Disfungsi Seksual Selama Kehamilan dan Pascapartum

OlehAllison Conn, MD, Baylor College of Medicine, Texas Children's Pavilion for Women;
Kelly R. Hodges, MD, Baylor College of Medicine, Texas Children's Pavilion for Women
Ditinjau OlehOluwatosin Goje, MD, MSCR, Cleveland Clinic, Lerner College of Medicine of Case Western Reserve University
Ditinjau/Direvisi Jul 2023 | Dimodifikasi Mar 2024
v54887310_id

Beberapa faktor (fisik dan emosional) terkait dengan kehamilan dan kelahiran dapat membuat disfungsi seksual lebih mungkin terjadi.

Faktor risiko disfungsi seksual pascapartum dan terkait kehamilan meliputi:

  • Trauma saat melahirkan: Melahirkan sesar atau melahirkan dengan forsep atau ekstraktor vakum, episiotomi, atau robekan di area antara pembukaan vagina dan anus (perineum) dapat membuat area yang ada di dekat bukaan vagina terasa nyeri dan menurunkan minat seksual dan kemampuan untuk bergairah.

  • Menyusui: Mengingat kadar estrogen rendah selama menyusui, vagina dapat menjadi kering, membuat hubungan seksual menjadi tidak nyaman. Dapat menyebabkan nyeri genito-pelvik/gangguan penetrasi.

  • Tekanan psikologis dan sosial: Perubahan peran dan hubungan dalam keluarga, gangguan tidur, masalah kesehatan bayi baru lahir, dan/atau penambahan berat badan dapat meningkatkan stres.

  • Depresi Postpartum: Depresi dapat menyebabkan disfungsi seksual.

  • Kekerasan terhadap pasangan intim: Kehamilan meningkatkan risiko kekerasan terhadap pasangan (fisik, psikologis, dan seksual). Kekerasan dalam hubungan seperti itu dapat merusak kepercayaan diri wanita, mengurangi harga dirinya, dan menyebabkan depresi, gangguan stres pascatrauma, gangguan psikologis lainnya, dan disfungsi seksual.

Jika disfungsi seksual, apa pun jenisnya, terjadi sebelum kehamilan, disfungsi seksual setelah kehamilan cenderung terjadi.

Dokter mengenali disfungsi seksual pascapartum atau terkait kehamilan ketika seorang wanita melaporkan masalah yang terkait dengan hubungan seksual selama atau segera setelah kehamilan.

Pengobatan disfungsi seksual pascapartum dan terkait kehamilan serupa dengan pengobatan disfungsi seksual wanita lainnya. Misalnya, terapi psikologis dan pembelajaran tentang bagaimana tubuh wanita tersebut berubah selama dan setelah kehamilan dapat membantu, seperti apakah hubungan seksual aman selama kehamilan dan posisi mana yang mungkin lebih nyaman (misalnya, berdampingan). Dokter dapat menyarankan jenis aktivitas seksual selain penetrasi vagina, seperti masturbasi, pijat, seks oral, foreplay, saling membelai, berciuman, fantasi, penggunaan mainan seks, dan berpelukan.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!