Serangan Seksual dan Pemerkosaan

OlehErin G. Clifton, PhD, University of Michigan;
Eve D Losman, MD, MHSA, University of Michigan School of Medicine
Ditinjau OlehOluwatosin Goje, MD, MSCR, Cleveland Clinic, Lerner College of Medicine of Case Western Reserve University
Ditinjau/Direvisi Mar 2024 | Dimodifikasi Apr 2024
v806787_id

Serangan seksual adalah segala jenis aktivitas atau kontak seksual yang tidak disetujui oleh seseorang. Serangan seksual, termasuk pemerkosaan, dapat menyebabkan cedera fisik atau penyakit atau trauma psikologis. Para penyintas harus dievaluasi untuk mengetahui ada tidaknya cedera, infeksi menular seksual, kehamilan, dan gangguan stres akut atau pascatrauma; mereka diminta untuk memberikan izin pemeriksaan oleh profesional untuk mengumpulkan bukti. Penanganannya termasuk pencegahan infeksi dan perawatan kesehatan mental.

  • Korban kekerasan seksual dapat mengalami luka pada alat kelamin atau anus, luka dan memar, emosi yang tidak menentu, dan insomnia.

  • Infeksi menular seksual seperti infeksi virus imunodefisiensi manusia (human immunodeficiency virus, HIV), dan kehamilan adalah beberapa risikonya.

  • Orang yang diperkosa harus diperiksa secara menyeluruh di sebuah institusi yang dikelola oleh orang-orang yang terlatih secara khusus (pusat pemulihan korban pemerkosaan).

  • Pengobatan cedera fisik, vaksinasi dan antibiotik untuk mencegah atau mengobati infeksi, kontrasepsi darurat, dan konseling atau psikoterapi sering kali dibutuhkan.

  • Jika memungkinkan, anggota keluarga dan teman dekat harus bertemu dengan anggota tim penanganan darurat pemerkosaan untuk mendiskusikan cara membantu korban pemerkosaan.

Pemerkosaan biasanya dianggap sebagai penetrasi vagina atau anus dengan bagian tubuh atau objek atau penetrasi mulut dengan organ seks orang lain tanpa persetujuan (disebut hubungan seksual nonkonsensual). Persetujuan tidak dapat diberikan oleh orang yang sedang tidak sadar (baik karena mabuk atau memiliki keterbatasan mental atau fisik). Bagi orang yang belum mencapai usia legal, penetrasi vagina, anus, atau mulut-baik diinginkan atau tanpa persetujuan–dianggap sebagai pemerkosaan (pemerkosaan berdasarkan undang-undang).

Biasanya, pemerkosaan merupakan ekspresi dari agresi, kemarahan, atau kebutuhan akan kekuasaan dan kontrol, bukan karena motivasi seksual. Banyak orang yang diperkosa juga dipukuli secara fisik dan/atau dilukai.

Serangan seksual adalah istilah yang bermakna lebih luas. Ini didefinisikan sebagai segala jenis aktivitas atau kontak seksual yang tidak disetujui oleh seseorang. Serangan seksual dapat mencakup pemaksaan dan ancaman untuk melakukan kontak seksual. Korban adalah orang yang tidak memberikan persetujuan atau tidak dapat memberikan persetujuan karena tidak berdaya.

Korban pemerkosaan dan serangan seksual bisa terjadi pada semua jenis kelamin. Namun, perempuan dan anak perempuan memiliki tingkat tertinggi untuk diperkosa dan mengalami serangan seksual. Di Amerika Serikat, perkiraan kejadian pemerkosaan seumur hidup adalah 19,3% pada wanita dan 1,7% pada pria. Persentase kasus yang dilaporkan mungkin lebih rendah dari persentase kasus yang sebenarnya terjadi.

Gejala dan Dampak Pemerkosaan dan Serangan Seksual

Gejala dan komplikasi pemerkosaan dan serangan seksual dapat meliputi

Cedera fisik akibat pemerkosaan dapat berupa cedera pada anus atau alat kelamin (seperti robekan pada bagian atas vagina), dan cedera pada bagian tubuh lainnya (seperti memar, mata bengkak, luka, dan goresan). Pemerkosaan juga dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan fisik.

Dampak psikologis dari serangan seksual atau pemerkosaan sering kali lebih parah daripada dampak fisiknya.

Dampak yang langsung muncul

Segera setelah mengalami kekerasan seksual, korban bisa menjadi banyak bicara, tegang, menangis, dan gemetar, kaget dan syok, hingga tidak menunjukkan emosi dan terdiam. Kurangnya emosi jarang mengindikasikan kurangnya kepedulian. Padahal sebaliknya, ini mungkin merupakan cara korban agar tidak memikirkan apa yang telah terjadi atau untuk menjaga agar emosinya tetap terkendali. Atau korban mungkin menunjukkan sedikit emosi atau tidak sama sekali karena kelelahan fisik atau mati rasa secara emosional.

Korban serangan seksual biasanya juga merasa takut, cemas, dan mudah tersinggung. Mereka mungkin merasa marah, tertekan, dipermalukan, malu, atau bersalah (bertanya-tanya apakah mereka telah melakukan sesuatu yang memicu pemerkosaan atau dapat melakukan sesuatu untuk menghindarinya). Kemarahan mereka mungkin ditujukan pada diri mereka sendiri atau ditujukan secara keliru kepada staf rumah sakit atau anggota keluarga.

Sering terjadi korban mengalami sulit tidur dan mimpi buruk.

Korban dapat mengalami gejala stres (disebut gangguan stres akut). Gangguan stres akut dapat didiagnosis ketika gejala-gejalanya muncul selama 3 hari hingga 1 bulan setelah insiden pemerkosaan. Korban mungkin tidak dapat mengingat bagian-bagian penting dari peristiwa tersebut. Hilangnya ingatan ini (disebut amnesia disosiatif) merupakan gejala dari gangguan stres akut atau gangguan stres pascatrauma.

Gangguan stres pascatrauma

Bagi sebagian besar korban, gejala-gejala berkurang secara bertahap selama beberapa bulan.

Beberapa korban mengalami gangguan stres pascatrauma (posttraumatic stress disorder, PTSD). Hal ini didiagnosis ketika gejala-gejala PTSD menunjukkan hal-hal berikut ini:

  • Berlanjut selama lebih dari satu bulan

  • Secara signifikan mengganggu kegiatan sosial dan pekerjaan korban

  • Tidak disebabkan oleh masalah medis atau penggunaan narkoba lainnya

Gejala PTSD meliputi

  • Merasakan kembali trauma (misalnya, seperti kilas balik atau pikiran atau gambaran yang mengganggu dan meresahkan)

  • Menghindari situasi, pikiran, dan perasaan yang berkaitan dengan trauma

  • Memiliki gangguan dalam berpikir dan mengontrol suasana hati (seperti merasa bertanggung jawab atas kejadian itu atau tidak dapat memiliki perasaan positif)

  • Tidak dapat mengingat bagian-bagian penting dari acara tersebut

  • Terlalu waspada terhadap tanda-tanda bahaya dan mudah terkejut

  • Merasa sangat tegang, gelisah, atau mudah marah dan sulit merasa rileks

  • Kesulitan berkonsentrasi dan tidak bisa tidur

Banyak korban yang mengalami PTSD juga mengalami depresi dan/atau gangguan kesehatan mental lainnya, seperti gangguan penggunaan narkoba.

Risiko infeksi atau kehamilan

Setelah insiden pemerkosaan, terdapat risiko infeksi, seperti infeksi menular seksual (seperti gonore, trikomoniasis, klamidia, infeksi papilomavirus manusia, dan sifilis), hepatitis B, hepatitis C, dan vaginosis bakteri. Infeksi virus imunodefisiensi manusia (human immunodeficiency virus, HIV) merupakan masalah yang harus diwaspadai, tetapi peluang tertularnya virus ini dalam satu kali pertemuan sangat kecil.

Seorang perempuan juga dapat hamil setelah diperkosa.

Evaluasi Pemerkosaan dan Serangan Seksual

  • Pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan panggul

  • Jika korban setuju, akan dilakukan tes untuk mengumpulkan bukti dan memeriksa adanya infeksi menular seksual

  • Tes kehamilan

Jika seseorang telah menjadi korban pemerkosaan, penting untuk melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh. Jika memungkinkan, orang yang telah diperkosa atau diserang secara seksual akan dibawa ke pusat penanganan serangan seksual yang dikelola oleh tenaga medis terlatih, seperti perawat khusus pemeriksaan korban serangan seksual (Sexual Assault Nurse Examiners, SANE). Fasilitas ini dapat berupa unit gawat darurat rumah sakit atau fasilitas terpisah. Beberapa daerah memiliki tim penanganan serangan seksual (sexual assault response team, SART), yang terdiri dari orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan, forensik, pusat penanganan darurat korban pemerkosaan setempat, penegak hukum, dan kejaksaan.

Tim penanganan serangan seksual menjelaskan prosedur (pemeriksaan fisik dan tes lainnya) untuk mengumpulkan bukti yang dapat memungkinkan penuntutan secara hukum, dan agar korban memutuskan apakah akan menyetujui tuntutan itu atau tidak. Keuntungan dan kerugian dari tuntutan tersebut akan dijelaskan. Korban tidak boleh merasa tertekan untuk memberikan persetujuan.

Jika korban memilih untuk melanjutkan tuntutan, para tenaga kesehatan profesional diwajibkan oleh hukum untuk memberi tahu polisi dan memeriksa korban. Pemeriksaan tersebut bertujuan memberikan bukti untuk penuntutan terhadap pelaku. Bukti terbaik diperoleh ketika korban pemerkosaan pergi ke rumah sakit sesegera mungkin, tanpa mandi atau mencuci, tanpa menyikat gigi, tanpa memotong kuku, tanpa berganti pakaian, dan, jika memungkinkan, bahkan tanpa buang air kecil. Rekam medis dari pemeriksaan ini terkadang digunakan sebagai bukti dalam proses pengadilan. Namun, rekam medis tidak dapat dipublikasikan tanpa persetujuan dari korban secara tertulis atau ada surat perintah pengadilan. Rekam medis tersebut juga dapat membantu korban mengingat kembali detail pemerkosaan jika kesaksian korban diperlukan di kemudian hari.

Segera setelah pemerkosaan terjadi, korban mungkin ragu atau takut untuk menjalani pemeriksaan fisik. Petugas kesehatan melakukan segala cara untuk membuat korban merasa nyaman dan aman.

Sebelum melakukan langkah-langkah pemeriksaan, petugas kesehatan akan menjelaskan apa yang akan dilakukan dan meminta izin kepada korban untuk melanjutkan pemeriksaan. Korban harus merasa bebas untuk mengajukan pertanyaan apa pun tentang pemeriksaan yang dilakukan dan tujuannya. Korban juga harus merasa bebas untuk menolak bagian mana pun dari pemeriksaan tersebut.

Petugas kesehatan biasanya meminta korban untuk menjelaskan kejadian yang dialaminya untuk membantu memandu pemeriksaan dan pengobatan. Namun, membicarakan pemerkosaan sering kali menakutkan dan membuat tertekan. Korban dapat meminta untuk memberikan keterangan lengkap setelah situasi yang membutuhkan tindakan cepat telah teratasi. Korban mungkin perlu dirawat terlebih dahulu karena cedera dan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Jika korban sudah merasa mampu memberi keterangan, dokter akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada korban tentang pemerkosaan seperti berikut ini:

  • Bagian tubuh mana yang terlibat (vagina, mulut, dan/atau anus)?

  • Apakah terjadi ejakulasi (keluarnya air mani)?

  • Apakah kondom digunakan?

  • Apakah pelaku mengancam, menggunakan senjata, atau berperilaku kasar?

  • Seperti apa penampilan pelakunya?

Untuk mengetahui kemungkinan terjadinya kehamilan, dokter akan menanyakan kepada korban tersebut kapan menstruasi terakhirnya dan apakah ia menggunakan alat kontrasepsi. Untuk membantu menafsirkan analisis sampel sperma, dokter akan menanyakan apakah korban baru saja melakukan hubungan seks sebelum pemerkosaan dan, jika ya, kapan.

Dokter akan mencatat cedera fisik, seperti luka dan goresan, serta memeriksa alat kelamin dan anus untuk mengetahui adanya cedera. Cedera-cedera yang terjadi akan difoto. Mengingat sebagian cedera, seperti memar, baru terlihat jelas di kemudian hari, maka, rangkaian foto kedua mungkin akan diambil setelahnya. Kolposkopi dapat dilakukan untuk memeriksa ada tidaknya cedera pada alat kelamin yang tidak terlalu terlihat. Saat kolposkopi, vagina dan leher rahim dan/atau anus diperiksa menggunakan alat pembesar.

Pemeriksaan dan pengumpulan bukti

Swab digunakan untuk mengambil sampel air mani dan cairan tubuh lainnya sebagai bukti. Sampel lain, seperti sampel rambut, darah, atau kulit pelaku (kadang-kadang ditemukan di bawah kuku korban), akan diambil. Terkadang tes DNA dari sampel dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku. Beberapa pakaian korban akan disimpan sebagai bukti.

Jika korban setuju, tes darah dan urine akan dilakukan untuk memeriksa adanya infeksi, termasuk infeksi HIV.

Jika hasil tes awal untuk kehamilan dan infeksi menular seksual negatif atau jika korban menolak pengobatan untuk infeksi menular seksual, korban akan dites lagi:

  • Dalam 1 minggu: Gonore, klamidia, dan trikomoniasis

  • Dalam 2 minggu: Kehamilan

  • Dalam 4 sampai 6 minggu: Infeksi sifilis dan HIV

  • Dalam 3 bulan: Sifilis, hepatitis, dan infeksi HIV

Pada korban perempuan, tes Papanicalaou (Pap) dilakukan untuk memeriksa infeksi human papillomavirus (HPV) setelah 6 minggu.

Biasanya, tes kehamilan untuk mengukur kadar gonadotropin korionik manusia dalam urine dilakukan selama pemeriksaan awal pada korban untuk mendeteksi ada tidaknya kehamilan sebelum insiden terjadi. Jika hasilnya negatif, tes akan diulang dalam 2 minggu untuk memeriksa ada tidaknya kehamilan yang mungkin terjadi akibat pemerkosaan.

Jika korban tidak dapat mengingat kejadian di sekitar waktu terjadinya pemerkosaan, dokter dapat memeriksa bukti bahwa obat pemerkosaan seperti flunitrazepam, yang merupakan benzodiazepin, atau gamma hidroksibutirat, yang merupakan obat terlarang, digunakan oleh pelaku. Pemeriksaan ada tidaknya obat-obatan terlarang dan alkohol merupakan hal yang kontroversial karena bukti penggunaannya dapat digunakan untuk menyudutkan korban.

Jika robekan pada vagina sangat parah, terutama pada anak-anak, mungkin akan dilakukan laparoskopi. Untuk laparoskopi, sebuah slang fleksibel berkamera dimasukkan ke dalam vagina atau organ lain sehingga dapat diperiksa secara langsung.

Penanganan Korban Pemerkosaan dan Serangan Seksual

  • Pengobatan cedera fisik

  • Obat-obatan dan terkadang vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi, termasuk infeksi HIV

  • Kontrasepsi darurat jika korban tersebut membutuhkannya

  • Dukungan atau intervensi psikologis

Setelah pemeriksaan, korban akan diberikan fasilitas untuk mandi, berganti pakaian, menggunakan obat kumur, serta buang air kecil dan buang air besar jika diperlukan.

Semua cedera fisik akan diobati. Robekan pada alat kelamin atau anus mungkin perlu diperbaiki melalui pembedahan.

Gangguan stres pascatrauma dapat diobati secara efektif dengan psikoterapi dan obat-obatan.

Memberikan dukungan psikologis

Tenaga kesehatan profesional akan menjelaskan reaksi psikologis yang biasanya terjadi setelah serangan seksual (seperti kecemasan atau ketakutan atau rasa bersalah yang berlebihan) kepada korban. Hal ini dapat membantu korban menerima dan menangani reaksi mereka. Para dokter juga meyakinkan para korban bahwa serangan itu bukan kesalahan mereka dan memberikan dukungan secara menyeluruh.

Sesegera mungkin, seseorang yang terlatih dalam penanganan kasus pemerkosaan akan menemui korban. Korban dirujuk ke tim penanganan kasus pemerkosaan jika ada di daerah tersebut. Tim ini dapat memberikan dukungan medis, psikologis, dan hukum yang akan sangat membantu korban. Bagi para korban, berbicara tentang insiden pemerkosaan dan perasaan mereka tentang hal itu dapat membantu mereka pulih.

Jika korban terus mengalami gejala-gejala tertentu setelah insiden pemerkosaan, mereka dapat dirujuk ke psikolog, pekerja sosial, atau psikiater.

Anggota keluarga dan teman mungkin memiliki perasaan yang sama dengan korban: cemas, marah, atau merasa bersalah. Mereka mungkin secara tidak sadar menyalahkan korban. Jadi, selain perasaan mereka sendiri, korban pemerkosaan mungkin harus menghadapi reaksi negatif, yang terkadang menghakimi atau reaksi negatif lainnya dari anggota keluarga dan teman, atau orang sekitar. Reaksi ini dapat mengganggu pemulihan. Anggota keluarga atau teman dekat dapat mengambil kesempatan dari pertemuan dengan anggota tim penanganan kasus pemerkosaan atau unit pemeriksaan serangan seksual untuk membahas perasaan mereka dan bagaimana mereka dapat membantu korban. Biasanya, mendengarkan dengan penuh dukungan kepada korban dan tidak mengekspresikan perasaan yang berlebihan tentang penyerangan tersebut akan sangat membantu. Menyalahkan atau mengkritik korban juga dapat mengganggu pemulihan.

Kelompok pendukung yang terdiri dari para profesional kesehatan, teman, dan anggota keluarga akan sangat membantu korban.

Mencegah atau mengobati infeksi

Infeksi menular seksual diobati dengan antibiotik.

Korban yang belum divaksinasi hepatitis B akan diberikan vaksin hepatitis B, diikuti dengan dua dosis berikutnya, yaitu 1 bulan dan 6 bulan setelah dosis pertama.

Vaksin HPV akan diberikan setelah insiden pemerkosaan pada korban yang berusia 9 sampai 26 tahun jika korban belum divaksin atau tidak divaksinasi secara lengkap.

Jika hasil tes HIV positif, korban mungkin telah terinfeksi HIV sebelum insiden pemerkosaan karena infeksi HIV yang didapat melalui hubungan seksual biasanya tidak dapat dideteksi 9 hari hingga 6 bulan kemudian. Jika hasil tes HIV positif, pengobatan HIV harus dimulai secepat mungkin.

Jika hasil tes HIV negatif, tes HIV akan diulang beberapa kali selama beberapa bulan ke depan.

Obat-obatan untuk mencegah infeksi HIV dapat diberikan kepada korban. Secara rata-rata, kemungkinan terkena infeksi HIV setelah pemerkosaan dari penyerang yang tidak dikenal adalah rendah. Risiko akan jadi lebih tinggi jika salah satu hal berikut ini terjadi:

  • Penetrasi anal

  • Perdarahan (dari pelaku atau korban)

  • Pemerkosaan pria oleh pria

  • Pemerkosaan oleh beberapa pelaku (seperti yang mungkin terjadi pada laki-laki di penjara)

  • Pemerkosaan yang terjadi di daerah di mana infeksi HIV sangat sering terjadi

Penanganan untuk mencegah infeksi HIV paling efektif jika dimulai dalam waktu 4 jam setelah penetrasi dan tidak boleh diberikan jika sudah lebih dari 72 jam berlalu sejak penetrasi.

Mencegah kehamilan

Kontrasepsi darurat akan diberikan jika korban menginginkannya dan dan hasil tes kehamilannya negatif. Biasanya, ini terdiri dari obat hormonal dosis tinggi yang harus segera diminum, kemudian akan kembali diminum 12 jam kemudian.

Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dalam waktu 5 hari setelah insiden pemerkosaan juga efektif untuk mencegah kehamilan.

Jika kehamilan terjadi akibat pemerkosaan, dokter akan mendiskusikan pada korban tentang beberapa pilihan, termasuk mempertahankan kehamilan atau menggugurkan kandungan.

Informasi Lebih Lanjut

Referensi berbahasa Inggris berikut ini mungkin akan berguna. Harap diperhatikan bahwa MANUAL ini tidak bertanggung jawab atas konten referensi ini.

  1. U.S. Department of Veteran Affairs: National Center for posttraumatic stress disorder (PTSD): Situs web ini menyediakan tautan ke informasi umum tentang PTSD, jenis-jenis trauma, dan masalah-masalah yang dapat diakibatkan oleh PTSD, seperti nyeri kronis, depresi, dan kesulitan tidur.

  2. RAINN (Rape, Abuse & Incest National Network): RAINN menyediakan sumber daya dan layanan dukungan krisis melalui situs web mereka dan Hotline Telepon Kekerasan Seksual Nasional di (800) 656-HOPE (4673)

  3. National Sexual Violence Resource Center (NSVRC): NSVRC menyediakan penelitian dan alat bantu bagi para advokat yang bekerja untuk mengakhiri pelecehan, penyerangan, dan kekerasan seksual.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!