karena alasan lain. Pengujian hitung darah lengkap juga dilakukan pada orang-orang dengan infeksi berulang atau parah dan pada orang-orang dengan infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak menyebabkan infeksi. Pengujian tersebut dapat menunjukkan adanya limfositopenia parah sebagai penjelasan mengapa orang tersebut mengalami infeksi berulang atau tidak biasa.

Ketika jumlah limfosit berkurang secara drastis, dokter biasanya melakukan tes darah untuk virus imunodefisiensi manusia (HIV) dan infeksi lain dan terkadang mengambil sampel sumsum tulang untuk diperiksa di bawah mikroskop (pemeriksaan sumsum tulang).

Pada bayi baru lahir dan bayi dengan limfositopenia persisten dan hipogamaglobulinemia (suatu kondisi di mana sistem imun tidak memproduksi cukup antibodi), dilakukan pengujian genetik.

Jumlah jenis limfosit spesifik (sel T, sel B, dan sel NK) dalam darah juga dapat ditentukan. Penurunan jenis limfosit tertentu dapat membantu dokter mendiagnosis beberapa gangguan, seperti HIV stadium lanjut atau gangguan imunodefisiensi herediter tertentu.

Pengobatan Limfositopenia

  • Pengobatan penyebab

Pengobatan limfositopenia bergantung terutama pada penyebabnya. Limfositopenia yang disebabkan oleh obat biasanya mulai sembuh dalam beberapa hari setelah seseorang berhenti minum obat. Jika limfositopenia terjadi akibat infeksi HIV, terapi kombinasi dengan setidaknya tiga obat antivirus dari kelas yang berbeda dapat meningkatkan jumlah sel T dan memperpanjang kelangsungan hidup.

Gamma globulin (zat yang kaya akan antibodi) dapat diberikan untuk membantu mencegah infeksi pada orang dengan terlalu sedikit sel B (yang oleh karena itu kekurangan produksi antibodi).

Orang dengan gangguan imunodefisiensi herediter dapat memperoleh manfaat dari transplantasi sel punca.

Jika terjadi infeksi, diberikan obat antibiotik, antijamur, antivirus, atau antiparasitik spesifik yang ditujukan terhadap organisme infektif.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!