Pengaruh Tidak Langsung terhadap Kesehatan pada Lansia

OlehRichard G. Stefanacci, DO, MGH, MBA, Thomas Jefferson University, Jefferson College of Population Health
Ditinjau OlehMichael R. Wasserman, MD, California Association of Long Term Care Medicine (CALTCM)
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Apr 2024
v838647_id

Keadaan yang mungkin tampak tidak terkait dengan kesehatan dapat memengaruhi kesehatan lansia.

(Lihat juga Gambaran Umum Penuaan dan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan.)

Hubungan sosial

Lansia yang tetap menjalin kontak sosial, baik dengan pasangan, teman, atau melalui aktivitas minat di luar rumah, memiliki lebih sedikit masalah kesehatan. Sebagai contoh, lansia yang sudah menikah atau yang tinggal dengan teman sekamar cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik daripada mereka yang tinggal sendiri. Lansia yang tinggal bersama seseorang juga memiliki tingkat rawat inap dan masuk panti jompo yang lebih rendah daripada mereka yang hidup sendiri.

Ketika lansia hidup sendiri, kurang interaksi sosial, atau keduanya, adanya masalah dan gejala baru mungkin tidak dilaporkan karena tidak ada yang memperhatikan. Lansia ini mungkin tidak memiliki siapa pun untuk membantu mereka meminum obat sesuai petunjuk. Mereka mungkin tidak bisa menyiapkan dan memakan makanan seimbang karena gangguan fisik, karena mereka kesepian, atau karena mereka tidak dapat mengemudi atau berjalan ke toko bahan makanan. Selain itu, lansia yang hidup sendiri cenderung merasa kesepian dan depresi.

Terkadang, tinggal bersama kerabat atau orang lain menimbulkan masalah. Lansia dapat menyembunyikan atau meminimalkan masalah kesehatan karena mereka tidak ingin menyusahkan atau mengganggu kerabat. Jika ada anggota rumah tangga yang tidak puas dengan pengaturan tempat tinggalnya, lansia dapat diabaikan atau diperlakukan dengan buruk (secara psikologis atau bahkan fisik).

Edukasi

Pada orang-orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, gangguan cenderung terdeteksi lebih awal, dan hasil kesehatan cenderung lebih baik, bahkan ketika gangguan tidak terdeteksi secara dini.

Keuangan

Di Amerika Serikat, kemiskinan lebih banyak terjadi di kalangan lansia daripada populasi umum, meskipun ada bantuan keuangan yang diberikan oleh Medicare, Jaminan Sosial, dan Medicaid. Medicare Part D (program obat resep), telah membuat biaya pengobatan lebih mudah dikelola terutama bagi lansia dengan pendapatan rendah. Namun demikian, terlepas dari program-program ini, beberapa lansia masih memiliki pengeluaran sendiri yang signifikan, sehingga sulit untuk membiayai perawatan kesehatan. Ketika lansia kesulitan membiayai perawatan kesehatan, gangguan yang seharusnya dapat diobati sering kali kurang diobati atau tidak diobati sama sekali atau baru diobati pada tahap akhir.

Tahukah Anda...

  • Orang dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik dan hidup lebih lama.

Respons terhadap perubahan terkait usia

Lansia mungkin mengalami kesulitan menghadapi banyak perubahan yang terjadi seiring penuaan, seperti pensiun, kehilangan orang yang dicintai, dan berkembangnya gangguan. Saat menghadapi kondisi itu, lansia mungkin merasa kesepian, tidak berguna, tidak berdaya, atau sedih. Mereka mungkin kehilangan harga diri. Mereka mungkin khawatir akan menjadi beban bagi keluarga mereka. Mereka dapat mengalami depresi, terutama jika mereka memiliki gangguan yang menyebabkan hilangnya kemandirian yang bersifat sementara atau permanen atau ketika mereka melihat teman dan orang yang mereka cintai meninggal dunia. Perasaan ini dapat membuat lansia cenderung enggan menemui tenaga kesehatan profesional, sehingga dapat menunda diagnosis gangguan serius. Namun, penelitian menunjukkan bahwa lansia mengatasi tantangan ini dengan lebih baik daripada orang dewasa yang lebih muda.

Perubahan terkait usia dan cara lansia meresponsnya dapat membuat gangguan pengobatan pada lansia semakin rumit. Oleh karena itu, lansia sering kali mendapatkan manfaat dari perawatan interdisipliner—perawatan yang diberikan oleh tim tenaga kesehatan profesional yang bekerja sama. Tim ini dapat terdiri dari dokter, perawat, pekerja sosial, terapis, apoteker, dan psikolog. Tim perawatan mengevaluasi kebutuhan dan rencana orang tersebut, mengoordinasi, dan menerapkan perawatan, termasuk layanan sosial. Anggota tim secara aktif mencari kemungkinan masalah dan mengambil tindakan untuk mengatasi atau mencegahnya.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!