Sindrom Iritasi Usus Besar (Irritable Bowel Syndrome, IBS)

OlehZubair Malik, MD, Virtua Health System
Ditinjau OlehMinhhuyen Nguyen, MD, Fox Chase Cancer Center, Temple University
Ditinjau/Direvisi Apr 2024 | Dimodifikasi Nov 2025
v756654_id

Sindrom iritasi usus besar adalah gangguan saluran pencernaan yang menyebabkan nyeri perut berulang serta konstipasi atau diare.

  • Gejalanya bervariasi, tetapi sering kali meliputi nyeri perut bagian bawah, kembung, adanya gas, dan konstipasi atau diare.

  • Berbagai zat dan faktor emosional dapat memicu gejala sindrom iritasi usus besar.

  • Dokter biasanya mendiagnosis sindrom iritasi usus besar berdasarkan gejala, tetapi melakukan tes untuk mengesampingkan masalah lain.

  • Modifikasi diet dan obat-obatan biasanya dapat meredakan gejala spesifik.

Sindrom iritasi usus besar (IBS) banyak terjadi pada populasi umum. IBS adalah alasan umum orang mengunjungi dokter perawatan utama mereka.

IBS adalah gangguan gerakan usus, sensitivitas saraf usus, atau cara otak mengontrol beberapa fungsi ini. Akan tetapi, meskipun fungsi normalnya terganggu, tidak ada abnormalitas struktural yang dapat ditemukan dengan endoskop (slang pengamatan fleksibel), studi pencitraan, biopsi, atau tes darah. Oleh karena itu, IBS diidentifikasi oleh karakteristik gejala dan, jika dilakukan tes, hasilnya normal.

Penyebab Sindrom Iritasi Usus Besar

Penyebab IBS tidaklah jelas. Pada banyak orang dengan IBS, saluran pencernaan sangat sensitif terhadap rangsangan. Orang tersebut mungkin mengalami ketidaknyamanan yang disebabkan oleh gas di usus atau kontraksi yang bagi orang lain tidak dianggap menyusahkan. Meskipun perubahan buang air besar yang terjadi pada IBS mungkin tampaknya terkait dengan kontraksi usus yang tidak normal, tidak semua orang dengan IBS mengalami kontraksi abnormal, dan pada banyak orang yang mengalaminya, kontraksi abnormal tidak selalu bertepatan dengan gejala. Pada sebagian orang, gejala IBS dimulai setelah episode gastroenteritis.

Bagi sebagian orang, makanan tinggi kalori atau diet tinggi lemak mungkin menjadi pemicu.

Bagi orang lain, gandum, produk susu, kacang-kacangan, cokelat, kopi, teh, beberapa pemanis buatan, sayuran tertentu (seperti asparagus atau brokoli), atau buah yang memiliki biji di tengahnya (seperti aprikot) tampaknya memperburuk gejala. Makanan ini mengandung karbohidrat yang kurang diserap oleh usus halus. Karbohidrat tersebut difermentasi oleh bakteri di usus, yang menyebabkan gas, kembung, dan kram. Karena banyak produk makanan mengandung beberapa bahan, mungkin sulit untuk mengidentifikasi pemicu spesifik.

Orang lain mendapati bahwa makan terlalu cepat atau makan setelah terlalu lama tidak makan akan menstimulasi kekambuhan (peningkatan intensitas atau serangan). Namun, hubungan tersebut sering kali tidak konsisten.

Faktor emosional (misalnya, stres, kecemasan, depresi, dan ketakutan), penyakit karena virus, atau hormon dapat memicu atau memperburuk kekambuhan IBS.

Orang tersebut tidak selalu mengalami gejala setelah pemicu biasa, dan gejala sering kali muncul tanpa pemicu yang jelas. Tidak jelas bagaimana semua pemicu tersebut berkaitan untuk menyebabkan IBS.

Gejala Sindrom Iritasi Usus Besar

IBS cenderung dimulai pada masa remaja dan usia 20-an, menyebabkan peningkatan intensitas gejala yang datang dan pergi pada periode yang tidak teratur. Awal gejala IBS pada kehidupan dewasa akhir mungkin terjadi, tetapi kurang umum. Kekambuhan hampir selalu terjadi ketika orang tersebut terjaga dan kekambuhan tersebut jarang membangunkan orang tersebut dari tidurnya.

Gejala IBS meliputi nyeri perut yang terkait dengan atau berkurang dengan buang air besar (defekasi). Nyeri perut berhubungan dengan perubahan frekuensi feses (seperti konstipasi atau diare) atau konsistensi (lembek atau menggumpal dan keras). Rasa nyeri bisa datang dalam bentuk serangan nyeri tumpul atau kram yang terus-menerus, biasanya di perut bagian bawah. Gejala IBS juga dapat meliputi ekspansi perut (distensi), feses berlendir, dan sensasi pengosongan yang tidak sempurna setelah buang air besar.

Kembung, gas, mual, sakit kepala, kelelahan, depresi, kecemasan, nyeri otot, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi merupakan gejala lain yang mungkin terjadi.

Diagnosis Sindrom Iritasi Usus Besar

  • Evaluasi dokter didasarkan pada gejala orang tersebut

  • Beberapa tes laboratorium untuk mencari gangguan lain

Sebagian besar orang dengan IBS tampak sehat. Dokter mendasarkan diagnosis IBS pada karakteristik gejala orang tersebut. Dokter juga menggunakan kriteria standar berdasarkan gejala untuk mendiagnosis IBS yang disebut kriteria Rome. Dokter juga dapat melakukan tes untuk mendiagnosis penyakit umum yang dapat menyebabkan gejala serupa, terutama jika orang tersebut berusia di atas 45 tahun atau memiliki tanda peringatan, seperti penurunan berat badan, perdarahan rektum, atau lansia.

Dokter menggunakan kriteria Rome untuk mendiagnosis IBS pada orang yang pernah mengalami nyeri perut selama setidaknya 1 hari seminggu dalam 3 bulan terakhir bersama dengan 2 atau lebih dari yang hal berikut:

  • Nyeri terkait dengan buang air besar.

  • Nyeri berkaitan dengan perubahan frekuensi feses (konstipasi atau diare).

  • Nyeri dikaitkan dengan perubahan konsistensi feses.

Pemeriksaan fisik umumnya tidak mengungkapkan apa pun yang tidak biasa, kecuali terkadang nyeri tekan di atas usus besar. Dokter melakukan pemeriksaan rektal digital, di mana jari bersarung tangan dimasukkan ke dalam rektum orang tersebut. Pasien perempuan juga dapat menjalani pemeriksaan panggul.

Dokter biasanya melakukan beberapa tes, misalnya, tes darah, untuk membedakan IBS dari penyakit Crohn, kolitis ulseratif, kanker (terutama pada orang-orang yang berusia di atas 45 tahun), kolitis mikroskopis, penyakit celiac, serta penyakit dan infeksi lain yang dapat menyebabkan nyeri perut dan perubahan kebiasaan buang air besar. Hasil tes ini biasanya normal pada penderita IBS.

Dokter dapat melakukan tes lain, seperti ultrasound pada perut atau studi pencitraan lainnya terhadap usus, pada orang yang memiliki gejala yang tidak biasa untuk IBS, seperti demam, feses berdarah, penurunan berat badan, dan muntah. Kolonoskopi biasanya dilakukan pada orang yang berusia 45 tahun ke atas untuk mengesampingkan tumor atau polip di usus besar.

Gangguan saluran pencernaan lainnya (seperti radang usus buntu, penyakit kandung empedu, ulkus, dan kanker) dapat terjadi pada orang yang menderita IBS, terutama setelah usia 45 tahun. Dengan demikian, jika gejala seseorang berubah secara signifikan, jika gejala baru muncul, atau jika gejala tidak biasa untuk IBS, pengujian lebih lanjut mungkin diperlukan.

Karena gejala IBS dapat dipicu oleh stres dan konflik emosional, dokter mengajukan pertanyaan untuk membantu mengidentifikasi stres, kecemasan, atau gangguan suasana hati. Dokter juga mengajukan pertanyaan untuk mengesampingkan penyalahgunaan laksatif.

Pengobatan Sindrom Iritasi Usus

  • Mengonsumsi diet yang normal dan menghindari makanan yang menghasilkan gas dan diare

  • Meningkatkan asupan serat dan air untuk konstipasi

  • Terkadang, obat-obatan

Pengobatan IBS berbeda untuk setiap orang. Jika makanan atau jenis stres tertentu tampaknya memicu gejala, hal itu harus dihindari jika memungkinkan.

Bagi kebanyakan orang, terutama mereka yang cenderung mengalami konstipasi, aktivitas fisik rutin membantu menjaga saluran pencernaan tetap berfungsi secara normal.

Diet

(Untuk informasi lebih lanjut tentang diet dan IBS, lihat rekomendasi ini dari National Institute of Diabetes and Digestive Disease.)

Banyak orang membaik ketika memakan makanan dengan porsi lebih kecil dan sering dibandingkan memakan makanan dengan porsi lebih besar dan jarang (misalnya, 5 atau 6 kali makan makanan porsi kecil daripada 3 kali makan makanan porsi besar sehari). Orang tersebut harus mencoba memperlambat kecepatan makan mereka. Orang yang mengalami kembung dan peningkatan gas (flatulen) harus menghindari kacang-kacangan, kubis, dan makanan lain yang sulit dicerna.

Sebagian orang merasa gejala IBS mereka mereda dengan membatasi asupan makanan yang tinggi karbohidrat tertentu yang disebut oligosakarida, disakarida, monosakarida, dan poliol yang dapat difermentasi. Makanan ini secara bersama-sama disebut sebagai FODMAP. FODMAP adalah karbohidrat yang tidak diserap dengan baik dan difermentasi dengan cepat oleh bakteri di usus kecil, yang menyebabkan peningkatan gas dan ketidaknyamanan.

Sorbitol, pemanis buatan yang digunakan dalam beberapa makanan dan permen karet, tidak boleh dikonsumsi dalam jumlah besar. Fruktosa, gula yang ditemukan dalam buah-buahan, buah beri, dan beberapa tanaman, harus dimakan hanya dalam jumlah kecil. Orang yang menderita IBS dan tidak dapat mencerna laktosa gula (disebut intoleransi laktosa), yang ditemukan dalam susu dan produk susu lainnya, harus mengonsumsi produk susu secukupnya.

Orang tersebut dapat mencoba mengurangi asupan makanan yang disebutkan di atas satu per satu dan memperhatikan apakah gejalanya berubah, atau mereka dapat mencoba diet rendah FODMAP, yang membatasi semua makanan ini sekaligus. Jika perubahan dalam diet menyebabkan berkurangnya gejala, orang tersebut dapat secara bertahap memperkenalkan kembali makanan terlarang tersebut satu per satu dan memantau gejalanya.

Diet rendah lemak membantu sebagian orang, terutama mereka yang perutnya kosong terlalu lambat atau terlalu cepat.

Konstipasi sering kali dapat diatasi dengan mengonsumsi lebih banyak serat dan meminum lebih banyak air. Orang yang mengalami konstipasi dapat meminum suplemen psyllium mucilloid dengan 2 gelas air. Meningkatkan serat makanan dapat memperparah flatulen dan kembung. Kadang-kadang, flatulen tersebut dapat dikurangi dengan beralih ke sediaan serat sintetis (seperti metilselulosa atau psilium).

Obat-obatan

Pencahar tertentu cukup aman dan sering kali efektif bagi penderita dengan konstipasi. Pencahar tersebut mencakup pencahar yang mengandung polietilen glikol dan laksatif stimulan, seperti yang mengandung bisakodil atau gliserin. Pencahar yang diresepkan, lubiprostone, linaclotide, plecanatide, dan tenapanor juga dapat meredakan konstipasi. Prucalopride adalah obat lain yang memengaruhi motilitas usus dan dapat membantu orang yang mengalami konstipasi kronis.

Obat-obatan antikolinergik, seperti hiosiamin, kadang-kadang dapat meredakan nyeri perut dengan menghambat spasme otot usus. Meskipun demikian, obat-obatan ini sering menyebabkan efek samping antikolinergik (lihat bilah samping ), seperti mulut kering, penglihatan kabur, atau kesulitan buang air kecil.

Obat-obatan antidiare, seperti difenoksilat atau loperamid, membantu penderita dengan diare. Eluxadoline adalah obat lain yang dapat diberikan kepada beberapa orang yang mengalami diare parah yang disebabkan oleh IBS.

Antibiotik rifaximin dapat diresepkan untuk meredakan gejala diare, kembung, dan nyeri perut.

Alosetron kadang-kadang digunakan untuk diare pada perempuan lansia yang tidak mengalami perbaikan dengan dobat-obatan lainnya. Akan tetapi, alosetron telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kolitis iskemik, sehingga penggunaannya dibatasi di Amerika Serikat.

Antidepresan tertentu membantu meredakan gejala nyeri perut serta diare dan kembung pada banyak orang. Penggunaan jangka panjang antidepresan tertentu, seperti nortriptyline atau desipramine sering membantu. Antidepresan tidak hanya meredakan nyeri dan gejala lainnya, tetapi juga membantu meredakan masalah tidur dan depresi atau kecemasan.

Probiotik, yang merupakan bakteri alami yang ditemukan dalam tubuh yang mendorong pertumbuhan bakteri baik, dapat diberikan.

Minyak aromatik, seperti minyak pepermin, sering membantu meredakan rasa sakit yang disebabkan oleh kram pada sebagian orang.

Pengobatan lainnya

Teknik modifikasi perilaku (seperti terapi kognitif-perilaku), psikoterapi, dan hipnoterapi (hipnosis) dapat membantu beberapa orang yang menderita IBS.

Informasi Lebih Lanjut

Sumber daya berbahasa Inggris berikut ini mungkin berguna. Harap diperhatikan bahwa MANUAL ini tidak bertanggung jawab atas konten sumber daya ini.

  1. International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders (IFFGD): Education, assistance, and support for people affected by gastrointestinal (GI) disorders

  2. National Institutes of Health (NIH) atau Institut Kesehatan Nasional: Eating, diet (including FODMAP diet), and nutrition information for irritable bowel syndrome

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!