Kanker Payudara

OlehLydia Choi, MD, Karmanos Cancer Center
Ditinjau OlehOluwatosin Goje, MD, MSCR, Cleveland Clinic, Lerner College of Medicine of Case Western Reserve University
Ditinjau/Direvisi Oct 2023 | Dimodifikasi Apr 2025
v805223_id

Kanker payudara terjadi ketika sel-sel di payudara menjadi abnormal dan membelah menjadi lebih banyak sel tanpa terkendali. Kanker payudara biasanya dimulai pada kelenjar yang memproduksi susu (lobulus) atau saluran (duktus) yang membawa susu dari kelenjar ke puting.

  • Di kalangan wanita, kanker payudara adalah salah satu kanker yang paling banyak terjadi.

  • Umumnya, gejala pertama adalah benjolan yang tidak nyeri, biasanya disadari oleh wanita itu sendiri.

  • Jika terdeteksi adanya benjolan padat, dokter akan menggunakan jarum berongga untuk mengambil sampel jaringan atau membuat sayatan dan mengangkat sebagian atau seluruh benjolan, lalu memeriksa jaringan tersebut di bawah mikroskop (biopsi).

  • Kanker payudara hampir selalu memerlukan operasi, terkadang dengan terapi radiasi, kemoterapi, obat-obatan lain, atau kombinasinya.

  • Prognosisnya bergantung pada jenis, ukuran, dan penyebaran kanker serta faktor lainnya.

(Lihat juga Gambaran Umum Gangguan Payudara.)

Kelainan payudara dapat bersifat non-kanker (jinak) atau kanker (ganas). Sebagian besar bersifat non-kanker. Sering kali, gangguan payudara tidak memerlukan pengobatan. Sebaliknya, kanker payudara dapat berarti kehilangan payudara atau membahayakan nyawa. Meskipun demikian, potensi masalah sering kali dapat terdeteksi sejak dini ketika wanita menjalani:

  • Pemeriksaan fisik rutin oleh dokter mereka

  • Mamogram sesuai rekomendasi

Wanita harus terbiasa dengan bagaimana payudara mereka secara normal terlihat dan teraba. Mengingat kanker payudara juga menyerang pria, maka pria harus menyadari adanya perubahan di dalam atau di sekitar puting mereka. Jika seorang wanita menyadari adanya perubahan, ia mungkin dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Wanita harus segera memberi tahu perubahan apa pun pada tenaga kesehatan profesional. Sebagian besar organisasi kesehatan tidak lagi menganjurkan orang untuk melakukan pemeriksaan payudara mandiri setiap bulan atau minggu sebagai cara rutin untuk memeriksa kanker. Melakukan pemeriksaan ini ketika tidak ada benjolan atau perubahan lain tidak membantu mendeteksi kanker payudara secara dini pada wanita yang melakukan pemeriksaan mamografi secara teratur.

Deteksi dini kanker payudara sangat penting untuk keberhasilan pengobatan.

Di Amerika Serikat, kanker payudara adalah kanker paling banyak kedua pada wanita (kanker kulit paling utama). Kanker payudara adalah penyebab terbanyak kedua kematian akibat kanker (yang paling umum adalah kanker paru) pada semua wanita, tetapi merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita kulit hitam. Wanita kulit hitam lebih banyak yang meninggal karena kanker payudara dibanding pada ras atau etnis lain; wanita Asia dan kepulauan Pasifik memiliki tingkat kematian terendah akibat kanker payudara. (Lihat juga American Cancer Society: Key Statistics for Breast Cancer.)

Pada tahun 2023, di kalangan wanita di Amerika Serikat, diperkirakan akan ada

Pada tahun 2023, di kalangan pria di Amerika Serikat, diperkirakan akan ada 2800 kasus baru kanker payudara invasif dan 530 kematian akibat kanker payudara invasif.

Faktor Risiko Kanker Payudara

Beberapa faktor memengaruhi risiko timbulnya kanker payudara. Dengan demikian, bagi sebagian wanita, risikonya bisa jauh lebih tinggi atau lebih rendah daripada rata-rata. Sebagian besar faktor yang meningkatkan risiko, seperti usia dan gen abnormal tertentu, tidak dapat diubah. Misalnya, 1 dari 8 wanita akan terkena kanker payudara sepanjang hidupnya. Namun, risikonya lebih rendah pada wanita yang lebih muda, sehingga wanita berusia 40 tahun hanya memiliki peluang 1 banding 70 untuk terkena kanker payudara dalam satu dekade berikutnya. Namun seiring bertambahnya usia, risikonya meningkat.

Olahraga rutin, terutama selama masa remaja dan dewasa muda dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara.

Cara terpenting untuk meminimalkan risiko terhadap kesehatan wanita adalah dengan waspada dalam mendeteksi kanker payudara sehingga dapat didiagnosis dan diobati sejak dini, ketika kanker payudara memiliki kemungkinan besar untuk sembuh. Deteksi dini lebih mungkin terjadi jika wanita melakukan mamogram.

Tabel
Tabel

Usia

Angka tertinggi kasus kanker payudara di Amerika Serikat terjadi pada wanita berusia 65 hingga 74 tahun. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 63 tahun secara keseluruhan; usia ini sedikit lebih muda pada wanita kulit hitam (60 tahun) dibandingkan wanita kulit putih (63 tahun).

Ras dan etnis

Wanita kulit hitam memiliki tingkat kematian tertinggi akibat kanker payudara dibandingkan dengan ras atau etnis lain. Wanita Kulit Hitam, Hispanik, Indian Amerika, dan Penduduk Asli Alaska cenderung menderita kanker payudara yang telah menyebar (bermetastasis) pada saat diagnosis dibandingkan wanita kulit putih, Asia, dan Kepulauan Pasifik. 

Riwayat keluarga dengan kanker payudara

Wanita dengan kerabat tingkat pertama (ibu, saudari, atau anak perempuan) yang menderita kanker payudara memiliki risiko dua kali lipat untuk terkena kanker payudara. Risikonya 3 atau 4 kali lebih tinggi jika 2 atau lebih kerabat tingkat pertama menderita kanker payudara. Namun, risikonya hanya sedikit lebih tinggi dari rata-rata jika kerabat yang lebih jauh (nenek, bibi, atau sepupu) terkena kanker payudara.

Mutasi gen kanker payudara

Beberapa mutasi gen meningkatkan risiko kanker payudara. Mutasi BRCA1 dan BRCA2 terjadi pada kurang dari 1% wanita. Mutasi ini paling banyak terjadi di antara orang-orang keturunan Yahudi Ashkenazi. Sekitar 5 sampai 10% wanita penderita kanker payudara mengalami salah satu mutasi gen ini. Jika seorang wanita mengalami salah satu mutasi ini, risiko seumur hidupnya untuk terkena kanker payudara adalah sekitar 50 sampai 85%. Risiko terkena kanker payudara pada usia 80 tahun adalah sekitar 72% dengan mutasi BRCA1 dan sekitar 69% dengan mutasi BRCA2. Namun, jika wanita tersebut menderita kanker payudara, kemungkinannya untuk meninggal karena kanker payudara tidak selalu lebih besar daripada wanita lain yang menderita kanker payudara.

Mengalami mutasi BRCA juga meningkatkan risiko kanker ovarium. Selama hidupnya, wanita dengan mutasi gen BRCA1 memiliki sekitar 40% risiko terkena kanker ovarium. Untuk wanita dengan mutasi gen BRCA2, risikonya sekitar 15%.

Pria yang mengalami mutasi gen BRCA memiliki risiko 1 sampai 2% seumur hidup untuk terkena kanker payudara.

Wanita dengan salah satu mutasi ini perlu dipantau lebih ketat untuk kanker payudara—misalnya, dengan pengujian yang lebih sering atau menjalani skrining dengan mamografi dan pencitraan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging, MRI). Atau mereka bisa berusaha mencegah berkembangnya kanker dengan meminum tamoksifen atau kedua payudara diangkat (makstektomi ganda).

Riwayat terkena kanker payudara sebelumnya

Pernah menderita kanker payudara meningkatkan risiko terkena kanker payudara lagi. Bagi wanita yang telah menjalani mastektomi untuk mengangkat 1 payudara, risiko terkena kanker pada payudara yang tersisa adalah sekitar 0,4% setiap tahun.

Usia pada periode menstruasi pertama, kehamilan pertama, dan menopause

Mulai mengalami periode menstruasi pada usia yang lebih muda atau mulai menopause lebih lambat dari rata-rata meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia pada kehamilan pertama.

Penyakit payudara jinak

Wanita yang mengalami perubahan tertentu pada payudara mereka tampaknya memiliki risiko kanker payudara yang sedikit lebih tinggi. Ini meliputi

  • Perubahan pada payudara yang memerlukan biopsi untuk menyingkirkan kanker

  • Kondisi yang mengubah struktur, meningkatkan jumlah sel, atau menyebabkan benjolan atau kelainan lain pada jaringan payudara, seperti fibroadenoma kompleks, hiperplasia (pertumbuhan jaringan yang meningkat secara tidak normal), hiperplasia atipikal (hiperplasia dengan struktur jaringan abnormal) pada saluran susu atau kelenjar penghasil susu, adenosis sklerosis (peningkatan pertumbuhan jaringan pada kelenjar penghasil susu), atau papiloma (tumor non-kanker dengan proyeksi seperti jari)

Bagi wanita dengan perubahan tersebut, risiko kanker payudara hanya sedikit meningkat kecuali jika struktur jaringan abnormal terdeteksi selama biopsi atau mereka memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga.

Jaringan payudara yang padat

Jaringan payudara yang padat yang terlihat pada pemeriksaan mamografi skrining berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Memiliki jaringan payudara yang padat juga mempersulit dokter untuk mengidentifikasi kanker payudara pada saat mamogram. Memiliki payudara padat berarti wanita memiliki lebih banyak jaringan fibroglandular (terdiri dari jaringan ikat fibrosa dan kelenjar) dan lebih sedikit jaringan lemak di payudara.

Kontrasepsi oral (pil KB)

Tidak jelas apakah penggunaan kontrasepsi oral meningkatkan risiko kanker payudara. Beberapa penelitian menemukan sedikit peningkatan risiko pada pengguna saat ini atau pengguna baru.

Terapi hormon

Setelah menopause, meminum kombinasi terapi hormon (estrogen dengan progestin) selama beberapa tahun atau lebih akan meningkatkan risiko kanker payudara. Mengonsumsi estrogen saja tampaknya tidak meningkatkan risiko kanker payudara. Menggunakan modulator reseptor estrogen selektif (seperti raloksifen) mengurangi risiko terkena kanker payudara.

Paparan radiasi

Paparan radiasi pada dada (seperti terapi radiasi untuk kanker) hingga usia 45 tahun meningkatkan risiko, dengan peningkatan tertinggi bagi mereka yang terpapar antara usia 10 hingga 14 tahun.

Diet

Ada kemungkinan bahwa pola makan berkontribusi terhadap perkembangan atau pertumbuhan kanker payudara, tetapi bukti tentang efek makanan tertentu (seperti makanan tinggi lemak) masih kurang (lihat juga Pola Makan dan Kanker).

Obesitas

Risiko terkena kanker payudara agak lebih tinggi pada wanita yang mengalami obesitas setelah menopause.

Penelitian tentang hubungan antara obesitas dan kanker masih terus berlangsung (lihat juga the National Cancer Institute: Uncovering the Mechanisms Linking Obesity and Cancer Risk).

Merokok dan minum alkohol

Merokok dan minum minuman beralkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Para ahli merekomendasikan agar wanita membatasi diri untuk hanya meminum satu minuman beralkohol dalam sehari. Satu minuman adalah sekitar 12 ons bir, 5 ons anggur, atau 1,5 ons minuman keras yang lebih pekat, seperti wiski.

Jenis Kanker Payudara

Kanker payudara umumnya diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Jenis jaringan tempat kanker bermula

  • Tingkat penyebaran kanker

  • Jenis reseptor tumor pada sel kanker

Jenis jaringan

Ada banyak jenis jaringan yang berbeda di payudara. Kanker dapat timbul di sebagian besar jaringan ini, termasuk

  • Saluran susu (disebut karsinoma duktal)

  • Kelenjar penghasil susu, atau lobulus (disebut karsinoma lobular)

  • Jaringan lemak atau jaringan ikat (disebut sarkoma): Jenis ini jarang terjadi.

Karsinoma duktal mencakup sekitar 90% dari semua kanker payudara.

Penyakit Paget pada payudara adalah karsinoma payudara duktal yang memengaruhi kulit di atas dan di sekitar puting payudara. Gejala pertama adalah luka pada puting yang berkerak atau bersisik atau keluarnya cairan dari puting. Sekitar setengah dari wanita yang menderita kanker ini juga mengalami benjolan di payudara yang dapat teraba. Wanita dengan penyakit Paget pada puting juga dapat menderita kanker payudara jenis lain yang tidak teraba tetapi dapat terlihat dengan menggunakan tes pencitraan—mamografi, pencitraan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging, MRI), atau ultrasonografi—yang dilakukan untuk memeriksa ada tidaknya kanker lain. Mengingat penyakit ini biasanya menyebabkan sedikit ketidaknyamanan, wanita dapat mengabaikannya selama setahun atau lebih sebelum memeriksakan diri ke dokter. Prognosisnya bergantung pada seberapa invasif dan seberapa besar kankernya serta apakah telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Tumor payudara phyllodes relatif jarang terjadi, menyebabkan kurang dari 1% kanker payudara. Sekitar 10 hingga 25% adalah kanker. Tumor berasal dari jaringan payudara di sekitar saluran susu dan kelenjar penghasil susu. Tumor menyebar ke bagian tubuh lainnya (bermetastasis) pada sekitar 10 sampai 20% wanita yang mengalaminya. Kondisi tersebut kambuh di payudara pada sekitar 20 hingga 35% wanita yang pernah mengalaminya. Prognosisnya baik kecuali jika tumor telah bermetastasis.

Tingkat penyebaran

Kanker payudara dapat tetap berada di dalam payudara atau menyebar ke mana saja dalam tubuh melalui pembuluh limfatik atau aliran darah. Sel kanker cenderung bergerak ke pembuluh limfatik di payudara. Sebagian besar pembuluh limfatik di payudara mengalir ke kelenjar getah bening di ketiak (kelenjar getah bening aksila). Salah satu fungsi kelenjar getah bening adalah menyaring dan menghancurkan sel abnormal atau asing, seperti sel kanker. Jika sel-sel kanker berhasil melewati kelenjar getah bening ini, kanker dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Kanker payudara cenderung menyebar (bermetastasis) ke tulang, otak, paru-paru, hati, dan kulit tetapi dapat juga menyebar ke area mana pun. Penyebaran ke kulit kepala jarang terjadi. Kanker payudara dapat muncul di area ini selama bertahun-tahun atau bahkan beberapa dekade setelah pertama kali didiagnosis dan diobati. Jika kanker telah menyebar ke satu area, kemungkinan kanker telah menyebar ke area lain, meskipun tidak dapat langsung terdeteksi.

Kanker payudara dapat diklasifikasikan sebagai

  • Karsinoma in situ

  • Kanker invasif

Karsinoma in situ artinya kanker masih di tempatnya. Ini adalah tahap awal kanker payudara. Karsinoma in situ dapat berukuran besar dan bahkan dapat memengaruhi area payudara yang cukup luas, tetapi belum menyerang jaringan di sekitarnya atau menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Karsinoma duktal in situ terbatas pada saluran susu di payudara. Jenis ini tidak menyerang jaringan payudara di sekitarnya, tetapi dapat menyebar di sepanjang saluran dan secara bertahap memengaruhi area yang lebih luas di payudara. Jenis ini menyebabkan 85% karsinoma in situ dan setidaknya setengah dari kanker payudara. Penyakit ini paling sering terdeteksi melalui mamografi. Jenis ini dapat menjadi invasif.

Karsinoma lobular in situ terjadi di dalam kelenjar yang memproduksi susu pada payudara (lobulus). Hal ini sering terjadi di beberapa area pada kedua payudara. Wanita dengan karsinoma lobular in situ berpeluang 1 sampai 2% setiap tahun untuk terkena kanker payudara invasif pada payudara yang telah terkena atau payudara lainnya. Biasanya, karsinoma lobular in situ tidak dapat dilihat pada mamogram dan hanya terdeteksi melalui biopsi. Ada dua jenis karsinoma lobular in situ: klasik dan pleomorfik. Jenis klasik ini tidak invasif, tetapi mengalaminya dapat meningkatkan risiko berkembangnya kanker invasif di kedua payudara. Jenis pleomorfik menyebabkan kanker invasif dan, jika terdeteksi, diangkat melalui operasi.

Kanker invasif dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Terlokalisasi: Kanker terbatas pada payudara.

  • Regional: Kanker telah menyerang jaringan di dekat payudara, seperti dinding dada atau kelenjar getah bening.

  • Meluas (metastatik): Kanker telah menyebar dari payudara ke bagian tubuh lainnya (bermetastasis).

Karsinoma duktal invasif berawal pada saluran susu tetapi menembus dinding saluran, lalu menyerang jaringan payudara di sekitarnya. Jenis ini juga dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jenis ini menyebabkan sekitar 75% kanker payudara invasif.

Karsinoma lobular invasif berawal di kelenjar penghasil susu pada payudara lalu menyerang jaringan payudara di sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Kanker ini lebih berpotensi terjadi di kedua payudara daripada jenis kanker payudara lainnya. Jenis ini mencakup sebagian besar kanker payudara invasif lainnya.

Jenis kanker payudara invasif yang jarang terjadi meliputi

  • Karsinoma meduler

  • Karsinoma tubular

  • Karsinoma metaplastik

  • Karsinoma musinosum

Jenis langka yang biasanya memiliki prognosis buruk antara lain kanker payudara metaplastik dan inflamasi. Jenis langka yang biasanya berkaitan dengan prognosis baik antara lain karsinoma meduler, musinosum, kribriform, dan karsinoma tubular. Karsinoma musinosum cenderung terjadi pada wanita yang lebih tua dan tumbuh perlahan.

Reseptor tumor

Semua sel, termasuk sel kanker payudara, memiliki molekul di permukaannya yang disebut reseptor. Reseptor memiliki struktur spesifik yang memungkinkan hanya zat tertentu yang masuk ke dalamnya sehingga memengaruhi aktivitas sel. Ada atau tidaknya reseptor tertentu dalam sel kanker payudara memengaruhi seberapa cepat kanker menyebar dan bagaimana cara mengobatinya.

Reseptor tumor meliputi yang berikut ini:

  • Reseptor estrogen dan progesteron: Beberapa sel kanker payudara memiliki reseptor estrogen. Kanker yang dihasilkan, yang digambarkan sebagai reseptor estrogen positif, tumbuh atau menyebar ketika dirangsang oleh estrogen. Sekitar 80% wanita pascamenopause dan 20% wanita pramenopause yang menderita kanker payudara memiliki kanker yang reseptor estrogennya positif. Beberapa sel kanker payudara memiliki reseptor progesteron. Kanker yang dihasilkan, yang digambarkan sebagai reseptor progesteron positif, distimulasi oleh progesteron. Sekitar 70% dari semua kanker payudara adalah reseptor progesteron positif. Kanker payudara dengan reseptor estrogen dan mungkin juga kanker payudara dengan reseptor progesteron tumbuh lebih lambat daripada kanker payudara yang tidak memiliki kedua reseptor ini, dan prognosisnya lebih baik. (Estrogen dan progesteron adalah hormon seks wanita.)

  • Reseptor HER2 (juga disebut HER2/neu): Sel payudara normal memiliki reseptor HER2, yang membantunya tumbuh. (HER adalah singkatan dari Human Epithelial Growth Factor Receptor, yang terlibat dalam penggandaan, kelangsungan hidup, dan diferensiasi sel.) Pada sekitar 15% kanker payudara, sel-sel kanker memiliki terlalu banyak reseptor HER2. Kanker seperti ini cenderung berkembang sangat cepat.

Karakteristik lainnya

Terkadang kanker juga diklasifikasikan berdasarkan karakteristik lainnya.

Kanker payudara inflamasi adalah salah satu contohnya. Nama ini mengacu pada gejala kanker dan bukan pada jaringan yang terkena. Jenis ini tumbuh dengan cepat, sangat agresif, dan sering kali berakibat fatal. Sel kanker menghambat pembuluh limfatik di kulit payudara, menyebabkan payudara tampak meradang: bengkak, merah, dan hangat. Biasanya, kanker payudara inflamasi menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak. Kelenjar getah bening dapat dirasakan sebagai benjolan keras. Namun, sering kali tidak ada benjolan yang terasa di payudara karena kanker ini tersebar di seluruh payudara. Kanker payudara inflamasi mencakup sekitar 1% dari kanker payudara.

Gejala Kanker Payudara

Pada awalnya, kanker payudara biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun. Cara yang paling umum ditemukan adalah ketika seorang wanita (atau tenaga kesehatan profesional) menemukan benjolan yang tidak nyeri di payudara.

Beberapa wanita dengan kanker payudara mengalami nyeri payudara, tetapi nyeri payudara memiliki banyak penyebab dan biasanya tidak berarti bahwa seorang wanita menderita kanker payudara. Nyeri tanpa benjolan jarang disebabkan oleh kanker payudara.

Keluarnya cairan berdarah dari puting, terutama dari satu payudara saja, dapat menjadi gejala kanker payudara.

Jika seorang wanita mengalami benjolan payudara yang tidak kunjung reda setelah beberapa hari atau keluarnya darah dari puting, ia harus memeriksakan benjolan tersebut ke tenaga kesehatan profesional.

Benjolan payudara biasanya teraba sangat berbeda dari jaringan payudara di sekitarnya. Benjolan payudara yang berpotensi kanker sering kali berupa benjolan yang keras dengan ketebalan khusus yang muncul pada satu payudara tetapi tidak pada payudara lainnya. Meskipun demikian, benjolan non-kanker (seperti fibroadenoma) bisa memiliki karakteristik yang sama. Biasanya, perubahan benjolan yang tersebar pada payudara, terutama bagian luar atas, tidak bersifat kanker dan menandakan adanya perubahan fibrokistik.

Pada tahap awal, benjolan dapat bergerak bebas di bawah kulit saat didorong dengan jari.

Pada tahap yang lebih lanjut, benjolan biasanya menempel pada dinding dada atau kulit di atasnya. Dalam kasus ini, benjolan tidak dapat digerakkan sama sekali atau tidak dapat digerakkan secara terpisah dari kulit di atasnya. Seorang wanita dapat memeriksa apakah benjolan melekat pada jaringan di sekitarnya dengan mengangkat lengannya di atas kepala sambil berdiri di depan cermin. Jika payudara terdapat benjolan yang menempel pada dinding dada atau kulit, gerakan ini dapat membuat kulit berkerut atau cekung atau membuat satu payudara tampak berbeda dari payudara lainnya.

Pada kanker yang sangat parah, benjolan membengkak atau luka bernanah dapat terjadi pada kulit. Terkadang kulit di atas benjolan terlihat cekung dan kasar dan teksturnya (tetapi bukan warnanya) terlihat seperti kulit jeruk (peau d’orange).

Jika kanker telah menyebar, kelenjar getah bening, terutama yang ada di ketiak pada sisi yang terkena, dapat teraba seperti benjolan kecil yang keras. Kelenjar getah bening dapat saling menempel atau melekat pada kulit atau dinding dada. Kelenjar getah bening biasanya tidak sakit tetapi mungkin agak nyeri jika ditekan. Pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak juga dapat terjadi karena alasan non-kanker, seperti infeksi.

Kadang-kadang, gejala pertama hanya terjadi saat kanker menyebar ke organ lain. Misalnya, jika kanker payudara menyebar ke tulang, maka tulang dapat terasa sakit atau menjadi lemah, sehingga mengakibatkan fraktur. Jika kanker menyebar ke paru-paru, wanita dapat mengalami batuk atau kesulitan bernapas.

Pada penyakit Paget payudara, gejala pertama adalah luka pada puting yang berkerak atau bersisik atau keluarnya cairan dari puting. Perubahan ini mungkin tampak tidak berbahaya, sehingga wanita mungkin tidak merasa perlu memeriksakan diri ke tenaga kesehatan profesional. Banyak wanita yang menderita kanker ini juga memiliki benjolan di payudara.

Pada kanker payudara inflamasi, payudara terasa hangat, merah, dan bengkak, seolah-olah terinfeksi (padahal tidak). Kulit payudara dapat menjadi cekung dan kasar, seperti kulit jeruk, atau mungkin bergelombang. Puting dapat masuk ke dalam (terbalik). Keluarnya cairan dari puting umum terjadi. Sering kali, tidak ada benjolan yang terasa di payudara, tetapi seluruh payudara membengkak.

Diagnosis Kanker Payudara

  • Deteksi awal dengan mamografi dan/atau pencitraan lainnya (tomosintesis payudara, ultrasonografi, pencitraan resonansi magnetik [magnetic resonance imaging, MRI]) atau pemeriksaan payudara klinis

  • Biopsi

Gejala, pemeriksaan payudara oleh tenaga kesehatan profesional, atau hasil mamogram skrining dapat mempercepat evaluasi diagnostik untuk kanker payudara.

Beberapa tes pencitraan dapat digunakan untuk mengevaluasi ada tidaknya kanker payudara. Jenis tes pencitraan yang dilakukan terlebih dahulu bergantung pada gejala dan hasil pemeriksaan fisik dan terkadang faktor lainnya.

Jika mamogram skrining (atau MRI) menemukan adanya kanker, maka langkah berikutnya biasanya adalah biopsi. Beberapa wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara diperiksa dengan mamografi dan MRI.

Ketika seorang wanita memeriksakan diri ke tenaga kesehatan profesional karena gejala atau perubahan pada payudara (seperti benjolan, keluarnya cairan dari puting, atau nyeri), dan jika adanya perubahan yang ditemukan selama pemeriksaan fisik, ultrasonografi biasanya dilakukan terlebih dahulu untuk membedakan antara kista payudara (kantong berisi cairan) dan benjolan padat. Perbedaan ini penting karena kista biasanya tidak bersifat kanker. Jika hasil ultrasonografi abnormal atau tidak meyakinkan, mamografi dilakukan sebagai langkah tindak lanjut.

Hanya sekitar 10 hingga 15% dari kelainan yang terdeteksi selama pemeriksaan rutin dengan mamografi yang ternyata adalah kanker.

Meskipun hasil tes pencitraan negatif, biopsi dilakukan jika terdapat benjolan atau temuan lain yang mengarah pada kanker.

Biopsi payudara

Semua kelainan yang mengarah pada kanker akan dibiopsi.

Dokter mungkin melakukan salah satu dari beberapa jenis biopsi:

  • Biopsi jarum inti: Jarum lebar dan berongga dengan ujung khusus digunakan untuk mengambil sampel jaringan payudara.

  • Biopsi (bedah) terbuka : Dokter membuat luka kecil pada kulit dan jaringan payudara lalu mengangkat sebagian atau seluruh benjolan. Jenis biopsi ini dilakukan jika biopsi jarum tidak memungkinkan. Biopsi tersebut juga dapat dilakukan setelah biopsi jarum tidak mendeteksi kanker untuk memastikan bahwa biopsi jarum tidak melewatkan kanker.

Pencitraan sering dilakukan selama biopsi untuk membantu dokter menentukan di mana jarum biopsi harus ditempatkan.

Pencitraan juga dapat dilakukan untuk memandu biopsi. Hal ini meningkatkan akurasi biopsi jarum inti. Misalnya, untuk benjolan (baik yang teraba maupun yang terlihat pada mammogram), ultrasonografi digunakan selama biopsi jarum inti untuk secara akurat menargetkan jaringan abnormal. Ketika pencitraan digunakan untuk memandu penempatan jarum, klip untuk menandai titik biasanya ditempatkan selama biopsi.

Jika abnormalitas hanya terlihat pada MRI, maka MRI digunakan untuk memandu penempatan jarum biopsi.

Biopsi stereotaktik adalah jenis biopsi yang dipandu gambar. Hal ini berguna jika terdapat pola abnormal dari endapan kalsium kecil (disebut mikrokalsifikasi) di dalam payudara. Jenis biopsi ini membantu dokter menemukan dan mengambil sampel jaringan abnormal secara akurat. Untuk biopsi stereotaktik, dokter mengambil mamogram dari dua sudut dan mengirim gambar dua dimensi ke komputer. Komputer membandingkannya dan menghitung lokasi abnormalitas yang tepat dalam tiga dimensi. Jaringan payudara yang akan dibiopsi dengan biopsi inti stereotaktik dirontgen untuk memastikan dokter mendapatkan sampel mikrokalsifikasi yang abnormal.

Sebagian besar wanita tidak perlu dirawat di rumah sakit untuk prosedur ini. Biasanya, hanya diperlukan anestesi lokal.

Spesialis patologi (dokter yang memeriksa jaringan biopsi) memeriksa sampel biopsi di bawah mikroskop untuk menentukan ada tidaknya sel kanker.

Evaluasi setelah diagnosis kanker

Jika kanker didiagnosis, wanita akan diperiksa oleh spesialis kanker (dokter onkologi), yang dapat meliputi dokter bedah, spesialis onkologi medis (spesialis kemoterapi), dan spesialis onkologi radiasi. Dokter-dokter ini menentukan tes mana yang harus dilakukan dan merencanakan pengobatan.

Jika sel kanker terdeteksi, sampel biopsi dianalisis untuk menentukan karakteristik sel kanker, seperti

  • Apakah sel-sel kanker memiliki reseptor hormon (estrogen atau progesteron)

  • Berapa banyak reseptor HER2 yang ada

  • Seberapa cepat sel-sel kanker membelah

  • Untuk beberapa jenis kanker payudara, dilakukan pengujian genetik sel kanker (panel multigen)

Informasi ini membantu dokter memperkirakan seberapa cepat kanker dapat menyebar dan pengobatan mana yang lebih efektif.

Setelah kanker payudara didiagnosis, tes dapat meliputi

  • Rontgen dada untuk menentukan apakah kanker telah menyebar

  • Tes darah, termasuk hitung darah lengkap (complete blood count, CBC), tes hati, dan pengukuran kalsium, juga dilakukan untuk menentukan apakah kanker telah menyebar

  • Pada wanita dengan faktor risiko gen bawaan yang meningkatkan risiko kanker payudara (seperti gen BRCA), analisis darah atau air liur dilakukan untuk memeriksa ada tidaknya gen ini

  • Terkadang diperlukan pemindaian tulang (pencitraan tulang di seluruh tubuh), tomografi terkomputasi (computed tomography, CT) pada abdomen dan dada, dan MRI

  • Kadang-kadang tes darah dilakukan untuk mengukur zat yang diproduksi oleh sel kanker (penanda kanker)

National Comprehensive Cancer Network (NCCN) merekomendasikan beberapa wanita yang saat ini atau memiliki riwayat pribadi kanker payudara harus diuji untuk mengetahui ada tidaknya mutasi gen bawaan yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker payudara. Beberapa ahli merekomendasikan agar tes genetik disarankan kepada semua pasien kanker payudara. Untuk tes genetik, dokter dapat merujuk wanita ke konselor genetik, yang dapat mendokumentasikan riwayat keluarga yang terperinci (termasuk semua kerabat yang menderita kanker), memilih tes yang paling tepat, dan membantu menjelaskan hasilnya.

Penetapan Stadium Kanker Payudara

Ketika kanker didiagnosis, stadium kanker akan ditetapkan. Stadium adalah angka dari 0 hingga IV (terkadang dengan substadium yang ditunjukkan dengan huruf) yang mencerminkan seberapa luas penyebaran dan agresifnya kanker tersebut:

  • Stadium 0 ditetapkan untuk kanker payudara in situ, seperti karsinoma duktal in situ. In situ berarti kanker masih pada tempatnya. Artinya, kanker belum menyerang jaringan di sekitarnya atau menyebar ke bagian tubuh lainnya.

  • Tahap I sampai III ditetapkan untuk kanker yang telah menyebar ke jaringan di dalam atau di dekat payudara (kanker payudara lokal atau regional).

  • Tahap IV ditetapkan untuk kanker payudara metastasis (kanker yang telah menyebar dari payudara dan kelenjar getah bening di ketiak ke bagian tubuh lainnya).

Stadium kanker membantu dokter menentukan pengobatan dan prognosis yang tepat.

Banyak faktor yang menentukan stadium kanker payudara, seperti berikut ini:

  • Seberapa besar kankernya

  • Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening

  • Apakah sudah menyebar (bermetastasis) ke organ lain, seperti paru-paru atau otak

Faktor penentuan stadium penting lainnya meliputi hal berikut:

  • Nilai: Seberapa abnormal sel kanker tersebut terlihat di bawah mikroskop, dan diberi skor dari 1 hingga 3

  • Status reseptor hormon: Apakah sel-sel kanker memiliki reseptor estrogen, progesteron, dan/atau HER2

  • Tes genetik kanker (seperti tes Oncotype DX): Untuk beberapa kasus kanker payudara, berapa banyak dan kelainan gen apa yang ada dalam kanker tersebut

Nilai bervariasi karena meskipun semua sel kanker terlihat abnormal, beberapa terlihat lebih abnormal daripada yang lain. Jika sel kanker tidak terlihat sangat berbeda dari sel normal, maka kanker dianggap terdiferensiasi dengan baik. Jika sel kanker terlihat sangat abnormal, maka sel kanker dianggap tidak terdiferensiasi atau terdiferensiasi dengan buruk. Kanker yang terdiferensiasi dengan baik cenderung tumbuh dan menyebar lebih lambat daripada kanker yang tidak terdiferensiasi atau kurang terdiferensiasi. Berdasarkan perbedaan ini dan perbedaan lainnya dalam tampilan mikroskopis, dokter menetapkan nilai untuk sebagian besar kanker.

Adanya reseptor hormon dan mutasi gen dalam sel kanker memengaruhi bagaimana kanker merespons pengobatan yang berbeda dan apa prognosisnya.

Pengobatan Kanker Payudara

  • Tindakan bedah

  • Terapi radiasi

  • Kemoterapi sistemik (seluruh tubuh)

  • Penyekat hormon (obat-obatan yang memengaruhi hormon)

Pengobatan kanker payudara dimulai setelah kondisi wanita tersebut dievaluasi secara menyeluruh.

Pilihan pengobatan bergantung pada stadium dan jenis kanker payudara serta reseptor yang ada pada kanker tersebut. Meskipun demikian, pengobatan bersifat kompleks karena berbagai jenis kanker payudara memiliki karakteristik yang sangat berbeda, seperti laju pertumbuhan, tendensi penyebaran (metastasis), dan respons terhadap berbagai pengobatan. Selain itu, masih banyak hal tentang kanker payudara yang belum diketahui. Akibatnya, dokter mungkin memiliki pendapat berbeda tentang pengobatan yang paling tepat untuk wanita tertentu.

Preferensi seorang wanita dan dokternya memengaruhi keputusan pengobatan (pengambilan keputusan bersama). Wanita dengan kanker payudara harus meminta penjelasan yang lengkap tentang apa yang diketahui tentang kanker dan apa yang masih belum diketahui, serta penjelasan menyeluruh tentang pilihan pengobatan. Kemudian, mereka dapat mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari berbagai pengobatan dan menerima atau menolak opsi yang ditawarkan.

Dokter dapat meminta wanita penderita kanker payudara untuk berpartisipasi dalam studi penelitian yang meneliti tentang pengobatan baru. Pengobatan baru bertujuan untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup atau kualitas hidup. Wanita harus meminta dokter mereka untuk menjelaskan risiko dan kemungkinan manfaat dari partisipasi tersebut, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang tepat.

Pengobatan biasanya melibatkan operasi dan sering kali mencakup terapi radiasi dan kemoterapi atau penyekat hormon. Terkadang seorang wanita dapat memilih apakah operasi tersebut mencakup pengangkatan sebagian atau satu atau kedua payudara. Wanita dapat dirujuk ke dokter bedah plastik atau rekonstruksi, yang dapat mengangkat kanker dan merekonstruksi payudara dalam operasi yang sama.

Tindakan bedah

Tumor yang bersifat kanker dan berbagai jumlah jaringan di sekitarnya diangkat. Ada dua opsi utama untuk mengangkat tumor:

  • Operasi konservasi payudara dan terapi radiasi

  • Pengangkatan payudara (mastektomi)

Untuk wanita dengan kanker invasif (stadium I atau lebih tinggi), mastektomi tidak lebih efektif dibandingkan operasi konservasi payudara dan terapi radiasi selama seluruh tumor dapat diangkat pada saat operasi konservasi payudara. Dalam operasi konservasi payudara, dokter mengangkat tumor dan juga beberapa jaringan normal di sekitarnya untuk mengurangi risiko tertinggalnya jaringan yang mungkin mengandung kanker.

Sebelum operasi, kemoterapi dapat digunakan untuk mengecilkan tumor sebelum diangkat. Pendekatan ini kadang-kadang memungkinkan beberapa wanita untuk menjalani operasi konservasi payudara daripada mastektomi.

Operasi konservasi payudara

Operasi konservasi payudara menyisakan sebanyak mungkin bagian payudara yang utuh. Ketika mempertimbangkan jenis pembedahan, lebih penting bagi dokter untuk memastikan bahwa mereka mengangkat seluruh kanker daripada mengambil risiko menyisakan jaringan yang mungkin mengandung kanker.

Untuk operasi konservasi payudara, dokter terlebih dahulu menentukan seberapa besar ukuran tumor dan berapa banyak jaringan di sekitarnya (disebut margin) yang perlu diangkat. Ukuran margin ditentukan berdasarkan seberapa besar tumor dalam kaitannya dengan payudara. Kemudian tumor dengan marginnya diangkat melalui operasi. Jaringan dari margin diperiksa di bawah mikroskop untuk mengetahui ada tidaknya sel kanker yang telah menyebar di luar tumor. Temuan ini membantu dokter memutuskan apakah diperlukan pengobatan lebih lanjut.

Berbagai istilah (misalnya, lumpektomi, eksisi lebar, kuadranektomi) digunakan untuk menggambarkan berapa banyak jaringan payudara yang diangkat.

Operasi konservasi payudara biasanya dilanjutkan dengan terapi radiasi.

Keuntungan utama dari operasi konservasi payudara adalah kemungkinan untuk mempertahankan jaringan payudara dan bagaimana penampilan payudara setelah operasi. Jika tumornya lebih besar dibandingkan dengan payudara, maka operasi jenis ini cenderung tidak berguna. Dalam kasus seperti itu, pengangkatan tumor dan sebagian jaringan normal di sekitarnya berarti mengangkat sebagian besar payudara. Operasi konservasi payudara biasanya lebih tepat dilakukan jika tumornya kecil. Pada sekitar 15% wanita yang menjalani operasi konservasi payudara, jumlah jaringan yang diangkat sangat kecil sehingga sedikit perbedaan yang dapat terlihat antara payudara yang diobati dan yang tidak diobati. Namun demikian, pada sebagian besar wanita, payudara yang diobati sedikit menyusut dan dapat berubah kontur.

Jika operasi konservasi payudara atau mastektomi merupakan pilihan, seorang wanita harus mempertimbangkan setiap pilihan tersebut. Beberapa wanita lebih menyukai operasi konservasi payudara karena mereka merasa bahwa kehilangan payudara akan menjadi pengalaman emosional dan fisik yang sangat sulit dan bahwa operasi konservasi payudara membantu menjaga citra tubuh. Wanita lain lebih memilih mastektomi karena mereka merasa lebih nyaman mengangkat semua jaringan payudara atau karena jika mereka menjalani mastektomi, mereka mungkin tidak memerlukan terapi radiasi.

Kemoterapi, dilakukan untuk mengecilkan tumor sebelum diangkat, sehingga memungkinkan beberapa wanita menjalani operasi konservasi payudara dan bukan mastektomi.

Mastektomi

Mastektomi adalah pilihan operasi utama lainnya. Gangguan ini memiliki beberapa jenis. Pada semua jenis mastektomi, semua jaringan payudara diangkat, tetapi jaringan mana dan berapa banyak jaringan yang dibiarkan atau diangkat bervariasi berdasarkan jenisnya:

  • Skin-sparing mastectomy yang menyisakan otot di bawah payudara dan kulit yang cukup untuk menutupi luka. Rekonstruksi payudara jauh lebih mudah jika jaringan ini dibiarkan. Kelenjar getah bening di ketiak tidak dihilangkan.

  • Nipple-sparing mastectomy sama dengan skin-sparing mastectomy ditambah menyisakan puting dan area kulit berpigmen di sekitar puting (areola).

  • Simple mastectomy menyisakan otot di bawah payudara (otot dada) dan kelenjar getah bening di ketiak.

  • Mastektomi radikal yang dimodifikasi terdiri dari pengangkatan beberapa kelenjar getah bening di ketiak tetapi menyisakan otot di bawah payudara.

  • Mastektomi radikal terdiri dari pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak dan otot di bawah payudara. Prosedur ini jarang dilakukan saat ini kecuali kanker telah menyerang otot di bawah payudara.

Pemeriksaan kelenjar getah bening

Dokter memeriksa kelenjar getah bening untuk menentukan apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak. Jika kanker terdeteksi pada kelenjar getah bening ini, kemungkinan besar kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Dalam kasus tersebut, mungkin diperlukan pengobatan yang berbeda.

Jaringan pembuluh limfatik dan kelenjar getah bening (sistem limfatik) membuang cairan dari jaringan di payudara (dan area tubuh lainnya). Kelenjar getah bening menjebak benda asing atau sel abnormal (seperti bakteri atau sel kanker) yang mungkin terkandung dalam cairan ini. Dengan demikian, sel-sel kanker payudara sering berakhir di kelenjar getah bening di dekat payudara, seperti yang ada di ketiak. Biasanya, benda asing dan sel abnormal kemudian dihancurkan. Namun demikian, sel-sel kanker terkadang terus tumbuh dalam kelenjar getah bening atau melewati kelenjar tersebut ke dalam pembuluh limfatik dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Dokter pertama-tama akan meraba ketiak untuk memeriksa pembesaran kelenjar getah bening. Bergantung pada apa yang ditemukan dokter, mereka dapat melakukan satu atau beberapa hal berikut ini:

  • Ultrasonografi untuk memeriksa kelenjar getah bening yang mungkin membengkak

  • Biopsi (dengan mengangkat kelenjar getah bening atau mengambil sampel jaringan dengan jarum yang penempatannya dipandu menggunakan ultrasonografi)

  • Pembedahan kelenjar getah bening aksila: Pengangkatan banyak (biasanya 10 sampai 20) kelenjar getah bening di ketiak

  • Pembedahan kelenjar getah bening sentinel: Pengangkatan hanya kelenjar getah bening yang kemungkinan besar menjadi tempat penyebaran sel kanker

Jika dokter merasakan pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau merasa tidak yakin apakah pembengkakan kelenjar getah bening terjadi, dilakukan ultrasonografi. Jika pembengkakan kelenjar getah bening terdeteksi, jarum dimasukkan ke dalamnya untuk mengambil sampel jaringan yang akan diperiksa (aspirasi jarum halus atau biopsi jarum inti). Ultrasonografi digunakan untuk memandu penempatan jarum.

Jika biopsi mendeteksi adanya kanker, operasi pengangkatan kelenjar getah bening dari ketiak (pembedahan kelenjar getah bening aksila) mungkin diperlukan. Mengangkat banyak kelenjar getah bening di ketiak, sekali pun mengandung kanker, tidak membantu menyembuhkan kanker. Namun, pengangkatan ini membantu dokter memutuskan pengobatan apa yang akan digunakan. Kelenjar getah bening aksila dievaluasi kembali setelah kemoterapi diberikan sebelum pembedahan (disebut kemoterapi neoadjuvan).

Jika biopsi setelah ultrasonografi tidak mendeteksi adanya kanker, biopsi kelenjar getah bening sentinel dilakukan karena meskipun tidak ada sel kanker dalam sampel biopsi, sel kanker mungkin ada di bagian lain dari kelenjar getah bening. Biopsi kelenjar getah sentinel biasanya dilakukan sebagai bagian dari operasi untuk pengangkatan kanker, seperti lumpektomi atau mastektomi. Hal ini memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi dan menguji kelenjar getah bening terpenting yang berkaitan dengan kanker payudara. Jika kelenjar getah bening tersebut tidak bersifat kanker, seorang wanita tidak memerlukan operasi yang lebih luas untuk mengangkat semua kelenjar getah bening aksila.

Untuk biopsi kelenjar getah bening sentinel, dokter menyuntikkan pewarna biru dan/atau zat radioaktif ke dalam payudara. Zat-zat tersebut dapat memetakan jalur dari payudara ke kelenjar getah bening pertama (atau nodus) di ketiak. Dokter kemudian membuat sayatan kecil di ketiak dan mencari kelenjar getah bening yang terlihat biru dan/atau mengeluarkan sinyal radioaktif (terdeteksi oleh perangkat genggam). Kelenjar getah bening ini adalah tempat yang paling memungkinkan sel kanker untuk menyebar. Nodus ini disebut kelenjar getah bening sentinel karena merupakan yang pertama memperingatkan bahwa kanker telah menyebar. Dokter mengangkat nodus ini dan mengirimkannya ke laboratorium untuk pemeriksaan ada tidaknya kanker. Lebih dari satu kelenjar getah bening dapat terlihat biru dan/atau mengeluarkan sinyal radioaktif dan dengan demikian dianggap sebagai kelenjar getah bening sentinel.

Jika kelenjar getah bening sentinel tidak mengandung sel kanker, tidak ada kelenjar getah bening lain yang diangkat.

Jika kelenjar sentinel mengandung kanker, pembedahan kelenjar getah bening aksila dapat dilakukan, bergantung pada berbagai faktor, seperti

  • Apakah mastektomi direncanakan

  • Berapa banyak nodus sentinel yang ada dan apakah kanker telah menyebar ke luar nodus

Terkadang selama operasi untuk mengangkat tumor, dokter menemukan bahwa kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening, dan diperlukan pembedahan kelenjar getah bening aksila. Sebelum operasi dilakukan, wanita mungkin ditanya apakah mereka bersedia untuk mengizinkan dokter bedah melakukan operasi yang lebih luas jika kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening. Jika tidak, prosedur bedah kedua, jika diperlukan, akan dilakukan nanti.

Pengangkatan kelenjar getah bening sering menyebabkan masalah karena memengaruhi drainase cairan dalam jaringan. Akibatnya, cairan dapat terakumulasi, menyebabkan pembengkakan yang terus-menerus (limfedema) pada lengan atau tangan. Setelah operasi, risiko pengembangan limfedema berlanjut seumur hidup. Gerakan lengan dan bahu mungkin terbatas, sehingga membutuhkan terapi fisik. Semakin banyak kelenjar getah bening yang diangkat, semakin buruk limfedema. Biopsi kelenjar getah bening sentinel menyebabkan lebih sedikit limfedema dibandingkan pembedahan kelenjar getah bening aksila.

Jika limfedema berkembang, maka akan ditangani oleh terapis yang terlatih secara khusus. Mereka mengajari wanita cara memijat area tersebut, yang dapat membantu mengeluarkan cairan yang terakumulasi, dan cara mengaplikasikan perban, yang membantu menjaga cairan agar tidak terakumulasi kembali. Lengan yang terkena harus digunakan senormal mungkin, kecuali lengan yang tidak terkena harus digunakan untuk mengangkat beban berat. Wanita harus berolahraga dengan lengan yang terkena setiap hari sesuai petunjuk dan membalutnya semalaman tanpa batas waktu.

Jika kelenjar getah bening telah diangkat, wanita dapat disarankan untuk meminta tenaga kesehatan profesional agar tidak memasukkan kateter atau jarum ke dalam pembuluh darah di lengan yang terkena dan tidak mengukur tekanan darah di lengan tersebut. Prosedur ini membuat limfedema lebih mungkin berkembang atau memburuk. Wanita juga disarankan untuk mengenakan sarung tangan setiap kali mereka melakukan pekerjaan yang dapat menggores atau melukai kulit tangan dan lengan pada sisi operasi. Menghindari cedera dan infeksi dapat membantu mengurangi risiko berkembangnya limfedema.

Masalah lain yang dapat terjadi setelah kelenjar getah bening diangkat meliputi kebas sementara atau berkelanjutan, sensasi terbakar yang terus-menerus, dan infeksi.

Apakah yang Dimaksud dengan Kelenjar Getah Bening Sentinel?

Jaringan pembuluh limfatik dan kelenjar getah bening menguras cairan dari jaringan di payudara. Kelenjar getah bening ditugaskan untuk menjebak benda asing atau sel abnormal (seperti bakteri atau sel kanker) yang mungkin terkandung dalam cairan ini. Kadang-kadang sel kanker melewati kelenjar getah bening menuju pembuluh limfatik dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Meskipun cairan dari jaringan payudara pada akhirnya mengalir ke banyak kelenjar getah bening, cairan biasanya mengalir terlebih dahulu melalui satu atau hanya beberapa kelenjar getah bening terdekat. Kelenjar getah bening tersebut disebut kelenjar getah bening sentinel karena mereka adalah yang pertama memperingatkan bahwa kanker telah menyebar.

Operasi rekonstruksi payudara

Operasi rekonstruksi payudara dapat dilakukan bersamaan dengan mastektomi atau sesudahnya.

Wanita harus berkonsultasi dengan dokter bedah plastik lebih awal selama pengobatan untuk merencanakan operasi rekonstruksi payudara. Kapan rekonstruksi dilakukan tidak hanya bergantung pada pilihan wanita tetapi juga pada pengobatan lain yang diperlukan. Misalnya, jika terapi radiasi dilakukan sebelum operasi rekonstruksi, maka pilihan untuk rekonstruksi akan terbatas. Operasi payudara onkoplastik, yang menggabungkan operasi kanker (onkologi) dan operasi plastik, adalah salah satu pilihan. Jenis operasi ini dirancang untuk mengangkat semua kanker dari payudara dan mempertahankan atau memulihkan bentuk alami payudara.

Sering kali, operasi dilakukan dengan

  • Memasukkan implan (terbuat dari silikon atau salin)

  • Merekonstruksi payudara menggunakan jaringan yang diambil dari bagian lain dari tubuh wanita tersebut

Dokter bedah sering kali mengambil jaringan dari otot di perut bagian bawah untuk rekonstruksi payudara. Sebagai alternatif, kulit dan jaringan lemak (bukan otot) dari perut bagian bawah dapat digunakan untuk merekonstruksi payudara.

Sebelum memasukkan implan, dokter menggunakan ekspander jaringan, yang menyerupai balon, untuk meregangkan sisa kulit dada dan otot untuk memberikan ruang bagi implan payudara. Ekspander jaringan ditempatkan di bawah otot dada pada saat mastektomi. Ekspander memiliki katup kecil yang dapat diakses oleh tenaga kesehatan profesional dengan memasukkan jarum melalui kulit. Selama beberapa minggu ke depan, larutan garam (salin) disuntikkan secara berkala melalui katup tersebut untuk memperluas ekspander sedikit demi sedikit. Setelah perluasan selesai, ekspander dikeluarkan melalui operasi, lalu implan dimasukkan.

Sebagai alternatif, jaringan yang diambil dari tubuh wanita (seperti otot dan jaringan di bawah kulit) dapat digunakan untuk rekonstruksi. Jaringan-jaringan ini diambil dari perut, punggung, atau bokong dan dipindahkan ke area dada untuk membuat bentuk payudara.

Puting susu dan kulit di sekitarnya biasanya direkonstruksi dalam operasi terpisah yang dilakukan kemudian. Berbagai teknik dapat digunakan. Termasuk menggunakan jaringan dari tubuh wanita dan membuat tato.

Operasi juga dapat dilakukan untuk memodifikasi (menambah, mengurangi, atau mengangkat) payudara lainnya agar kedua payudara cocok.

Pembuatan Ulang Payudara

Setelah dokter bedah umum mengangkat tumor payudara dan jaringan payudara di sekitarnya (mastektomi), dokter bedah plastik dapat merekonstruksi payudara. Implan silikon atau salin dapat digunakan. Atau dalam operasi yang lebih kompleks, jaringan dapat diambil dari bagian tubuh wanita lainnya, seperti perut, bokong, atau punggung.

Rekonstruksi dapat dilakukan pada saat yang sama dengan mastektomi—pilihan yang membutuhkan anestesi dalam waktu yang lebih lama—atau nanti—pilihan yang membutuhkan anestesi untuk kedua kalinya.

Rekonstruksi puting dan kulit di sekitarnya dilakukan kemudian, seringkali di ruang praktik dokter. Tidak diperlukan bius total.

Pada banyak wanita, payudara yang direkonstruksi terlihat lebih alami daripada payudara yang telah diobati dengan terapi radiasi, terutama jika tumornya besar.

Jika menggunakan implan silikon atau salin dan ada cukup kulit yang tersisa untuk menutupinya, maka sensasi pada kulit di atas implan tersebut relatif normal. Namun demikian, tidak satu pun jenis implan yang terasa seperti jaringan payudara saat disentuh. Jika kulit dari bagian tubuh lainnya digunakan untuk menutupi payudara, sebagian besar sensasinya hilang. Namun, jaringan dari bagian tubuh lainnya terasa lebih seperti jaringan payudara daripada implan silikon atau salin.

Silikon terkadang bocor dari kantongnya. Akibatnya, implan dapat menjadi keras, menyebabkan ketidaknyamanan, dan terlihat kurang menarik. Silikon juga terkadang memasuki aliran darah.

Beberapa wanita khawatir apakah kebocoran silikon menyebabkan kanker di bagian tubuh lainnya atau penyakit langka seperti lupus eritematosus sistemik (lupus). Hampir tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kebocoran silikon memiliki efek yang serius ini, tetapi karena hal ini mungkin terjadi, penggunaan implan silikon mengalami penurunan, terutama di kalangan wanita yang tidak menderita kanker payudara.

Pengangkatan Payudara Tanpa Kanker

Wanita tertentu yang mengalami kanker payudara memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara di payudara mereka yang lain (yang tanpa kanker). Dokter mungkin menyarankan agar para wanita ini melakukan pengangkatan payudara satunya sebelum kanker berkembang di dalamnya. Prosedur ini disebut mastektomi profilaksis (pencegahan) kontralateral (sisi berlawanan). Operasi preventif ini mungkin sesuai untuk wanita dengan salah satu dari kondisi berikut ini:

  • Mutasi genetik yang diturunkan yang meningkatkan risiko terkena kanker payudara (seperti mutasi BRCA1 atau BRCA2)

  • Memiliki setidaknya dua orang kerabat dekat, biasanya tingkat pertama, yang pernah menderita kanker payudara atau ovarium

  • Pernah menjalani terapi radiasi yang diarahkan ke dada saat wanita berusia di bawah 30 tahun

  • Karsinoma lobular in situ (tipe noninvasif)

Pada wanita yang mengalami karsinoma lobular in situ pada satu payudara, kanker invasif memiliki kemungkinan untuk timbul pada kedua payudara. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menghilangkan risiko kanker payudara bagi para wanita ini adalah dengan mengangkat kedua payudara. Beberapa wanita, terutama mereka yang berisiko tinggi terkena kanker payudara invasif, memilih opsi ini.

Keuntungan dari mastektomi profilaksis kontralateral meliputi yang berikut ini:

  • Kelangsungan hidup yang lebih lama bagi wanita dengan kanker payudara dan mutasi genetik yang meningkatkan risiko dan mungkin bagi wanita yang berusia di bawah 50 tahun ketika didiagnosis menderita kanker payudara

  • Mengurangi kebutuhan akan tes pencitraan lanjutan yang rumit setelah pengobatan

  • Bagi sebagian wanita, dapat mengurangi kecemasan

Kekurangan dari prosedur ini meliputi:

  • Dua kali risiko komplikasi

Daripada melakukan mastektomi profilaksis kontralateral, beberapa wanita dapat memilih untuk meminta dokter memantau kanker dengan ketat—misalnya dengan tes pencitraan.

Terapi Radiasi

Terapi radiasi digunakan untuk membunuh sel kanker di dan di dekat lokasi pengangkatan tumor, termasuk kelenjar getah bening di dekatnya.

Terapi radiasi setelah mastektomi dilakukan jika terdapat hal-hal berikut ini:

  • Tumor berukuran 5 sentimeter (sekitar 2 inci) atau lebih besar.

  • Kanker telah menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening.

Dalam kasus seperti itu, terapi radiasi setelah mastektomi mengurangi insiden kanker yang berulang di dinding dada dan kelenjar getah bening terdekat, serta meningkatkan peluang bertahan hidup.

Terapi radiasi setelah operasi konservasi payudara secara signifikan mengurangi insiden berulangnya kanker payudara di dekat area asal tumor dan kelenjar getah bening terdekat, dan dapat meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan. Namun demikian, jika wanita berusia di atas 70 tahun menjalani lumpektomi dan kanker tersebut memiliki reseptor estrogen, terapi radiasi mungkin tidak diperlukan karena tidak secara signifikan mengurangi risiko kekambuhan atau meningkatkan peluang bertahan hidup pada wanita-wanita ini.

Efek samping terapi radiasi meliputi pembengkakan pada payudara, kemerahan dan melepuhnya kulit di area yang diobati, serta kelelahan. Efek ini biasanya hilang dalam beberapa bulan hingga sekitar 12 bulan. Kurang dari 5% wanita yang diobati dengan terapi radiasi mengalami patah tulang rusuk yang menyebabkan sedikit ketidaknyamanan. Pada sekitar 1% wanita, paru-parunya mengalami peradangan ringan selama 6 hingga 18 bulan setelah terapi radiasi selesai. Peradangan ini menyebabkan batuk kering dan sesak napas selama aktivitas fisik yang berlangsung hingga sekitar 6 minggu. Limfedema dapat terjadi setelah terapi radiasi.

Kemoterapi dan penyekat hormon (tamoksifen dan penghambat aromatase)

Kemoterapi dan penyekat hormon (obat-obatan yang memengaruhi hormon, seperti tamoksifen atau penghambat aromatase) dapat menekan pertumbuhan sel kanker di seluruh tubuh.

Untuk memutuskan apakah akan mengobati dengan kemoterapi, dokter mengevaluasi beberapa faktor tentang wanita dan kanker payudara serta mendiskusikan risiko dan manfaatnya dengan wanita tersebut. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dokter meliputi

  • Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening

  • Apakah wanita tersebut pramenopause atau pascamenopause

  • Apa hasil dari tes untuk reseptor estrogen dan reseptor progesteron

  • Apa hasil dari tes untuk onkogen faktor pertumbuhan epidermal manusia 2 (HER2)

  • Tes genetik kanker (seperti tes Oncotype DX)

Untuk wanita dengan kanker payudara invasif, kemoterapi dan/atau penyekat hormon biasanya dimulai segera setelah operasi. Obat-obatan ini dilanjutkan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Beberapa, seperti tamoksifen, dapat dilanjutkan selama 5 sampai 10 tahun. Jika tumor lebih besar dari 5 sentimeter (sekitar 2 inci), kemoterapi atau penyekat hormon dapat dimulai sebelum operasi. Obat-obatan ini menunda atau mencegah kekambuhan kanker pada sebagian besar wanita dan memperpanjang kelangsungan hidup pada beberapa wanita.

Menganalisis materi genetik kanker (tes genomik prediktif) dapat membantu memprediksi kanker mana yang rentan terhadap kemoterapi atau penyekat hormon.

Jika wanita menderita kanker payudara dengan reseptor estrogen dan progesteron tetapi tidak ada reseptor HER2 dan kelenjar getah bening yang terkena, mereka mungkin tidak memerlukan kemoterapi. Penyekat hormon saja mungkin cukup.

Penyekat hormon (terapi endokrin)

Penyekat hormon menggunakan obat-obatan yang mengganggu kerja estrogen atau progesteron, yang menstimulasi pertumbuhan sel kanker yang memiliki reseptor estrogen dan/atau progesteron. Penyekat hormon dapat digunakan jika sel-sel kanker memiliki reseptor-reseptor ini, terkadang sebagai pengganti kemoterapi. Manfaat penyekat hormon yang paling besar adalah apabila sel-sel kanker memiliki reseptor estrogen dan progesteron dan hampir sama besarnya apabila hanya ada reseptor estrogen. Manfaatnya kecil jika hanya ada reseptor progesteron.

Obat-obatan yang digunakan untuk terapi endokrin meliputi tamoksifen dan penghambat aromatase.

  • Tamoksifen:Tamoksifen, yang diberikan melalui mulut, adalah modulator reseptor estrogen selektif. Obat ini berikatan dengan reseptor estrogen dan mencegah stimulasi jaringan payudara oleh estrogen. Pada wanita yang menderita kanker dengan reseptor estrogen positif, tamoksifen, yang diminum selama 5 tahun, meningkatkan kemungkinan bertahan hidup sekitar 25%, dan pengobatan selama 10 tahun mungkin akan lebih efektif. Tamoksifen meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah di tungkai dan paru-paru. Hal ini juga meningkatkan kecenderungan pembentukan polip dalam dinding rahim (polip endometrium), yang dapat menyebabkan perdarahan rahim abnormal, dan risiko timbulnya kanker rahim (kanker endometrium). Dengan demikian, jika seorang wanita yang meminum tamoksifen mengalami pola perdarahan vagina yang tidak normal, ia harus memeriksakan diri ke dokter.

  • Penghambat aromatase: Obat-obatan ini ( anastrozol, eksemestan, dan letrozol) menghambat aromatase (enzim yang mengubah beberapa hormon menjadi estrogen) dan dengan demikian mengurangi kadar estrogen dalam darah. Pada wanita pascamenopause, obat-obatan ini mungkin lebih efektif dibandingkan tamoksifen. Penghambat aromatase dapat meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang dan sering menyebabkan kekeringan pada vagina. Kadang-kadang wanita pramenopause diobati dengan obat untuk menekan fungsi ovarium (seperti leukuprolida) yang dikombinasikan dengan penghambat aromatase; ini disebut supresi ovarium.

Kemoterapi

Kemoterapi digunakan untuk membunuh sel yang berkembang biak dengan cepat atau memperlambat perkembangbiakannya. Kemoterapi saja tidak dapat menyembuhkan kanker payudara. Kemoterapi harus disertai dengan operasi atau terapi radiasi. Kemoterapi biasanya diberikan secara intravena dalam beberapa siklus. Terkadang diberikan melalui mulut. Umumnya, satu hari kemoterapi diikuti dengan pemulihan selama 2 minggu atau lebih. Penggunaan beberapa obat kemoterapi secara bersamaan lebih efektif dibandingkan dengan hanya menggunakan satu obat. Pilihan kemoterapi sebagian bergantung pada apakah sel kanker terdeteksi di kelenjar getah bening di dekatnya.

Obat kemoterapi yang banyak digunakan meliputi siklofosfamid, doksorubisin, epirubisin, 5-fluorourasil, metotreksat, dan paklitaksel (lihat Kemoterapi).

Efek samping (seperti muntah, mual, rambut rontok, dan kelelahan) bervariasi bergantung pada kemoterapi yang digunakan. Kemoterapi dapat menyebabkan infertilitas dan menopause dini karena menghancurkan sel telur di ovarium. Kemoterapi juga dapat menekan produksi sel darah oleh sumsum tulang dengan demikian menyebabkan anemia atau perdarahan atau meningkatkan risiko infeksi. Jadi obat-obatan, seperti filgrastim atau pegfilgrastim, dapat digunakan untuk merangsang sumsum tulang menghasilkan sel darah.

Terapi HER2-Terarah

Trastuzumab dan pertuzumab adalah jenis antibodi monoklonal yang disebut obat-obatan anti-HER2. Obat-obatan ini digunakan bersama kemoterapi untuk mengobati kanker payudara metastasis hanya jika sel kanker memiliki terlalu banyak reseptor HER2. Obat-obatan ini mengikat reseptor HER2 dengan demikian membantu mencegah sel kanker berkembang biak. Terkadang kedua obat ini digunakan. Trastuzumab biasanya diminum selama setahun. Kedua obat tersebut dapat melemahkan otot jantung. Jadi dokter memantau fungsi jantung selama pengobatan.

Pengobatan Kanker Noninvasif (Stadium 0)

(Lihat juga tabel Mengobati Kanker Payudara Berdasarkan Jenis dan Stadium.)

Untuk karsinoma duktal in situ, pengobatan biasanya terdiri dari salah satu dari yang berikut ini:

  • Mastektomi

  • Pengangkatan tumor dan sejumlah besar jaringan normal di sekitarnya (lumpektomi) dengan atau tanpa terapi radiasi

Wanita dengan karsinoma duktal in situ yang positif reseptor estrogen atau positif reseptor progesteron juga dapat diberikan penyekat hormon sebagai bagian dari pengobatan mereka.

Karsinoma lobular in situ (Lobular carcinoma in situ, LCIS) bukan kanker, tetapi menyebabkan sel abpormal terbentuk pada kelenjar susu (lobulus) di payudara. Orang dengan LCIS berisiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara. Pengobatan untuk LCIS meliputi:

  • Karsinoma lobular in situ klasik: Operasi pengangkatan untuk memeriksa ada tidaknya kanker dan, jika tidak ada kanker yang terdeteksi, observasi ketat setelahnya dan terkadang diberikan tamoksifen, raloksifen, atau penghambat aromatase untuk mengurangi risiko kanker invasif

  • Karsinoma lobular pleomorfik in situ: Operasi untuk mengangkat area abnormal dan terkadang tamoksifen atau raloksifen untuk mengurangi risiko terkena kanker invasif

Observasi terdiri dari pemeriksaan fisik setiap 6 sampai 12 bulan selama 5 tahun dan selanjutnya ditambah dengan mamografi setahun sekali. Meskipun kanker payudara invasif dapat berkembang, kanker invasif yang berkembang biasanya tidak tumbuh dengan cepat dan biasanya dapat diobati secara efektif. Selain itu, karena kanker invasif memiliki kemungkinan yang sama untuk berkembang pada kedua payudara, satu-satunya cara untuk menghilangkan risiko kanker payudara bagi wanita dengan karsinoma lobular in situ adalah dengan pengangkatan kedua payudara (mastektomi bilateral). Beberapa wanita, terutama mereka yang berisiko tinggi terkena kanker payudara invasif, memilih opsi ini.

Wanita dengan karsinoma lobular in situ sering diberi tamoksifen, obat penyekat hormon, selama 5 tahun. Obat ini mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko berkembangnya kanker invasif. Wanita pascamenopause dapat diberikan raloksifen atau terkadang penghambat aromatase sebagai gantinya.

Pengobatan Kanker Invasif Stadium Awal (Stadium I dan II)

Untuk kanker payudara yang berada di dalam payudara dan mungkin telah atau belum menyebar ke kelenjar getah bening terdekat, pengobatan hampir selalu mencakup operasi untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin. Salah satu hal berikut dapat dilakukan:

  • Operasi konservasi payudara (lumpektomi), dilanjutkan dengan terapi radiasi

  • Mastektomi dengan atau tanpa rekonstruksi payudara

Operasi awal dapat mencakup pembedahan kelenjar getah bening aksila (pengangkatan kelenjar getah bening dari ketiak dalam jumlah banyak) atau biopsi kelenjar getah bening sentinel (pengangkatan kelenjar getah bening terdekat payudara atau beberapa kelenjar pertama yang terdekat dengan payudara).

Operasi konservasi payudara, bukan mastektomi, hanya digunakan jika tumor tidak terlalu besar, karena seluruh tumor dan juga beberapa jaringan normal di sekitarnya harus diangkat.

Setelah operasi, wanita dapat diberikan kemoterapi, penyekat hormon, obat anti-HER2, atau kombinasinya, tergantung analisis tumor.

Ada beberapa alasan mengapa seorang wanita dapat diobati dengan kemoterapi sebelum operasi (disebut kemoterapi neoadjuvan). Jika tumor melekat pada dinding dada, kemoterapi membantu pengangkatan tumor. Kemoterapi juga membantu mengecilkan ukuran kanker payudara yang berukuran besar dibandingkan dengan bagian payudara lainnya. Hal ini meningkatkan peluang untuk dapat menjalani operasi konservasi payudara.

Kemoterapi neoadjuvan juga dapat dipertimbangkan untuk pengobatan kanker payudara yang tidak memiliki reseptor estrogen, progesteron, dan HER2 (disebut kanker payudara triple negative) dan kanker yang hanya memiliki reseptor HER2.

Pengobatan Kanker Stadium Lanjut (Stadium III)

Untuk kanker payudara yang telah menyebar ke lebih banyak kelenjar getah bening, hal berikut dapat dilakukan:

  • Sebelum operasi, obat-obatan, biasanya kemoterapi, untuk mengecilkan tumor

  • Operasi konservasi payudara atau mastektomi

  • Setelah operasi, biasanya dilakukan terapi radiasi

  • Setelah operasi, dilakukan kemoterapi, diberikan penyekat hormon, atau keduanya

Penggunaan terapi radiasi dan/atau kemoterapi atau obat-obatan lain setelah operasi bergantung pada banyak faktor, antara lain:

  • Seberapa besar ukuran tumor

  • Apakah menopause telah terjadi

  • Apakah tumor memiliki reseptor hormon

  • Berapa banyak kelenjar getah bening yang mengandung sel kanker

Pengobatan Kanker yang Telah Menyebar (Stadium IV) atau Berulang

Kanker payudara yang telah menyebar melampaui kelenjar getah bening tidak dapat disembuhkan, tetapi sebagian besar wanita yang menderita kanker payudara dapat hidup setidaknya 2 tahun, dan beberapa lainnya dapat hidup selama 10 hingga 20 tahun. Respons pengobatan bergantung pada biologi tumor, tetapi dapat meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Meskipun demikian, beberapa pengobatan memiliki efek samping yang mengganggu. Dengan demikian, memutuskan apakah akan diobati dan, jika ya, pengobatan mana yang akan dipilih bisa menjadi sangat pribadi.

Pilihan terapi bergantung pada hal berikut:

  • Apakah kanker memiliki reseptor estrogen dan progesteron

  • Berapa lama kanker berada dalam masa remisi sebelum menyebar

  • Berapa banyak organ dan berapa banyak bagian tubuh yang telah diserang kanker (di mana metastasis berada)

  • Apakah wanita tersebut sudah pascamenopause atau masih menstruasi

Jika kanker menyebabkan gejala (nyeri atau ketidaknyamanan lainnya), biasanya wanita diobati dengan kemoterapi atau penyekat hormon. Rasa nyeri biasanya diobati dengan analgesik. Obat-obatan lain dapat diberikan untuk meredakan gejala lain. Jika terapi kuratif tidak memungkinkan, pengobatan diberikan untuk mengurangi gejala (disebut perawatan paliatif).

Penyekat hormon (terapi endokrin) lebih disukai daripada kemoterapi jika kanker memiliki karakteristik berikut:

  • Kanker positif reseptor estrogen.

  • Kanker tidak kambuh selama lebih dari 2 tahun setelah diagnosis dan pengobatan awal.

  • Kanker tidak langsung mengancam nyawa.

Terapi endokrin yang berbeda digunakan dalam situasi yang berbeda:

  • Tamoksifen:Tamoksifen sering menjadi pilihan pertama penyekat hormon untuk wanita pramenopause.

  • Penghambat aromatase: Untuk wanita pascamenopause dengan kanker payudara yang positif reseptor estrogen, penghambat aromatase (seperti anastrozol, letrozol, dan eksemestan) mungkin lebih efektif sebagai pengobatan pertama daripada tamoksifen.

  • Progestin: Obat-obatan ini, seperti medroksiprogesteron atau megestrol, dapat digunakan jika penghambat aromatase dan tamoksifen tidak lagi efektif.

  • Fulvestran: Obat ini dapat digunakan jika tamoksifen sudah tidak efektif lagi. Obat ini menghancurkan reseptor estrogen dalam sel kanker.

Sebagai alternatif, untuk wanita pramenopause, pembedahan untuk mengangkat ovarium atau obat untuk menghambat aktivitasnya (seperti buserelin, goserelin, atau leuprolid) dapat digunakan untuk menghentikan produksi estrogen. Terapi ini dapat digunakan bersama tamoksifen atau penghambat aromatase.

Trastuzumab dapat digunakan untuk mengobati kanker dengan reseptor HER2 yang telah menyebar ke seluruh tubuh. Trastuzumab dapat digunakan sendiri atau dengan kemoterapi (seperti paklitaksel), dengan penyekat hormon, atau dengan pertuzumab (obat anti-HER2 lainnya).

Inhibitor tirosin kinase (seperti lapatinib dan neratinib), jenis obat anti-HER2 lainnya, menghambat aktivitas HER2.

Dalam beberapa situasi, terapi radiasi dapat digunakan sebagai pengganti atau sebelum pengobatan. Misalnya, jika hanya satu area yang terdeteksi adanya kanker dan area tersebut berada di dalam tulang, maka radiasi ke tulang tersebut mungkin merupakan satu-satunya pengobatan yang digunakan. Terapi radiasi biasanya merupakan pengobatan yang paling efektif untuk kanker yang telah menyebar ke tulang, terkadang tetap dilakukan pemeriksaan selama bertahun-tahun. Ini juga sering menjadi pengobatan paling efektif untuk kanker yang telah menyebar ke otak.

Operasi dapat dilakukan untuk mengangkat tumor tunggal di bagian tubuh lainnya (seperti otak) karena operasi tersebut dapat meredakan gejala. Mastektomi (pengangkatan payudara) dapat dilakukan untuk membantu meredakan gejala. Tetapi tidak jelas apakah pengangkatan payudara membantu memperpanjang hidup ketika kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya dan telah diobati dan dikendalikan.

Bifosfonat (digunakan untuk mengobati osteoporosis), seperti pamidronat atau zoledronat, mengurangi nyeri tulang dan keropos tulang serta dapat mencegah atau menunda masalah tulang yang dapat terjadi ketika kanker menyebar ke tulang.

Tabel
Tabel

Pengobatan Jenis Kanker Payudara Tertentu

Untuk kanker payudara inflamasi, pengobatan biasanya terdiri dari kemoterapi dan terapi radiasi. Mastektomi biasanya dilakukan.

Untuk penyakit Paget payudara, pengobatan umumnya sama dengan jenis kanker payudara lainnya. Operasi ini sering kali melibatkan mastektomi sederhana atau operasi konservasi payudara plus pengangkatan kelenjar getah bening. Operasi konservasi payudara biasanya dilanjutkan dengan terapi radiasi. Jarang terjadi, hanya puting dengan beberapa jaringan normal di sekitarnya yang diangkat. Jika terdapat jenis kanker payudara lain, pengobatan didasarkan pada jenis kanker payudara tersebut.

Untuk tumor phyllodes, pengobatan biasanya terdiri dari pengangkatan tumor dan sejumlah besar jaringan normal di sekitarnya (setidaknya 1 sentimeter (0,4 inci) di sekitar tumor)—disebut margin lebar. Jika tumor berukuran besar dalam kaitannya dengan payudara, mastektomi sederhana dapat dilakukan untuk mengangkat tumor ditambah dengan margin yang lebar. Kambuh atau tidaknya tumor phyllodes bergantung pada seberapa lebar margin bebas tumor dan apakah tumor phyllodes bersifat nonkanker atau kanker. Tumor phyllodes yang bersifat kanker dapat bermetastasis ke tempat yang jauh, seperti paru-paru, tulang, atau otak. Rekomendasi untuk pengobatan tumor phyllodes metastasis terus dikembangkan, tetapi terapi radiasi dan kemoterapi mungkin berguna.

Pemeliharaan Kesuburan

Wanita tidak boleh hamil selama menjalani pengobatan kanker payudara.

Jika wanita ingin memiliki anak (mempertahankan kesuburan) setelah pengobatan, mereka dirujuk ke ahli endokrinologi reproduksi sebelum pengobatan dimulai. Para wanita ini kemudian dapat mengetahui tentang efek berbagai obat kemoterapi terhadap kesuburan dan tentang prosedur yang memungkinkan mereka untuk memiliki anak setelah pengobatan.

Pilihan untuk menjaga kesuburan termasuk teknik reproduksi berbantuan dengan stimulasi ovarium dan pembekuan telur atau embrio.

Pilihan prosedur yang akan digunakan untuk menjaga kesuburan bergantung pada hal berikut:

  • Jenis kanker payudara

  • Jenis pengobatan kanker payudara yang direncanakan

  • Preferensi wanita

Teknik reproduksi berbantuan melibatkan penggunaan obat hormonal. Dokter mendiskusikan risiko dan manfaat perawatan ini dengan wanita yang pernah menderita kanker dengan reseptor estrogen atau progesteron positif.

Perawatan Lanjutan

Setelah fase pertama pengobatan selesai, dilakukan pemeriksaan fisik lanjutan, termasuk pemeriksaan payudara, dada, leher, dan ketiak, biasanya dilakukan setiap tahun. Mamogram rutin dan pemeriksaan payudara mandiri juga penting. Wanita harus segera melaporkan gejala tertentu kepada dokter mereka:

  • Benjolan atau perubahan lainnya pada payudara mereka

  • Perubahan puting atau keluarnya cairan

  • Nyeri—misalnya di lengan atau tulang belakang

  • Pembengkakan di ketiak

  • Kehilangan nafsu makan atau penurunan berat badan

  • Nyeri dada

  • Batuk kering kronis

  • Perdarahan dari vagina (jika tidak terkait dengan periode menstruasi)

  • Sakit kepala parah

  • Penglihatan kabur

  • Pusing atau masalah keseimbangan

  • Kebas atau lemah

  • Gejala apa pun yang tampak tidak biasa atau yang menetap

Prosedur diagnostik, seperti rontgen dada, tes darah, pemindaian tulang, dan tomografi terkomputasi (computed tomography, CT), tidak diperlukan kecuali jika gejalanya menunjukkan bahwa kanker telah kambuh.

Efek pengobatan untuk kanker payudara menyebabkan banyak perubahan dalam kehidupan seorang wanita. Dukungan dari anggota keluarga dan teman dapat membantu, seperti halnya kelompok pendukung. Konseling dapat membantu.

Prognosis Kanker Payudara

Umumnya, prognosis wanita bergantung pada

  • Seberapa besar kankernya

  • Apa jenis kankernya

  • Apakah sudah menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lainnya

(Lihat juga Program Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) dari National Cancer Institute.)

Jumlah dan lokasi kelenjar getah bening yang mengandung sel kanker adalah salah satu faktor utama yang menentukan apakah kanker dapat disembuhkan dan, jika tidak, berapa lama wanita akan hidup.

Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk kanker payudara (persentase wanita yang hidup 5 tahun setelah diagnosis) adalah

  • 99% jika kanker tetap berada di lokasi asalnya (terlokalisasi)

  • 86% jika kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat tetapi tidak lebih jauh (regional)

  • 29% jika kanker telah menyebar ke tempat yang jauh (bermetastasis)

  • 58% jika evaluasi penuh belum dilakukan dan kanker belum ditentukan stadiumnya

Wanita dengan kanker payudara cenderung memiliki prognosis yang lebih buruk jika mereka mengalami salah satu dari hal berikut ini:

  • Diagnosis kanker payudara pada usia 20-an dan 30-an

  • Tumor yang lebih besar

  • Kanker yang memiliki sel-sel yang membelah dengan cepat, seperti tumor yang tidak memiliki batas-batas yang jelas atau kanker yang tersebar di seluruh payudara

  • Tumor yang tidak memiliki reseptor estrogen atau progesteron

  • Tumor yang memiliki terlalu banyak reseptor HER2

  • Mutasi gen BRCA1

Di Amerika Serikat, wanita kulit hitam non-Hispanik memiliki angka kematian yang lebih tinggi akibat kanker payudara dibandingkan wanita kulit putih non-Hispanik.

Memiliki mutasi gen BRCA2 mungkin tidak membuat hasil kanker saat ini menjadi lebih buruk. Akan tetapi, memiliki mutasi gen BRCA meningkatkan risiko terkena kanker payudara kedua.

Masalah Akhir Hayat pada Kanker Payudara

Bagi wanita dengan kanker payudara metastasis, kualitas hidup dapat memburuk, dan kemungkinan pengobatan lebih lanjut akan memperpanjang usia mungkin kecil. Tetap merasa nyaman pada akhirnya dapat menjadi lebih penting daripada mencoba memperpanjang usia.

Nyeri kanker dapat cukup terkendali dengan obat-obatan yang tepat. Jadi jika wanita mengalami nyeri, mereka harus meminta pengobatan kepada dokter untuk meredakannya. Pengobatan juga dapat meredakan gejala lain yang mengganggu, seperti konstipasi, kesulitan bernapas, dan mual.

Konseling psikologis dan spiritual juga dapat membantu.

Wanita yang mengalami kanker payudara metastatik harus menyiapkan arahan lanjutan yang disebut juga advance directives yang menunjukkan jenis perawatan yang mereka inginkan jika mereka tidak dapat lagi mengambil keputusan tersebut. Membuat atau memperbarui surat wasiat juga penting.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!