Stenosis Laringotrakea

OlehHayley L. Born, MD, MS, Columbia University
Ditinjau OlehLawrence R. Lustig, MD, Columbia University Medical Center and New York Presbyterian Hospital
Ditinjau/Direvisi Dimodifikasi Jul 2025
v101986108_id

Stenosis laringotrakea mengacu pada penyempitan saluran napas yang memengaruhi laring (kotak suara) dan trakea (batang tenggorokan). Seseorang dapat dilahirkan dengan kondisi ini, tetapi stenosis laringotrakea juga dapat disebabkan oleh penyakit tertentu, terjadi sebagai akibat dari perawatan medis, atau terjadi tanpa penyebab yang jelas.

Stenosis laringotrakea mengacu pada penyempitan bagian-bagian saluran napas atas. Penyakit ini dapat disebabkan oleh penyakit sistemik seperti granulomatosis disertai poliangiitis, polikondritis kambuhan, atau amiloidosis. Kondisi ini juga dapat disebabkan secara tidak sengaja oleh dokter atau perawatan medis (misalnya, intubasi yang berkepanjangan), atau setelah cedera langsung pada saluran napas. Beberapa orang (terutama wanita kulit putih) dapat mengalami stenosis laringotrakea tanpa adanya penyebab yang dapat diidentifikasi.

Gejala Stenosis Laringotrakea

Gejala stenosis laringotrakea bergantung pada seberapa parah penyempitan yang terjadi dan termasuk sesak napas (dispnea), suara bernada tinggi yang terjadi saat bernapas melalui saluran napas yang menyempit (stridor), dan batuk.

Suara mungkin terdengar lemah, serak, atau tidak normal. Nyeri telan dapat memengaruhi mulut, tenggorokan, atau esofagus. Orang dengan penyempitan ringan pada saluran napas mungkin tidak mengalami gejala sama sekali.

Diagnosis Stenosis Laringotrakea

  • Evaluasi dokter (terutama laring dan trakea)

  • Terkadang dilakukan tes darah

  • Terkadang tes fungsi paru

  • Terkadang dilakukan pencitraan CT

Dokter menilai tingkat distres orang tersebut, termasuk tingkat stridor, yang dapat menunjukkan seberapa parah penyempitan saluran napas tersebut. Seseorang yang menunjukkan tanda-tanda distres berat mungkin memerlukan perawatan darurat, termasuk prosedur yang disebut trakeostomi, dengan membuat bukaan di trakea [batang tenggorokan] untuk lebih memudahkan pernapasan.

tes laboratorium dilakukan untuk menentukan apakah stenosis laringotrakea disebabkan oleh penyakit sistemik, terutama gangguan autoimun.

Tes fungsi paru berguna untuk mengarakterisasi tingkat penyempitan dan memantau perkembangannya. Stenosis laringotrakea sering terlewatkan atau salah didiagnosis sebagai asma dengan beberapa pengecualian utama:

  • Gejala biasanya memburuk seiring waktu.

  • Gejala tidak merespons bronkodilator, yang digunakan untuk mengobati asma.

  • Namun demikian, steroid (terkadang disebut juga sebagai kortikosteroid atau glukokortikoid) yang digunakan untuk mengatasi asma dapat meredakan dan mempersulit diagnosis.

Evaluasi endoskopik adalah cara terbaik untuk mendiagnosis dan memantau stenosis laringotrakea. Tindakan ini dapat dilakukan di tempat praktik dokter dengan menggunakan bronkoskopi fleksibel atau di ruang operasi dengan laringoskopi langsung dan bronkoskopi. Pendekatan ini juga memungkinkan biopsi jaringan, sehingga dapat membantu dokter mengidentifikasi penyebab sistemik apa pun.

Pencitraan CT dapat bermanfaat untuk mengarakterisasi tingkat stenosis dan menilai jaringan dan struktur mana yang terlibat. Biasanya dilakukan sebelum rekonstruksi bedah.

Pengobatan Stenosis Laringotrakea

  • Penatalaksanaan medis

  • Prosedur di tempat praktik dokter (pemantauan endoskopik)

  • Intervensi endoskopik

  • Bedah saluran napas terbuka

Jika stenosis disebabkan oleh penyakit sistemik, penatalaksanaan dokter terhadap penyakit yang mendasarinya juga dapat memperbaiki kondisi stenosis. Dalam kasus lain, obat-obatan diresepkan untuk mengurangi peradangan atau jaringan parut. Obat-obatan ini dapat mencakup, bergantung pada penyebabnya, obat-obatan refluks, steroid inhalasi atau oral, antibiotik, dan pengobatan saline yang dinebulasi. Obat-obatan lain dapat diberikan selama pembedahan untuk meningkatkan hasil klinis.

Prosedur yang dilakukan di tempat praktik dokter bergantung pada prosedur yang disebut endoskopi, yang menggunakan alat scope serat optik fleksibel untuk memvisualisasikan dan memantau penyakit pada orang dengan stenosis laringotrakea. Intervensi endoskopi dapat mencakup penggunaan dilator kaku dan balon untuk membuka saluran napas yang menyempit, laser dan krioterapi (suhu beku yang ditargetkan diterapkan untuk menghilangkan jaringan yang terpengaruh) dan kadang-kadang cangkok untuk merekonstruksi jaringan yang diobati. Produk obat dapat disuntikkan pada saat prosedur untuk menurunkan tingkat stenosis ulang. Pengobatan ini biasanya dilakukan dengan anestesi umum.

Pembedahan, termasuk rekonstruksi area stenotik, sering dipertimbangkan untuk mengobati stenosis saluran napas. Dalam beberapa kasus, prosedur yang disebut trakeostomi dapat dilakukan untuk mem-bypass area stenotik dan memudahkan pernapasan. Apakah trakeostomi tersebut bersifat sementara (dibiarkan tetap terpasang sementara orang yang bersangkutan menjalani intervensi lain, sesudahnya baru dilepas) atau permanen bergantung pada tingkat stenosis saluran napas dan faktor lainnya.

Uji Pengetahuan Anda
Uji Pengetahuan AndaTake a Quiz!