Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan tulang menurun dan tulang melemah, sehingga kemungkinan terjadi keretakan (patah).
Osteoporosis pada anak-anak dapat bersifat primer atau sekunder. Osteoporosis primer terjadi secara spontan. Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit kronis, obat-obatan, ketidakaktifan atau imobilitas yang berlebihan, atau gizi buruk.
Osteoporosis remaja idiopatik adalah bentuk osteoporosis yang jarang terjadi yang didiagnosis ketika anak dengan fungsi hormon normal mengalami fraktur kerapuhan dan kepadatan tulang yang rendah tetapi tidak memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi.
Gejala Osteoporosis pada Anak-anak
Gejala pada anak-anak termasuk peningkatan risiko fraktur, terutama tulang panjang di tungkai dan lengan serta tulang belakang. Fraktur akibat keropos adalah fraktur yang terjadi akibat beban atau terjatuh yang relatif ringan, seperti jatuh dari posisi berdiri, termasuk jatuh dari tempat tidur, yang biasanya tidak akan menyebabkan fraktur pada tulang yang sehat.
Anak-anak juga dapat mengalami nyeri tulang atau nyeri punggung. Anak-anak yang terkena dampak juga mungkin tidak dapat bergerak sebanyak yang dilakukan oleh atau aktif secara fisik seperti anak-anak yang tidak menderita osteoporosis.
Diagnosis Osteoporosis pada Anak-anak
Pemindaian absorptiometri sinar-x energi ganda (DXA)
Riwayat fraktur
Dokter melakukan pemindaian DXA untuk menentukan apakah kepadatan tulang anak rendah. Pemindaian DXA mengambil sinar-x berenergi tinggi dan rendah pada tulang belakang dan pinggul, yang merupakan lokasi di mana fraktur besar kemungkinan terjadi. Perbedaan antara pemindaian sinar-x energi tinggi dan rendah ini yang membantu dokter menghitung kepadatan tulang. Hasilnya dilaporkan sebagai skor-Z, yang membandingkan kepadatan tulang anak dengan kepadatan anak sehat dari jenis kelamin dan usia yang sama. Semakin rendah kepadatan tulang, semakin rendah skor Z. Skor-Z –2,0 atau lebih rendah menunjukkan kepadatan tulang yang rendah.
Dokter juga mempertimbangkan riwayat fraktur anak. Misalnya, anak yang telah mengalami 3 atau lebih fraktur tulang lengan atau tungkai pada usia 19 tahun bisa jadi mengalami osteoporosis.
Pengobatan Osteoporosis pada Anak-Anak
Nutrisi dan suplemen
Aktivitas fisik
Bisfosfonat
Pengobatan pada anak-anak biasanya dimulai dengan nutrisi. Anak-anak perlu mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D dalam diet mereka (lihat tabel ). Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup nutrisi ini dalam diet mereka dapat diberi suplemen.
Aktivitas fisik dan latihan menahan berat badan (seperti berjalan) membantu memperkuat tulang dan meningkatkan kepadatan tulang.
Pengobatan juga mencakup obat-obatan yang disebut bisfosfonat. Obat-obatan ini mengurangi keropos tulang dan mengurangi risiko fraktur.
