Sistem Organ

OlehAlexandra Villa-Forte, MD, MPH, Cleveland Clinic
Ditinjau OlehMichael R. Wasserman, MD, California Association of Long Term Care Medicine (CALTCM)
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Feb 2025
v711159_id

Meskipun setiap organ memiliki fungsi spesifik, organ juga berfungsi bersama secara berkelompok, yang disebut sistem organ (lihat tabel ). Dokter menggolongkan gangguan dan spesialisasi medisnya berdasarkan sistem organ.

Beberapa contoh sistem organ dan fungsinya meliputi sistem pencernaan, sistem kardiovaskular, dan sistem muskuloskeletal.

Sistem pencernaan (atau gastrointestinal), yang membentang dari mulut ke anus, bertanggung jawab untuk menerima dan mencerna makanan dan mengeluarkan limbah. Sistem ini tidak hanya mencakup lambung, usus halus, dan usus besar, yang menggerakkan dan menyerap makanan, tetapi juga organ terkait seperti pankreas, hati, dan kandung empedu, yang menghasilkan enzim pencernaan, menghilangkan toksin, dan menyimpan zat yang diperlukan untuk pencernaan.

Sistem kardiovaskular mencakup jantung (kardio) dan pembuluh darah (vaskular). Sistem kardiovaskular bertanggung jawab untuk memompa dan mengedarkan darah.

Sistem muskuloskeletal mencakup tulang, otot, ligamen, tendon, dan sendi, yang menopang dan menggerakkan tubuh.

Tabel
Tabel

Sistem organ bekerja sama

Sistem organ sering kali bekerja sama untuk melakukan tugas yang rumit. Misalnya, setelah makan dalam porsi besar, beberapa sistem organ bekerja sama untuk membantu sistem pencernaan agar mendapatkan lebih banyak darah untuk menjalankan fungsinya. Sistem pencernaan meminta bantuan dari sistem kardiovaskular dan sistem saraf. Pembuluh darah pada sistem pencernaan melebar untuk mengangkut lebih banyak darah. Impuls saraf dikirim ke otak, memberitahukan adanya peningkatan aktivitas pencernaan. Sistem pencernaan bahkan menstimulasi jantung secara langsung melalui impuls saraf dan bahan kimia yang dilepaskan ke aliran darah. Jantung merespons dengan memompa lebih banyak darah. Otak merespons dengan mengurangi rasa lapar, lebih kenyang, dan kurang tertarik pada aktivitas fisik (sistem muskuloskeletal) yang kuat, sehingga lebih banyak darah yang digunakan oleh sistem pencernaan, bukan oleh otot rangka.

Komunikasi antara organ dan sistem organ sangat penting. Komunikasi tersebut memungkinkan tubuh menyesuaikan fungsi masing-masing organ sesuai kebutuhan seluruh tubuh. Dalam contoh di atas, jantung perlu mengetahui kapan organ pencernaan membutuhkan lebih banyak darah sehingga dapat memompa lebih banyak. Ketika jantung mengetahui bahwa tubuh sedang beristirahat, jantung dapat memompa lebih sedikit darah. Ginjal harus mengetahui kapan tubuh mengalami terlalu banyak cairan, sehingga dapat menghasilkan lebih banyak urine, dan kapan tubuh mengalami dehidrasi, sehingga dapat mempertahankan air.

Homeostasis adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cara tubuh mempertahankan komposisi dan fungsi normalnya. Karena sistem organ saling berkomunikasi, tubuh mampu mempertahankan jumlah cairan dan zat internal yang stabil. Selain itu, organ-organ tersebut tidak akan kurang kerja atau kelebihan kerja, dan setiap organ memfasilitasi fungsi setiap organ lainnya.

Komunikasi untuk mempertahankan homeostasis terjadi melalui sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Komunikasi tersebut dilakukan oleh bahan kimia khusus yang disebut transmiter.

Sistem saraf otonom sebagian besar mengontrol jaringan komunikasi kompleks yang mengatur fungsi tubuh. Bagian dari sistem saraf ini berfungsi tanpa dipikirkan dan tanpa indikasi yang jelas bahwa sistem tersebut bekerja. Transmiter yang disebut neurotransmiter mengirimkan pesan antar bagian-bagian sistem saraf dan antara sistem saraf dan organ lainnya.

Sistem endokrin terdiri atas berbagai kelenjar yang menghasilkan transmiter kimia yang disebut hormon. Hormon-hormon bergerak ke organ-organ lain melalui aliran darah dan mengatur fungsi organ-organ tersebut. Misalnya, kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengontrol laju metabolisme (kecepatan fungsi kimia tubuh bekerja). Pankreas menghasilkan insulin, yang mengontrol penggunaan gula oleh tubuh.

Salah satu transmiter yang paling dikenal adalah hormon epinefrin (adrenalin). Ketika seseorang tiba-tiba stres atau ketakutan, otak langsung mengirimkan pesan ke kelenjar adrenal, yang dengan cepat melepaskan epinefrin. Dalam sekejap, bahan kimia ini membuat seluruh tubuh waspada, respons yang terkadang disebut respons bertarung-atau-kabur. Jantung berdetak lebih cepat dan kuat, mata melebar agar lebih banyak cahaya masuk, pernapasan menjadi cepat, dan aktivitas sistem pencernaan menurun sehingga lebih banyak darah yang masuk ke otot. Efeknya cepat dan kuat.

Komunikasi kimia lainnya tidak terlalu drastis tetapi sama efektifnya. Misalnya, ketika tubuh mengalami dehidrasi dan membutuhkan lebih banyak air, volume darah yang beredar melalui sistem kardiovaskular menurun. Penurunan volume darah ini dirasakan oleh reseptor pada pembuluh arteri di leher. Mereka merespons dengan mengirimkan impuls melalui saraf ke kelenjar pituitari, di dasar otak, yang kemudian menghasilkan hormon antidiuretik. Hormon ini memberi sinyal pada ginjal untuk memekatkan urine dan menyimpan lebih banyak air. Secara bersamaan, otak merasakan haus, sehingga merangsang seseorang untuk minum.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!