Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis

OlehVictor E. Ortega, MD, PhD, Mayo Clinic;
Manuel Izquierdo, DO, Wake Forest Baptist Health
Ditinjau OlehRichard K. Albert, MD, Department of Medicine, University of Colorado Denver - Anschutz Medical
Ditinjau/Direvisi Mar 2022 | Dimodifikasi Sept 2022
v727356_id

Allergic bronchopulmonary aspergillosis adalah reaksi paru alergi terhadap sejenis jamur (paling umum Aspergillus fumigatus) yang terjadi pada beberapa orang penderita asma atau fibrosis kistik.

  • Orang dapat batuk dan mengi, dan kadang-kadang mereka mengalami demam atau batuk bercak darah.

  • Dokter menggunakan foto rontgen dada, tes darah, dan tes kulit untuk membuat diagnosis.

  • Obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan asma, terutama kortikosteroid, biasanya diberikan.

  • Meskipun pengobatan berhasil, gejalanya dapat kambuh secara berkala.

  • Jika tidak terkendali, kerusakan paru kronis dapat terjadi.

Jamur Aspergillus fumigatus tumbuh subur di tanah, tumbuhan yang membusuk, makanan, debu, dan air. Beberapa orang yang menghirup jamur tersebut bisa menjadi sensitif dan mengalami reaksi alergi kronis. Jamur lainnya, termasuk Penicillium, Kandida, Curvularia, dan Helminthosporium, dapat menyebabkan penyakit yang identik. Pada beberapa orang, efek reaksi alergi dikombinasikan dengan efek jamur untuk merusak saluran napas dan paru-paru.

Allergic bronchopulmonary aspergillosis berbeda dari pneumonia. Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, dan sebagian besar jamur. Sebaliknya, pada allergic bronchopulmonary aspergillosis, jamur tidak benar-benar menyerang jaringan paru-paru dan menghancurkannya secara langsung. Jamur mengolonisasi mukus dalam saluran napas penderita asma atau fibrosis kistik (keduanya cenderung mengalami peningkatan jumlah mukus) dan menyebabkan inflamasi alergi berulang di paru-paru. Kantong udara kecil paru-paru (alveoli) menjadi penuh terutama dengan eosinofil (sejenis sel darah putih). Peningkatan jumlah sel penghasil lendir juga dapat terjadi. Jika penyakit ini telah menyebabkan kerusakan parah, inflamasi dapat menyebabkan saluran napas sentral melebar secara permanen, suatu kondisi yang disebut bronkiektasis. Lama kelamaan, paru-paru akan cenderung mengalami jaringan parut.

Bentuk aspergillosis lainnya dapat terjadi. Aspergillus dapat menyerang paru-paru dan menyebabkan pneumonia serius pada penderita gangguan sistem imun. Kondisi ini merupakan infeksi, bukan reaksi alergi. Aspergillus juga dapat membentuk bola jamur (aspergillomas) pada rongga dan kista paru-paru yang rusak oleh penyakit lain, seperti tuberkulosis, dan perdarahan berat dapat terjadi.

Gejala

Indikasi pertama dari allergic bronchopulmonary aspergillosis biasanya adalah gejala-gejala seperti mengi, batuk, dan sesak napas, dan demam ringan. Gejalanya cenderung makin parah, kecuali demam. Orang tersebut biasanya merasa tidak enak badan. Nafsu makan berkurang Bercak kecokelatan atau gumpalan bisa terlihat pada dahak yang dikeluarkan.

Diagnosis

  • Rontgen dada atau CT

  • Pemeriksaan sampel dahak

  • Tes darah

Dokter dapat memutuskan untuk mencari allergic bronchopulmonary aspergillosis pada penderita asma atau fibrosis kistik yang sering mengalami serangan asma.

Rontgen dada yang berulang menunjukkan area yang tampak seperti pneumonia, tetapi area tersebut tampaknya tetap ada atau berpindah ke bagian paru-paru yang baru, paling sering di bagian atas. Pada penderita allergic bronchopulmonary aspergillosis jangka panjang, rontgen dada atau tomografi terkomputasi (CT) dapat menunjukkan adanya pelebaran saluran napas, yang sering kali tersumbat dengan lendir.

Jamur itu sendiri, bersama dengan eosinofil berlebih, dapat terlihat saat sampel dahak diperiksa di bawah mikroskop.

Tes darah mengungkapkan kadar eosinofil dan antibodi yang tinggi terhadap Aspergillus. Kadar imunoglobulin E (antibodi) dalam darah juga diukur karena peningkatan kadar IgE sering menunjukkan respons alergi.

Tes kulit dapat menentukan apakah orang tersebut alergi terhadap Aspergillus, tetapi tes tersebut tidak membedakan antara allergic bronchopulmonary aspergillosis dan alergi sederhana terhadap Aspergillus. Alergi sederhana terhadap Aspergillus dapat terjadi pada penderita asma.

Pengobatan

  • Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati asma

  • Terkadang obat antijamur

Karena Aspergillus ada di banyak tempat di lingkungan ini, jamur ini sulit untuk dihindari. Obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan asma, terutama kortikosteroid, digunakan untuk mengobati allergic bronchopulmonary aspergillosis (lihat tabel Obat-obatan yang Digunakan untuk Mengobati Asma).

Obat-obatan (bronkodilator) dapat digunakan untuk membuka saluran napas, mempermudah pengeluaran gumpalan lendir dan membersihkan jamur. Kortikosteroid prednison, yang awalnya diminum dalam dosis tinggi, kemudian dalam dosis lebih rendah dalam jangka panjang, dapat mencegah kerusakan paru-paru yang semakin parah. Sebagian besar spesialis merekomendasikan kortikosteroid oral. Kortikosteroid hirup belum terbukti bekerja dengan baik untuk kondisi ini.

Obat antijamur itrakonazol kadang digunakan selain kortikosteroid untuk membantu menghilangkan jamur dari paru-paru.

Karena kerusakan paru-paru dapat memburuk secara bertahap tanpa menyebabkan perubahan nyata pada gejala, foto rontgen dada, pengujian fungsi paru, kadar eosinofil dalam darah, dan jumlah antibodi IgE dipantau secara teratur. Saat penyakit ini dikendalikan, kadar eosinofil dan antibodi biasanya turun, tetapi dapat meningkat lagi sebagai tanda awal meluasnya penyakit ini.

Pengobatannya meliputi pengelolaan asma atau fibrosis kistik seseorang dengan cermat. Selain itu, karena penggunaan kortikosteroid dalam waktu yang lama dapat meningkatkan risiko katarak, diabetes, dan osteoporosis, dokter memantau dengan cermat orang-orang yang menderita allergic bronchopulmonary aspergillosis yang membutuhkan kortikosteroid dalam waktu yang lama.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!